NAGAHOKI

NAGAHOKI

Friday, 29 July 2016

CERITA MISTERI KISAH NYATA DI SALAH SATU KAMAR DI AMERIKA YANG AKU SINGGAHI

Kisah misteri - Beberapa tahun terakhir aku menjadi seorang volunteer di salah satu kegiatan sosial. Kebetulan, baru-baru ini aku diutus oleh mereka untuk terbang ke Amerika Serikat buat menghadiri sebuah konferensi.



Sampai di hotel, aku nggak punya firasat apa-apa, apalagi karena hotel tersebut berada di kawasan Disney Land. Saat aku sampai di hotel tersebut siang hari, kebetulan aku belum bisa masuk ke kamar karena mereka bilang kamarku sedang dibersihkan.

Sekitar 15 menit menunggu, aku pun akhirnya dipersilakan buat masuk ke kamarku. Meski nggak merasakan hal aneh, tapi saat aku masuk, keran di kamar mandiku masih menyala. Kupikir itu karena petugasnya lupa mematikan keran tersebut.

Malamnya, setelah aku pulang dari dinner di luar bersama pihak penyelenggara, aku pun memutuskan buat beristirahat di kamar. Sayangnya, istirahatku agak terganggu karena suara berisik dari kamar sebelah. Nah, kebetulan kamarku itu punya connecting door dengan kamar berisik tersebut. Aku sempat melihat cahaya dari bawah pintu dan kupikir mereka lagi merayakan sebuah pesta. Bahkan aku curiga anak-anak dari kamar sebelah tersebut sempat menjahili pintuku dengan memainkan handle pintu dan mengetok-ngetok connecting door tersebut.

Karena merasa terganggu dengan keributan mereka, aku pun memutuskan untuk mengetok connecting door dan memberitahu mereka kalau aku merasa agak terganggu dengan keributan tersebut karena membuatku jadi nggak bisa beristirahat. Untungnya, nggak lama setelah itu, aku pun bisa beristirahat.

Karena penasaran, esok paginya aku bertanya ke resepsionis tentang kamar sebelah itu. Waktu aku mendengar jawabannya, aku shock banget karena petugas resepsionis itu bilang dari kemarin siang kamar tersebut kosong dan nggak ada satu orang pun yang menginap di kamar.

Tuesday, 19 July 2016

BERTEMAN DENGAN MAKHLUK GAIB

Cerita Misteri - Siapa yang tak merinding mendengar kata makhluk gaib? Pasti hampir semua orang yang mendengarnya akan merasa seram dan merinding. Namun berbeda dengan kisah cerita misteri nyata dengan judul berkawan dengan makhluk gaib di bawah ini yang akan menceritakan persahabatan antara manusia dengan makluk halus. Seperti apa awal mula kisah ini bisa terjadi? Simak selengkapnya di bawah ini.

Prayogi, salah seorang remaja berusia 12 tahun terkenal sebagai anak yang kerap bertingkah aneh. Bahkan sejak kecil anggota keluarganya sempat dibuat kalang kabut akan ulahnya yang kerap menghilang dari rumah tanpa sebab. Menurut penuturan salah satu kerabatnya Prayoga memiliki indera ke-6 dan mampu berkomunikasi dengan makhluk astral alias Gaib. Bahkan putra bungsu dari pasangan Wildan dan Ratmi itu mengaku mampu melihat dan meneropong masa depan seseorang.


Tak banyak yang dapat menceritakan awal mula cerita misteri nyata yang dialami oleh Prayogi kecuali dirinya dan orang tuanya sendiri. Masih menurut penuturan salah satu kerabatnya sekitar usia 9 bulan Prayoga mengalami demam yang teramat tinggi. Kedua orang tuanya telah berusaha membawa Prayoga berobat ke beberapa bidan hingga dokter spesial anak namun semuanya berakhir nihil.

Hampir setiap menjelang malam sejak mentara diujung barat Prayoga kecil mulai menangis keras tak terhentikan. Bahkan tangisannya akan semakin menjadi bila mana ia tak segera diajak keluar rumah. Iba dan kasihan melihat derita sang buah hati akhirnya Nyai Ratmi memutuskan untuk mendatangi sesepuh di kampung sebelah yang terkenal memiliki kemampuan kanuragan yang super duper ampuh.

Inilah awal dari cerita misteri yang semakin jelas dialami oleh Prayogi. Mbah Dipo seorang praktisi ilmu supranaturan yang didatangi Nyai Ratmi menuturkan jika sang buah hati mengalami gangguan dari makhluk tak kasap mata. Ada dua orang anak lelaki yang senantiasa menggoda serta mengajaknya untuk bermain-main tambah Mbah Dipo. Setelah Nyai Ratmi meminta bantuan serta solusi terbaik untuk bayinya tersebut akhirnya Mbah Dipo memberikan sebuah kalung yang didalamnya disinyalir berupa rajah serta beberapa rempah yang telah mendapatkan jampe-jampe.

Semenjak memakaikan kalung pemberian Mbah Dipo perlahan kondisi Prayogi kecil semakin membaik. Bahkan tak lagi ia mengalami kejang dan panas menggigil seperti beberapa minggu yang lalu. Legana Nyai Ratmi dan suami melihat anak bungsu mereka semakin membaik hingga Prayoga kembali mengalami keanehan di usianya yang menginjak 7 tahun.

Layaknya anak usia 7 tahun yang lagi seneng-senengnnya bermain dengan bocah sejawat Prayogi kerap keluar rumah dan bermain bersama Vicki yang tak lain adalah tetangga dekatnya. Keakraban keduanya sangat terlihat setiap membeli jajanan mereka berusaha saling berbagi dari masing-masing jajanan mereka.

Sebuah peristiwa yang tak dinyana dan tak disangaka-sangka terjadi pada diri Prayoga yang tengah bermain bersama Vicki. Menurut pengakuan Vicki Prayogi hilang ketika bermain petak umpet di kebun belakang rumah sejak sore tadi. Anehnya ketika maghrib menjelang dan ayah Prayogi mencarinya di kebun belakang rumah Prayogi masih asyik bermain dan berlarian tanpa seorang kawan. Bahkan ketika sang ayah menariknya dan mengajaknya pulang Prayogi sempat terlihat melambaikan tangannya dan berpamitan seolah ia sedang bermain bersama seseorang.

Semenjak saat itu Prayogi semakin terlihat aneh dan mengaku jika dia berteman dengan makhluk gaib dan mengatakan jika hanya dia sendiri yang bisa melihatnya. Bahkan belakangan Prayogi juga mengaku bisa melihat atau menerawang kejadian yang akan datang. Hal itu sempat ia buktikan di akhir tahun 2013 dimana usianya masih 10 tahun. Dia sempat mengatakan ke ibunya jika akan terjadi sebuah kecelakaan kereta api. Awalnya Nyai Ratmi tak menghiraukan perkataan dari putranya tersebut namun betapa terkejutnya selang 2 hari dirinya mendengar berita jika telah terjadi kecelakaan kereta api di Bintaro dan memakan banyak korban.

Hingga saat ini Prayogi yang tengah duduk di kelas 5 SD semakin menunjukan keanehannya serta semakin meyakinkan jika dirinya memang benar-benar berkawan dengan makluk gaib. Demikian kisah Prayogi dalam cerita misteri nyata berkawan dengan makhluk gaib semoga dapat menghibur kita semua.

Sunday, 17 July 2016

CINCIN DARI GENDERUWO

Selama ini Tomi tak menyangka kalau rumah tua yang dilewatinya tiap malam sepulang kerja ternyata merupakan rumah angker yang menyimpan beribu misteri. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan pengalaman yang tak bisa dihilangkan dari ingatannya hingga hari ini.

Sebagai pegawai pabrik sablon, bagi Tomi dan kawan-kawannya sudah bukan merupakan hal yang aneh kalau tiap hari harus kerja lembur mengerjakan pesanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam dan setelah itu pulang ke rumah yang jaraknya lumayan jauh.

Seperti hari itu. Tomi diminta lembur oleh bosnya karena sedang banyak pekerjaan. Dengan senang hati Tomi mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa tersa hari menjelng tengah malam. Tomi berhasil menyelesaikan pekerjaaanya dan bergegas pulang setelah memasukkan semua pesanan untuk besok ke dalam bungkusan. Dikayuhnya sepeda tua peninggalan orang tuanya dengan pelan.

Sepanjang jalan yang dilewatinya terasa gelap, rupanya listrik di daerah tersebut padam. Dengan pelan sepeda tua tersebut berjalan menembus kegelapan malam. Sebetulnya hati Tomi sudah merasa tidak enak. Jalanan yang gelap ditambah suasana jalan yang sepi membuatnya miris. Tetapi rasa lelah karena seharian bekerja membuat tekadnya untuk pulang dan segera tidur semakin kuat.

Tiba di tikungan, Tomi tanpa sengaja melihat rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Perasaannya menjadi tidak enak. Aneh mengapa hatiku berdebar-debar, gumam Tomi.

Seperti ada yang menyuruh, Tomi malah menghentikan sepedanya. Rasa takut yang mencekamnya membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan kaki yang bertopang pada sandaran sepeda. Tomi mencoba memberanikan dirinya untuk menatap rumah tua yang ada di depannya. Jantungnya semakin berdebar-debar.

Apa aku lebih baik kembali dan tidur di gudang saja ya? tanya hati Tomi penuh rasa bimbang. Dia juga heran mengapa dirinya tidak segera beranjak dari tempat itu. Sebaliknya, kakinya justru melangkah mendekati rumah tua itu. Tomi merasakan ada kekuatan gaib yang menariknya untuk terus mendekat ke rumah itu.

Perasaan hatinya yang semakin kacau menjadi semakin tidak karuan waktu dilihatnya sesosok bayangan tampak berkelebat ke luar dari arah pintu pagar rumah kosong tersebut.

Dengan kaki yang gemetar karena ketakutan melihat bayangan tersebut. Tomi berusaha membalikkan sepedanya untuk berputar kembali.

Belum selesai ia  mengangkat roda sepedanya untuk berputar terdengan suara memanggilnya. “Mas…!” suara parau terdengar menyapanya.

Dengan memberanikan diri Tomi yang sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu menatap ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut keluar dari seorang pria paroh baya berpakaian hitam dengan sarung membelit lehernya. Bayangan tersebut bergerak mendekatinya sambil mengarahkan lampu senter menyoroti Tomi beserta sepedanya.

Melihat sosok laki-laki beserta lampu senter yang menyorotinya, hati Tomi merasa lega. Bayangan yang dikiranya hantu tersebut ternyata merupakan manusia.

“Ada apa Pak?” kata Tomi balik bertanya.

Laki-laki bersarung tersebut tersenyum, sementara lampu senter di tangannya tampak digoyang-goyang. “Saya Basori, penjaga rumah tua ini,” laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Tomi. Tangan kanannya yang juga besar-besar memegang stang sepeda Tomi. “Kalau boleh saya ingin numpang sampai pohon beringin di pojok desa. Mau mengambil bekal makanan untuk menjaga di rumah tua ini.”

Tomi menatap heran tanda tak mengerti. “Saya tadi lupa membawa bekal. Ketinggalan di rumah” Basori meneruskan ucapannya yang terpotong.

“Boleh..boleh” Tomi langsung mengiyakan karena merasa gembira ada teman.

Tak lama kemudian Basori membonceng di sepeda Tomi. “Busyet. Berat banget ini orang,” kata Tomi dalam hati sambil tetap mengayuh sepedanya.

Di perjalanan lampu listrik yang padam tetap belum menyala. Tapi dengan adanya lampu senter yang dibawa Basori, jalanan yang gelap menjadi agak terang.

“Sudah, sini saja Mas,” Basori berkata kepada Tomi, ia menepuk bahu Tomi memberi isyarat agar berhenti. Tomi kemudian menghentikan sepeda.

“Rumah saya ada di balik gerumbulan pohon itu,” Basori menunjuk ke  arah pepohonan di balik tikungan jalan.

Tomi hanya bisa menatap gerumbulan pohon yang ada.

Basori kemudian memasukkan senternya pada saku jaket Tomi “Senternya buat Mas saja. Buat kenang- kenangan.”

Tomi hanya bisa mengucap terima kasih. Ditatapnya laki-laki paroh baya  bernama Basori yang melangkah melewati gerumbulan pohon yang ada. Tampak laki-laki itu menoleh. Namun wajah pria paroh baya itu kini berubah menjadi makhluk tinggi besar penuh bulu yang menutupi seluruh tubuhnya.

Tomi yang melihat hal tersebut hanya bisa berteriak minta tolong sambil mengayuh sepedanya sejauh mungkin. Sesampai di rumah diambilnya senter milik genderuwo yang mengaku bernama Basori tersebut dari sakunya. Senter itu ternyata telah berubah menjadi sebuah batu akik. Tomi sebetulnya merasa takut dan teringat akan genderuwo yang menakut-nakutinya sebelum ini. Tapi selanjutnya ia berpikir tentu batu akik ini bukan sembarangan karena milik genderuwo. Pasti mempunyai khasiat.

Keesokan harinya dipakainya cincin tersebut bekerja. Entah pengaruh cincin yang dipakainya atau bukan. Tumpukan kain yang akan disablonnya menjadi terasa ringan. Pekerjaan yang semestinya harus diselesaikannya dalam beberapa jam mampu diselesaikannya dalam setengah jam. Bahkan yang menakjubkan tumpukan bahan sablon dalam kaleng mampu diangkatnya hanya dengan satu tangan.

“Rupanya cincin ini benar-benar berkhasiat,” dengan bangga Tomi mengelus-elus cincin tersebut.

Ternyata khasiat cincin genderuwo bukan itu saja. Di warung Mbak Ira tempatnya makan siang kalau bekerja, cincin genderuwo itu juga mempunyai khasiat yang lain. Rina anak gadis Mbak Ira yang selama ini selalu cuek kalau digoda para pria, tiba-tiba menjadi genit pada Tomi. Dengan kerling mata yang nakal mengarah ke Tomi gadis itu tampak dengan sibuk meladeni Tomi makan. Selama ini jangankan melayani, menoleh saja ia tidak mau. Berkali-kali Tomi mengelus akiknya . Ia seolah-olah mendapat durian runtuh dengan memiliki cincin genderuwo tersebut. Bayangan tubuh Rina yang bahenol seakan-akan menari di benaknya. Ia sudah membayangkan malam ini akan meniduri tubuh Rina yang montok, daripada meniduri tubuh istrinya yang sudah mulai kendor .

Seminggu sudah Tomi memiliki cincin genderuwo tersebut. Di malam Jumat setelah capek setelah seharian bekerja Tomi terlelap di ruang tamu. Sementara istrinya tidur di kamar sendiri. Tanpa terasa semalam suntuk ia telah  tidur dengan nyenyaknya.  Paginya setelah bangun dengan  wajah sumringah sang istri menghidangkan kopi .

”Mas tadi malam lain lho. Kuat sekali. Aku sampai berkali-kali,” celoteh istri Tomi dengan genitnya.

Mendengar ucapan sang istri, Tomi merasa terkejut. Didesaknya sekali lagi istrinya. Kepalanya serasa berputar-putar manakala istrinya bercerita kalau semalam telah berhubungan badan dengan Tomi dan merasa puas sekali. Tidak biasanya Tomi menjadi begitu perkasa di ranjang.

“Genderuwo keparat!!!!” teriak Tomi setelah mendengar cerita tersebut. Sang istri hanya melongo tanda tak mengerti. Tomi mencaci maki membayangkan apa yang telah dilakukan genderuwo tersebut sewaktu ia tertidur dengan nyenyaknya. Dengan bergegas ia mengayunkan sepedanya ke rumah tua tempat ia bertemu genderuwo seminggu sebelumnya.

Dilemparkannya cincin tersebut ke arah rumah tua tersebut. Cincin yang terlempar itu langsung lenyap masuk kedalam halaman rumah kosong. Ternyata cincin genderuwo itu membawa korban. Si genderuwo pemilik cincin berubah bentuk menjadi Tomi dan menyetubuhi istrinya. Sebagai makhluk halus, genderuwo memang bisa berubah bentuk. Bagaimanapun juga genderuwo adalah setan.***

Friday, 15 July 2016

ISTRIKU SELINGKUH DENGAN JIN TOMANG

Cerita Misteri - Langit tiba-tiba seakan runtuh dan bumi terasa terpecah saat aku mengetahui bahwa istriku, Sarah, 42 tahun, mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Timur. Sarah menuntut cerai mendadak dan tergesa-gesa. Kenapa? Pertanyaan ini betubi-tubi menggebuki pikiranku, kenapa dan mengapa istriku yang lembut, yang baik, yang selama ini sangat sayang kepadaku juga pada anak-anak itu tiba-tiba menuntut cerai padaku. Padahal setelah kuingat-ingat dan kuteliti ulang, bahwa aku tidak bersalah sama sekali padanya. Mungkinkah Sarah punya pria idaman lain. Mungkinkah Sarah jatuh cinta lagi secara diam-diam dan jauh dari pemantauanku selama ini?




“Tidak, tidak ada pria idaman lain dan tidak ada laki-laki lain di dalam hidup saya. Tapi saya tidak nyaman lagi bersamamu, saya tidak senang lagi menjadi istrimu dan aku harus berpisah darimu dan hidup sendiri, entah di mana. Kuasailah rumah ini dan usruslah anak-anak dengan baik, aku akan pergi dan jangan kau cari ke mana dan di mana aku nanti!” desis Sarah, serius.

Karena tak tahu apa salah da apa masalahnya hingga istriku berubah total, aku segera mendatangi seorang psikolog beken Martha Pegagan untuk mencari tahu apa sebab sifat manusia tiba-tiba berubah. Analisa psikolog Martha Pegagan pun bertubi-tubi meluncur kepadaku. Tapi semua analisanya itu tidak masuk sama sekali ke dalam pikiranku. Sebab semua yang dikatakannya, tidak sesuai dengan kenyataan yang kuhadapi di diri Sarah. Sementara itu, Sarah yang kupaksa utnuk datang ke Martha Pegagan, bersikeras menolak. Dia tidak mau sama sekali bersamaku ke psikolog yang praktek di rumah sakit Dwipayana itu. “Tidak, tidak perlu kau bawa aku ke dokter. Apalagi ke seorang psikolog. Buat apa, buat apa? Secara medis maupun secara psikologis aku sehat kok, tidak ada penyakit pada diriku. Tuntutanku hanya satu, aku mau cerai denganmu, aku mau pergi dari rumah dan mencari kehdiupan baru yang iasa membuat hidupku menjadi nyaman. Ya, Cuma satau yang aku tuntut, kenyamanan, ketenangan dan ketentraman hidup. Nah, tiga hal itu tadi, saat ini sudah tidak aku dapatkan lagi darimu, dari rumah ini!” desisnya, pedas.

“Sarah, katakanlah, hal apa yang membuat kau tidak nyaman, tidak tenteram dan tidak tenang. Bila hal itu karena kesalahanku, mari kita bermusyawarah, kita bermufakat bersama. Bila ada hal yang kau yakini arena kesalahanku, aku minta maaf kepadamu. Aku akan merubahnya dan aku akan mengalah untuk mu. Pokoknya, yang penting janganlah kita bercerai. Kasihanilah anak-anak Sarah. Anak-anak masih kecil dan sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu!” pintaku, berlutut kepadanya.

Jangankan mau memenuhi permintaanku, malah Sarah mendorongku hingga tubuhku terjatuh. Dia sama sekali menolak permintaanku bahkan dengan kasar meludahiku. Duh Gusti, batinku, setan apa yang merasuk ke diri istriku ini sehingga dia berubah total seperti ini? “Sarah, kau telah dirasuki oleh setan yang jahat, pastilah kau sedang dalam kendali iblis terkutuk. Sadarlah Sarah, sebagai orang yang beragama, sebutlah nama Allah, istigfar, ingatlah akan Allah, Sarah, ingatlah pada Tuhan dan wajah anak-anak kita! Kasihan anak-anak Sarah?” desakku, menghimbau kepadanya.

Sarah tetap beringas. Bahkan malam itu juga dia berlari pergi keluar rumah dan aku mengejarnya dari belakang. Sarah lalu mencegat taksi dan naik taksi itu ke arah barat. Aku pun mencegat taksi dan membuntuti taksi itu dari belakang. Sementara tiga anakku yang sudah terlelap di kamar mereka, kutinggalkan begitu saja dan aku tidak tahu apakah mereka terbangun nantinya. Bahkan karena terburu-buru membuntuti Sarah, sampai rumahku lupa untuk dikunci, walau sempat kurapatkan daun pintunya.

Taksi yang dikendarai Sarah masuk ke tol kota di pintu Cempaka Putih menuju Cengkareng. Taksiku juga masuk tol yang sama dan terjadi kejar-kejaran di jalan tol dalam kota itu. Tapi Sarah memerintahkan taksi nya untuk lebih cepat menuju bandara Soekarno-Hatta. Taksi itu bahkan masuk wilayah bandara dan berputar-putar lalu keluar dari pintu bandara di Kota Tangerang. Taksi itu lalu ke utara dan menuju ke daerah Pakuhaji, laut utara. Sesampainya di pohon mahoni tua umur ratusan tahun, taksi itu berhenti. Setelah membayar taksi, Sarah keluar sambil berlari kecil menuju sebuah reruntuhan bangunan tua di sebelah pohon mahoni tau itu. Akupun meminta sopir memberhentikan taksi dari kejauhan dan taksi kuminta menunggu beberapa saat. Aku segera membuntuti ke mana istriku pergi.

Arkian, ternyata pada reruntuhan bangunan tua itu terdapat keramat wingit. Ada kuburan yang sangat tua yang tidak terurus lagi oleh ahli warisnya. Keadaan di dalam reruntuhan itu sangat sepi dan sunyi, tidak nampak ada seorang pun di daerah itu. Sementara angin malam menerjang deras dari arah laut utara dengan sasaran pemakaman. Keadaan cuaca dinihari itu begitu dingin dan hujan gerimispun membasahi bumi sekitar. Aku mengintip pelan-pelan dengan menjinjitkan kakiku mendekati arah di mana Sarah masuk. Istriku itu ternyata berlutut dan menangis tersedu di satu batu nisan yang yang diterangi lampu lima watt. Walau lampunya cukup redup tapi aku dapat melihat sistriku itu bersujud seakan menyembah sesuatu di batu kuburan itu. “Sedang apa dia?” tanyaku di dalam batin.

Sarah nampaknya tidak mengetahui bahwa dia sedang dibuntuti. Aku bersembunyi di balik reruntuhan jendela dan mengintip terus ke arahnya. Setiap gerak-geriknya kuawasi dengan seksama, aku sangat penasaran mengapa dia dengan beraninya datang di tengah malam ke daerah itu, sendirian pula. Padahal selama ini Sarah itu sangat penakut, paranoid dan mudah was-was. Jangankan kepada hantu, genderuwo atau wewe gombel, pada tikus saja selama ini dia ketakutan. Tapi kali ini, dia kok menjadi tiba-tiba berani seperti itu. “Ada apa dengan istriku ini?” bisik hatiku, penasaran. Tapi Sarah tidak bergeming, dia terpaku kaku di kuburan itu dan terus menangis hingga pagi.

Beberapa saat kemudian, supir taksi mendekat. Nampaknya pengemudi itu penasaran sekaligus meragukan jangan-jangan aku kabur tak mau bayar ongkos taksinya. Tapi dia kudekati dan kuminta jangan berisik dengan kode kututupkan jari telunjukku di mulut agar dia diam. Kubilang kepada sopir itu supaya dia tidur saja di taksi, sedang soal biaya, gampang, berapa pun ongkosnya, akan saya bayar. Kuminta amper argo taksi itu dimatikan saja, nanti sesampainya di rumahku, akan kubayar ongkos keseluruhan berapapun yang dia minta. Soir tkasi bernama Taufik Hamid itupun, akhirnya mengerti dan dia ngeluyur menuju taksinya yang diparkir di bawah pohon mahoni tua.

Sarah terus terpaku di depan makam. Dengan sabar aku menunggunya hingga selesai melakukan ritual itu. Pada pukul 04.00 menjelang subuh, tiba-tiba dari tengah kuburan keluar asap tebal warna hitam yang menumpuk di tubuh Sarah. Duh Gusti, beberapa saat kemudian, dalam hitungan detik, asap itu berubah wujud seperti manusia yang bertubuh tinggi besar dan hitam. Wajah sosok itu terlihat olehku bertaring panjang, matanya bulat dan kupingnya bercabang dua. Dengan refleks aku mengucapkan astagfirullahalazim dan berkomat kamit mengucap zikir Allahhu Akbar, subhanallah dan semua doa-doa yang bisa kuucap. Jantungku berdetak hebat dan tubuhku merinding karena terguncang keadaan itu. Sarah lalu mencium kaki mahluk itu yang mirip kaki orangutan dan makin keras menangis. Dengan dorongan batin terdesak, impulsif, aku segersa mendekati dan berteriak menyebut nama Allah, Allah, Allahhu Akbar. Aku memohon pertolongan Allah untuk menyelamatkan Sarah dan aku. Alhamdulillah, Allah dengan cepat menolong kami, setidaknya aku di pagi buta itu. Mahluk itu langsung kembali menjadi asap dan masuk ke dalam kuburan. Sementara itu Sarah tidak lagi menangis dan aku menggendongnya menuju taksi. Tubuh Sarah sangat lemas dan lunglai seperti tak berdarah lagi.

Taufik si sopir taksi menolongku mengangkat istriku dan meletakkannya dalam gendonganku di jok belakang. Taksi kuminta dipacu cepat menuju rumahku di Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan kecepatan rata-rata 100 km per-jam, Taufik dengan tangkas mengendalikan taksinya hingga sampai di rumah kurang dari satu jam. Taufik dengan tangka turun membantu dan aku membuka pintu yang kebetulan memang gampang karena tidak terkunci. Sesampainya di dalam, di ruang tamu, aku melihat tiga anakku menangis terguncang di ruang tamu. Mereka terbangun sekiatr pukul 02.00 tadi dan bingung menacri kami berdua. Tapi begitu melihat ibu mereka digendong dalam keadaan lemas, mereka bertiga menjerit. “Kenapa Mama, Pa, kenapa Mama?” tanya Ika, anakku tertua yang berumur sepuluh tahun. Sedangkan Mery, anakku yang berumur tujuh tahun danduduk di kelas dua SD, hanya menangis dan tubuhnya mengigil karena terguncang melihat keadaan ibunya. Sedangkan Dika, yang masih di TK kelas nol kecil, umur empat tahun, menangis keras karena ketakutan.

Sopir taksi, Taufik Hamid nampak perhatian betul akan masalah kami ini. Dia meminta anak tertuaku, Ika untuk mengambil air putih di belakang dan Ika membantunya. Lalu Taufik Hamid menjampi-jampi air itu lalu meminta maaf kepadaku untuk membasuh wajah istriku yang pingsan. Puji Tuhan, dalam hitungan detik setelah Taufik Hamid mengusapkan air jampi-jampi itu, istriku, Sarah, langsung siuman dan seperti orang yang baru terbangun dari tidur dan bermimpi. Diam-diam, Taufik Hamid yang tamatan pesantren tapi gagal jadi kiyai itu, mempunyai ilmu Kanuragan dan mampu melihat sesuatu yang gaib, mahluk haus yang tidak terlihat oleh siapapun. Taufik menyebut, bahwa di kuburan tua Pakuhaji tadi, istriku bertemu dengan jin penghuni pemakaman tua itu dan mereka berpacaran. “Maaf Pak, saya sudah tahu sejak di pemakaman tadi bahwa ibu bertemu dengan bangsa jin yang jadi kekasihnya itu. Jin itu berjenis Jin Tomang, tubuhnya bisa sangat besar dan tinggi. Jin Tomang itu bisa setinggi tugu monas dan tubuhnya sebesar gunung. Tapi Pak, saya tidak mau sok tahu dan lalu ikut campur di dalam pemakaman tadi, karena saya berfikir bahwa bapak pastilah mampu karena bapak orang yang taat beribadah dan rajin berzikir. Zikiran bapak itu sangat alam dan saya yakin bapak selalu dalam perlindungan Allah Azaza Wajalla! Sekarang ini, kita mesti berdua scara bersama-sama menolong ibu keluar dari permasalahan ini,” terang Taufik Hamid kepadaku, berbisik-bisik.

Aku menerima semua usul dan saran Taufik yang berbasic ilmu Al Hikmah itu. Dengan bersama-sama kami melakukan zikir dan berdoa bersama setelah sholat subuh berjemaah. Anak-anak menjaga ibu mereka yang masih terbaring lesuh di ruang depan, sedangkan Ika terus memijit kaki mamanya yang masih terasa dingin dengan balsem. Pukul 06.00 saat matahri mulai mencorong di timur, tiba-tiba Sarah meronta-ronta membantingkandirinya ke dinding. Bantingan dirinya itu begitu kuat sehingga kami menjadi panik. Tapi Taufik Hamid dengan tetang menembakkan tangannya ke arah Sarah dengan mantra-mantra dari mulutnya yang tajam. Beberapa saat kemudian sarah menjadi tenang tapi bebalik menjadi Taufik Hamid yang berjungkir balik. Taufik berteiak keras seperti sedang bertarung dengan suatu kekuatan halus yang tidak terlihat secara kasatmata. Mantra-mantra yang dikeluarkan Taufik Hamid adalah mantra bebahasa Pegagan Lawas yang digali oleh taufik Hamid dari kampung halamannya di Ogan Komering Ilir.

Setelah terbanting-banting, Taufik hamid akhirnya memenangkan pertarungan. Pertarungan itu ternyata melawan jin Tomang yang pagi itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali Taufik Hamid sendiri. Beberapa saat setelah Taufik Hamid menang, tiba-tiba genteng rumah pecah berantakan dan Jin Tomang hangus terbakar. Bekas bakaran itu tersisa di atap rumah kami dan rumah itu membutuhkan perbaikan besar karena berantakan total. “Jin Tomang itu sudah musnah dan ibu akan aman dan insya’ Allah akan selamanya keluarga menjadi tenang!” desis Taufik Hamid kepadaku.

Beberapa hari kemudian, Sarah bersamaku mencabut gugatan cerainya di pengadilan agama, Pulogadung, Jakarta Timur. Sarah kembali hidup normal dan cinta kami pun kembali bersemi. Bahkan, belakangan, kasih sayang Sarah kepadaku semakin besar apalagi terhadap anak-anak. Kami hidup berbahagia hingga tulisan ini diturunkan di majalah. Sementara itu Taufik Hamid yang sudah bersitri dan beranak dua, sudah menjadi bagian keluarga kami dan kami pun terus menerus hidup saling tolong menolong. Bahkan Hamid hingga sekarang masih menjadi sopir taksi dan menyusuri hidup dunianya dengan berdampingan nyaman bersaam hidup sorgawinya sebagai seorang pakar ilmu Al Hikmah. Taufik Hamid mengaku bahwa dia menuju seorang sufi dan bila Allah merestuinya, dia akan segera menjadi seorang ahli ilmu tasawuf. Walau hanya sorgawi, tapi sebagai seorang ayah dari dua anak dan suami dari seorang istri, Taufik harus tetap menjalani pekerjkaan sebagai pengendara taksi untuk biaya kebutuhan dunia orang-orang yang dicntainya.

Sementara itu, Sarah menceritakan bahwa selama ini dia rajin berziarah ke makam-makam aulia, para makam wali Allah di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten bersama jemaah pengajiannya. Memang Sarah selalu minta ijin padaku untuk berziarah ke mana saja bersama timnya, sekalipun lewat telpon bila aku berada di luar kota. Aku mendukung aktifitas itu sebagai aktifitas ibadah, di mana mereka mendoakan para wali dan minta berkah Allah melalui wali-wali yang keramat.

Tapi sayang, di antara sekian makam yang didatangi, ternyata ada satu makam yang ternyata bukan makam wali Allah. Makam yang didatanginya terakhir ternyata makam orang biasa yang ternyata semasa hidupnya adalah seorang pelaut asal Iran yang terdampar di laut utara Pulau Jawa. Karena makam itu dari abad 16 lalu dibangun dengan permanen, maka warga meyakini bahwa makam itu adalah makam wali Allah. Maka itu, jin jahat masih bisa bersemayam di situ dan saat istriku datang ke sana, dia jatuh cinta dan memilih istriku menjadi kekasih selingkuhannya. Sedangkan makam wali Allah asli, tidak akan dihuni oleh jin jahat. Jin yang ada memang banyak di makam wali tapi semuanya jin muslim yang terus berzikir kepada Allah dan mendokan pemakaman aulia yang dijaganya. Jin jahat dan kafir, kata Taufik Hamid, diharamkan oleh Allah untuk menghuni pemakaman para aulia dan wali-wali Allah.

Saat ini Sarah, istriku banyak di rumah. Namun pengajian malam jumat yang biasa dilakukan, tetap dijalani dan aku agak menjadi trauma untuk menginjinkannya ke makam-makam keramat. Taufik Hamid menasehatkan kepada istriku, bahwa mendoakan wali-wali llah tidak mesti harus datang ke makamnya. Doakan saja dari rumah dengan setulus dan sepenuh hati, insya Allah doa itu akan sampai kepada para wali Allah yang dituju. Sebut saja semua nama wali yang akan didoakan dan Allah SWT maha mengetahui dan maklum adanya. “Sama juga seperti kita mengirim doa untuk Rasulullah Muhamad SAW dan keturunannya, yang kita sebut di setiap kali berdoa dan insya Allah bila Tuhan mengijinkan, maka doa itu samapi kepada Baginda junjungan kita dan refleksinya lambat atau cepat akan kita rasakan!” pesan Taufik hamid kepada Sarah, istriku tercinta.**

Thursday, 14 July 2016

SILUMAN BUAYA

Cerita Misteri - Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.


Lelaki itu semakin hari semakin menderita setelah ditinggal anak perempuannya. Anaknya yang baru berusia lima tahun itu merenggut ajal di pinggir sungai Cipunagara.

Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.

Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.

Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.

Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.

Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.

“Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!” Bisik salah seorang kepadaku.

“Memang kejadiannya kapan?” Tanyaku.

“Kemarin sore, menjelang maghrib,” jawabnya.

“Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?” Tanyaku kepada ketua RT.

“Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya,” papar ketua RT.

Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.

Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.

Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.

Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.

Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, “Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?”

“Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?” Tanyaku.

“Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis,” ucapnya.

“Dimana?” Tanyaku penasaran.

“Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!” Jawabnya.

“Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam,” ucapku.

Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.

Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.

Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.

Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.

Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.

Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.

Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.

Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.

“Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan,” Ucap Abah sambil tersenyum.

Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.

“Tetapi anak itu bukan di alam manusia!”Demikian tegas Abah.

Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.

“Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” terang Abah.

“Apakah bisa diambil kembali, Abah?” Tanyaku.

“Bisa!” Jawab Abah, singkat.

“Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!” Ujar Abah memperingatkan Dirta.

“Baiklah, Abah!” Ucap Dirta.

Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, “Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?” Tanyanya.

“Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!” Jawab beberapa warga serempak menunjukku.

“Pak Ulis siap jadi saksi?” Tanya Abah.

“Insya Allah siap, Bah!” Jawabku, singkat.

“Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?” Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.

Dirta mengangguk, “Ya, Bah!” Tegasnya.

Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?

Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.

Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah.  “Jangan pula kalian menengok ke belakang!” Pesan Abah.

Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.

Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.

Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.

Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.

“Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada,” bisik Abah kepadaku.

Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?

Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.

“Sampurasun, Gusti Punggawa!” Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.

“Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?” Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah

“Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?” Tanya Abah.

“Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih,” jawabnya.

“Ada masalah apa punggawa?” Tanya Abah.

“Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja,” ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.

Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.

Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.

Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.

Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.

“Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?” Tanya sang raja.

“Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.

“Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,” ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.

“Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena,” ujar Abah menunjuk kepadaku. “Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja.” Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.

Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.

“Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan.”

“Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!” Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.

Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. “Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.

Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!” Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.

Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.

“Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?” Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.

“Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini,” kata salah seorang patih.

“Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?” Ucap raja dengan suara rendah.

“Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh,” Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.

“Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini,” kataku melengkapi kata-kata Abah.

“Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta.” Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.

Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.

“Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?” Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.

“Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal.” Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.

“Apakah itu milikmu, Dirta?” Tanya sang raja.

“Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!” Jawab Dirta, singkat.

Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.

Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.

Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.

“Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.

Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi.” Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.

“Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?” Tanyaku, penasaran.

“Mudah-mudahan!” Ujar Abah, datar.

Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.

“Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!” Pesannya.

Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.

Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.

Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.

LELEMBUT GUNUNG KAWI


Cerita Misteri - Gunung Kawi yang terletak di sebelah barat Kota Malang di Jawa Timur selama ini terkenal dengan mitos pesugihannya. Makam keramat Eyang Jugo ini menjadi tempat persinggahan para peziarah yang datang dari berbagai kota di penjuru tanah air. Bahkan dari luar negeri banyak yang berziarah dan ngalap berkah di makam ulama yang konon merupakan pengikut Pangeran Diponegoro tersebut.

Selama ini orang mengenal Gunung Kawi sebagai tempat keramat yang cocok untuk menjalankan ritual yang berhubungan dengan masalah rezeki maupun usaha dan perdagangan. Sehingga tak heran kalau kebanyakan peziarah yang datang didominasi oleh para warga keturunan. Namun dibalik kekeramatan Gunung Kawi sebagai tempat wisata ziarah, ternyata terdapat hal lain yang merupakan misteri dari keunikan Gunung Kawi seperti pengalaman yang dialami oleh Murjiono dan teman-temannya dari kota Surabaya.

Waktu malam Jumat Legi merupakan malam yang menjadi puncak keramaian para peziarah yang datang di Gunung Kawi. Para peziarah sejak sore memadati kompleks pemakaman Eyang Jugo nampak silih berganti berdatangan dan berpindah tempat dari lokasi makam kemudian ke lokasi air keramat yang ada di belakang lokasi makam. Kemudian para peziarah tersebut juga hilir mudik di bawah pohon dewandaru yang merupakan pohon keramat di lokasi tersebut.

Demikian pula halnya dengan Murjiono dengan teman-temannya yang datang dari Surabaya. Mereka bertiga Yudi, Haryono serta Murjiono merupakan tiga sahabat yang berusaha dalam jual beli computer dan spare partnya. Haryono dan Yudi tiap malam Jumat Legi selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke Gunung Kawi. Lain dengan Murjiono, kedatangannya ke Gunung Kawi ini merupakan pertama kalinya. Lain dengan kedua temannya yang memang datang dengan niatan untuk berziarah, Murjiono datang dengan niat untuk refresing serta mencari hiburan. Selama ini ia selalu mendengar tentang Gunung Kawi selain terkenal mitos gaibnya tapi juga penuh dengan pendatang yang kebanyakan amoi-amoi cantik. Ini merupakan kesempatan untuk menikmati kehangatan Gunung Kawi begitu celotehnya waktu diajak oleh kedua temannya untuk berangkat.

Karena kesal menunggu kedua temannya yang masih harus antri untuk bisa datang di depan makam, Murjiono memutuskan untuk menunggu di luar makam. Ia kemudian berjalan menuju lokasi ciamsi yang terletak di depan bekas tempat peribadatan yang pernah terbakar. Sifat mata keranjangnya mulai timbul manakala melihat seorang gadis keturunan yang sibuk melakukan ciamsi untuk mengetahui peruntungan nasibnya.

Tanpa sadar ia pun ikut-ikutan melakukan ciamsi.

“Nomor 13,” ucap sang pemandu waktu melihat batang bambu Murjiono keluar.

Sang pemandu dari ritual ciamsi tersebut kemudian memberikan kertas bertuliskan ramalan tersebut dengan kening sedikit berkerut.

“Hati-hati, Mas. Dan perbanyak doa agar terhindar dari musibah,” ucapnya seraya memberikan kertas tersebut kepada Murjiono.

Sekilas Murjiono membaca kertas ciamsi tersebut. Waktu melihat kata-kata ramalan tersebut mulutnya tersenyum sinis. “Ada-ada saja.”

Kertas tulisan tersebut kemudian dibuangnya tanpa menghiraukan pandangan prihatin dari sang pemandu.

“Gara-gara ciamsi tadi aku kehilangan gadis yang aku buru,”omelnya pelan. Matanya berkeliaran mencari gadis yang dimaksud. Tak dihiraukannya kertas ciamsi yang bertuliskan “Hati-hati dalam melangkah. Petaka datang membayang. Perbanyak doa agar balak menjauh.”

Karena merasa kesal kehilangan buruannya Murijono kemudian kembali ke kompleks makam. Perjalanan yang jauh dari Surabaya membuatnya merasa mengantuk.

“Aku beristirahat dulu di bawah pohon itu saja,”  ia kemudian melangkah ke arah pendopo di samping makam tempat pohon dewandaru berada.

“Dasar kurang pekerjaan orang-orang ini,” gumannya waktu dilihatnya orang-orang yang duduk di bawah pohon tersebut. “Apa mungkin dengan kejatuhan ranting atau daun pohon ini terus rejeki akan lancar,” ia kembali mengomel melihat para peziarah yang khusuk di bawah pohon tersebut.

Di Gunung Kawi ada semacam kepercayaan mereka yang berziarah lalu bisa membawa buah, ranting ataupun daun yang terjatuh dari pohon peninggalan Eyang Jugo tersebut maka keberuntungannya akan berubah. Seperti halnya yang dialami seorang konglomerat, yang berubah menjadi kaya karena berhasil mendapatkan buah dewandaru.

Dengan sinis, Murjiono menggoyang-goyang pohon tersebut. “Lho jatuh semua daunnya,“ kata dia sambil tangannya menunjuk ke arah daun yang berguguran karena pohon tersebut diguncang-guncang dengan kedua tangannya.

Tiba-tiba ulahnya berhenti manakala melihat pandangan mata marah dari mereka yang berziarah di bawah lokasi pohon tersebut.

“Wah bisa dipukuli orang banyak aku,” kekehnya tanpa menghiraukan pandangan marah dari mereka yang menatapnya. Ia kemudian duduk di serambi pendopo.

Setelah berapa lama ia merasa mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya tersebut, ia merasa dibangunkan oleh seseorang. Pundaknya diguncang-guncang. Spontan Murjiono membuka matanya, mulutnya tersenyum simpul waktu dilihatnya yang memegang pundaknya tersebut adalah amoi cantik yang ingin diajaknya kenalan waktu ciamsi tadi.

“Bangun, Mas,” tegur gadis itu pelan.

Belum sempat Murjiono menjawab gadis tadi menggamit tangannya. “Antarkan aku jalan-jalan,” ucapnya lagi.

Murjiono bergegas bangkit pandangan matanya terus tertuju pada gadis berkulit putih dan bertubuh montok yang ada di hadapannya.

Tanpa sadar ia mengiyakan gadis tersebut dan kemudian mengikutinya. Mereka berjalan menembus keramaian malam. Yang dilihatnya sekarang adalah bangunan-bangunan megah, entah kompleks pertokoan atau perbelanjaan yang penuh dengan para pengunjung yang hilir mudik. Namun yang mengherankan semua penghuni atau mereka yang ada, memakai pakaian Jawa kuno. Sementara di sepanjang jalan raya yang membentang lurus tampak mobil maupun kendaraan dengan berbagai merk berjalan melintas kesana kemari. Baik pengemudi maupun mereka yang berbelanja dan melintas memakai pakaian tradisonal. Yang perempuan berkebaya.  Ada juga yang memakai pakaian cina kuno mirip seperti gadis di sampingnya yang mengaku bernama Ling Ling.

“Berada dimana aku?” bisiknya kepada gadis tersebut .

“Di Gunung Kawi,” jawab sang gadis dengan manjanya.

Murjiono seolah terhipnotis dengan kecantikan gadis tersebut. Ia tidak memikirkan hal-hal yang dirasanya aneh tersebut. Dalam benaknya, kota yang besar dan segala fasilitas layaknya Jakarta tersebut memang sudah ada di Gunung Kawi.

.“Ke kafe yuk,” ajak gadis tersebut ke sebuah tempat penuh dengan lampu warna-warni serta suara musik yang hingar bingar.

Ia kemudian melangkah bersama Ling Ling arah kafe yang dimaksud. Di dalam kafe tersebut ia kemudian mengikuti gerakan Ling-ling yang mulai bergoyang mengikuti irama musik yang ada. Lama mereka bergoyang sambil sesekali berpelukan.

Namun tiba-tiba terdengar suara dengusan marah disampingnya. “Dia adalah manusia, bukan dari golongan kita!”

Seorang berbadan tinggi besar berpakaian prajurit dengan membawa tombak yang terhunus kelihatan menunjuk ke arah Murjiono. Namun Murjiono hanya diam terpaku. Ia baru menjerit dan melepaskan pegangan tangannya waktu dilihatnya tubuh mulus Ling Ling yang dipeluknya berubah menjadi bersisik seperti kulit ikan. Matanya melotot seperti mata ikan koki.

Namun ia kembali terdiam manakala orang bertinggi besar yang meneriakinya tadi menyuruh anak buah yang di belakangnya untuk meringkus Murjiono.

Murjiono tak berkutik, manakala ia diseret oleh ketiga orang tersebut. Jalan raya yang tadinya penuh dengan orang-orang hilir mudik, kini penuh dengan berbagai makhluk yang berpenampilan aneh. Ada yang bermata satu, ada juga yang bertanduk. Bahkan ada perempuan berkepala manusia tapi bertubuh kuda. Makhluk-makhluk yang berkeliaran tersebut semakin aneh, sebab ada yang naik mobil. Bahkan ada berjualan di kakilima dengan fissik mereka yang aneh.

Murjiono ketakutan melihat hal tersebut. Ia kemudian dibawa menghadap ke arah sebuah bangunan besar yang menyerupai  istana. Lalu ia dihadapkan kepada seseorang yang berpakaian mirip raja, namun berbentuk aneh. Kepalanya bertanduk dua, sementara mulutnya penuh dengan taring runcing.

Ia kemudian diseret, setelah orang yang dipanggil raja tersebut memutuskan hukuman. Murjiono di bawa ke penjara. Namun ia kembali menjerit-jerit ketakutan manakala melihat pemandangan aneh dari penjara tersebut. Tampak anggota tubuh manusia yang bergelantungan karena dipotong tangannya, kakinya, bahkan kepalanya. Tubuh yang terpotong-potong itu bergoyang-goyang ketika terkena angin.

Murjiono semakin ketakutan manakala melihat sang algojo yang  berjalan menghampirinya sambil membawa golok. Bersiap-siap memotong-motong anggota tubuhnya. Selanjutnya Murjiono tidak ingat apa-apa lagi.

Tahu-tahu didengarnya suara seseorang. “Beruntunglah ia masih bisa ditolong,” ucap orang tua yang duduk di sampingnya.

“Dimana aku?” teriaknya waktu dilihatnya Yudi dan Haryono tampak duduk di sebelahnya.

Setelah berapa lama, orang tua tersebut menerangkan kepada Murjiono bahwa tingkah laku Murjiono yang iseng dengan menggoyang-goyang pohon dewandaru ternyata telah mengundang para lelembut yang ada di kawasan Gunung Kawi merasa terusik. Ia kemudian terbawa ke alam mereka. Ia dibawa jauh sampai ke puncak Gunung Kawi yang masih berupa hutan lebat dan merupakan pusat lelembut di Gunung Kawi. Beruntung tubuhnya yang tergolek lemah berhasil ditemukan pencari kayu. Dengan bantuan orang pintar nyawa Murjiono berhasil diselamatkan dari ancaman lelembut Gunung Kawi.

Wednesday, 13 July 2016

BIRAHI PEREMPUAN SETAN


Cerita Misteri - Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk
gaib tersebut ternyata sudah berakar sejak zaman nenek moyang di era primitif. Dan di era terkini, para siluman sering memasuki dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia di alam nyata. Mereka menggoda, memperdaya, bahkan ingin menguasai insan yang tidak beriman lahir dan batin.
Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara
manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya.
Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal
dengan sebutan siluman buaya.

Akhir Nopember tahun 2008, aku dihubungi seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di ibukota Sumatera Utara tersebut. Aku yang sudah cukup lama menganggur setelah di PHK di sebuah pengeboran minyak milik asing di daerah Riau daratan cukup tertarik dengan tawaran teman itu, meskipun untuk sementara harus meninggalkan keluarga di kota Pekanbaru.

Aku dan Darwis Tanjung, demikian nama teman tersebut, dulu sama-sama kuliah di Medan pada sebuah perguruan
tinggi swasta. Begitu menyandang gelar sarjana ekonomi, aku merantau ke daerah Riau. Diterima bekerja di sana. Sementara
Darwis Tanjung lebih senang berwiraswasta, meneruskan usaha orang tuanya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera.
“Untuk sementara kau tinggal saja bersama kami,” ajak Darwis ketika menjemputku di Bandara Polonia Medan.
“Bukan ingin menyombongkan diri, rumahku cukup besar di kawasan elit Perumahan Bumi Asri,” susulnya kemudian.
Di rumahnya yang cukup mewah itu, aku diperkenalkannya dengan Rasiam, perempuan cantik, berkulit sawo matang
dan kedua bola mata agak sipit tersebut menyambut uluran tanganku dengan senyum.

Hari pertama aku berada di Medan, Darwis nampaknya tidak ingin buang-buang waktu. Dia langsung mengajakku ke toko
barang antiknya di bilangan Kesawan dan Petisah. Berkenalan dengan petugas dan pelayan toko di sana. Kepada mereka,
Darwis menyatakan bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran merangkap wakil pemilik usahanya.
Pagi itu ketika sarapan, Darwis memberitahukan bahwa untuk selama beberapa hari dia tidak berada di rumah,

karena sore nanti dia ikut rombongan dari kantor Dinas Purbakala ke Jakarta guna membahas kasus-kasus pencurian bendabenda kuno peninggalan sejarah dengan instansi terkait.
“Selama aku tidak berada di tempat, kau tangani saja semua urusanku di toko-toko Kesawan dan Petisah tersebut!”pesannya
ketika aku mengantarkannya ke bandara Polonia, “Namun kalau ada hal-hal yang rumit, jangan segan-segan menghubungiku
melalui handphone!”

Malam pertama tinggal berduaan dengan Rasiam sungguh menggelisahkan. Apalagi selama ini sejak aku tinggal bersama
mereka, aku dan istri teman ini sangat jarang berkomunikasi. Rasiam merupakan tipe wanita pendiam dan terkesan agak misterius. Saking misteriusnya, seharian dia suka berkurung dalam kamar saja kendati suaminya sering mengajaknya ngobrol bersama-samaku pada waktu-waktu senggang.

Usai makan malam yang disediakan oleh petugas katering, aku mengisi waktu duduk di ruang tamu dengan membaca koran sore. Malam mulai larut ketika merasakan mataku berat, mengantuk. Setelah menutup jendela dan pintu serta menguncinya, aku menyeret kakiku melangkah masuk kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar tuan rumah.
Baru saja tubuh kubaringkan di tempat tidur, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang mengeluh dan mengaduh-aduh.
Aku segera bangkit untuk memastikan dari mana datangnya suara tersebut. Lalu menduga bersumber dari kamar sebelah,
kamar tidur pasangan suami istri tersebut.

Sejenak aku tercenung. Maju mundur niatku untuk datang menemui istri teman itu ke kamarnya guna menanyakan apa yang
dialaminya. Kiranya kurang elok mendatangi seorang perempuan yang sudah bersuami seorang diri dalam kamar tidurnya. Tapi karena suara mengeluh dan mengaduh terdengar semakin keras, aku menjadi tidak tega juga. Lalu segera menghambur
masuk ke kamarnya. Ternyata perempuan ini memang membutuhkan pertolongan, karena di pembaringan tubuhnya kulihat
menggelinjang gelinjang menahan kesakitan.

Aku sudah bersiap-siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Langsung kuangkat,
ternyata datang dari Darwis di Jakarta. “Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya
ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi
kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur,” kata Darwis dari
ujung telepon itu.

Aku masih ingin menanyakan sesuatu namun hubungan pembicaraan singkat tersebut telah terputus. Meskipun masih menyimpan pertanyaan dalam hati, aku patuh saja melakukannya lalu bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno dan antik tersebut. Di dalamnya nampak beberapa jenis benda-benda berbagai bentuk berjejer merapat ke dinding tembok. Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu kelihatan sebuah patung berbentuk buaya sepanjang lebih kurang satu meter sedang dalam posisi tiarap di lantai dan rahang ternganga lebar. Sebagaimana permintaan
Darwis, aku segera menyiram patung buaya tersebut dengan air yang tersedia dalam drum ukuran kecil di dekatnya. Ternyata bukan air sembarangan, karena aromanya berbau khas wewangian.

Aku mulai curiga teman ini sudah mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik, apalagi ketika air mulai membasahi tubuh
patung buaya tadi, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan yang paling aneh, bersamaan dengan itu Rasiam tahu-tahu sudah berdiri di dekatku. Memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali segar bugar dan wajah yang sumringah. Artinya, aku tidak merasa perlu lagi untuk mendatangkan paramedis untuk menyembuhkannya.
“Terima kasih, Bang,” ujarnya sambil berlalu. Aku cuma bengong, terima kasih untuk apa? Lagi pula baru itu kudengar dia
berkata-kata padaku.

Paginya istri teman ini nampak semakin seksi dengan pakaian daster ringkas yang dikenakannya. Tipis, nyaris dia tanpa busana. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup mengasyikkan di depan kaca TV. Saat itu Rasiam benar-benar mengalami perobahan drastis dalam penampilan, tingkah dan perilakunya. Yang semula pendiam dan agak terkesan angkuh menjadi seorang wanita yang senang ngobrol dan rendah hati. Bahkan kuanggap terlalu over acting mengumbar tubuhnya di hadapan pria yang bukan muhrimnya.
Kemudian obrolan beralih seputar hubungannya dengan Darwis, yang menurutnya tidak serasi. Dia mengatakan
hidupnya bersama pria itu kurang berbahagia karena tidak pernah menikmati hubungan seks yang sempurna. Kata demi
kata dan kalimat demi kalimatnya terdengar sendu dan memprihatinkan. Ibarat orang yang sudah kalah sebelum bertempur. Aku menjadi trenyuh menyimaknya, karena kasus suami istri seperti ini memang sering terjadi. Bagi wanita kemewahan materi bukan segala-galanya, kalau tidak diimbangi dengan kepuasan batin dalam berhubungan badan.

“Bang…..” pelan Rasiam memanggil.
“Hmmm…..ada apa?” spontan lamunanku buyar.
“Mau menolong saya?”
“Menolong bagaimana?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang tiba-tiba kuyu dan lesu.
“Anu, Bang….”
“Anu apa?”
“Abang kan sudah lama berteman dengan suamiku?”
“Ya, kenapa?”
“Jadi kalau abang saya ajak tidur, dia tidak akan marah, bukan?”
“Gila kamu, tentu saja dia marah besar, meskipun dia teman baikku!” jawabku agak emosional. “Dalam ajaran agama dan kode etik sosial hal itu sangat terlarang, dan akan menjahanamkan manusia ke lubang
neraka!” susulku sedikit mengutip ceramah ceramah agama yang sering aku dengar.
Perempuan cantik di depanku menyeringai.

“Tapi saya bukan manusia,” ujarnya kemudian masih nyengir. Bersamaan dengan itu aura mistis menghalangi pandanganku.
Aku masih terperangah ketika muncul kekuatan gaib yang menyeretku melangkah membuntutinya masuk ke kamar.
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu aku sudah menggeletak berbaring di sebelah Rasiam yang sudah dalam keadaan telanjang bulat. Layaknya sebagai seekor singa liar yang tengah kelaparan, perempuan itu
‘menyerang’ sambil merobek-robek seluruh pakaianku hingga total bugil. Lalu kedua tangannya bergerak cepat gentayangan kian kemari bersamaan dengan desah berahinya yang tersengal-sengal.

Tak lama kemudian terasa jantungku nyaris copot dihantui ketakutan ketika bayangan anak-anak dan istriku muncul
dalam fantasi halusinasi. Mereka berteriakteriak berteriakteriak berusaha mencegah diriku terhindar
dari perbuatan terlaknat ini. Spontan aku melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Dalam
waktu bersamaan gairah seksualku menurun ke titik nadir, alat vitalku menjadi loyo dan melempem. Begitu tersadar secara utuh,
aku cuma mampu terpana. Sadar, bahwa sebelumnya aku telah dikuasai energi gaib dari luar yang menyebabkan diriku
kehilangan akal sehat. Lupa Tuhan, lupa dosa, dan lupa pada keluarga. Dalam hitungan detik kemudian aku menyaksikan penampakan yang aneh dan menyeramkan. Kulihat perempuan cantik ini bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan
kepalanya berubah wujud menjadi kepala mirip dengan bentuk kepala seekor buaya dengan rahang terbuka lebar.
Pada bagian wajahnya bersisik yang berwarna hijau kehitam-hitaman tersebut
tidak terlihat lagi profil Rasiam sebagai wanita cantik, kecuali mulai batas leher ke bawah masih nampak sebagai organ tubuh
perempuan telanjang. Kini taring-taring giginya yang runcing dan tajam serta berkilat-kilat terdengar
berbunyi, berdetak-detak, layaknya ingin mengunyah-ngunyah organ tubuhku yang saat itu masih dalam keadaan bugil.

Aku coba menjauh, namun makhluk misteri yang berwujud setengah manusia dan setengah hewan tersebut lebih cepat
beraksi. Kedua tangannya yang masih berbentuk manusia segera menjangkau ke depan, dan melalui kekuatan yang diluar
dugaanku, melemparkan tubuh telanjangku hingga melayang-layang di udara yang kemudian meluncur tercampak ke luar
kamar melalui jendela yang tengah terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Begitu siuman dan tersadar, yang pertama kali kulihat adalah wajah Darwis Tanjung. Temanku ini menatapku dengan
wajah prihatin.

“Maaf, karena selama ini aku ingin selalu menutup-nutupi masalah pribadiku ke kamu, Andi…….sehingga kau nyaris saja menjadi korban!” ujarnya dengan nada penyesalan.
Selanjutnya Darwis berkisah, bahwa beberapa bulan yang lalu dia pernah membeli sebuah patung buaya kuno dan
terkesan antik yang dimiliki oleh seorang warga desa dekat kota Sibolga Tapanuli Tengah. Konon patung buaya tersebut
ditemukan si warga di pinggir pantai laut dan menjualnya dengan harga yang pantas pada Darwis yang kebetulan sedang mencari barang barang antik di daerah itu. Lalu memboyongnya ke Medan.

Beberapa orang kolektor benda-benda kuno ingin membelinya dengan harga bervariasi hingga sampai milyar. Bahkan
seorang turis dari mancanegara ingin menawar hingga 10 milyar rupiah. Dan Darwis sudah bersiap-siap menjualnya
dengan harga tertinggi ketika malamnya dia bermimpi didatangi seorang pria tua mengenakan sorban dan jubah berwarna
merah tua.
Orang tua tersebut melarang Darwis menjualnya, dan menyuruh agar patung buaya itu pada waktu-waktu tertentu
disiram dengan air kembang tujuh rupa. Setelah beberapa kali melakukan arahan pria tua dalam mimpi tersebut, hari itu seorang perempuan cantik datang bertamu ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku pemilik patung buaya tersebut, dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Sebaliknya kalau ingin memilikinya, si perempuan cantik yang mengaku bernama Rasiam tersebut minta agar Darwis menikahinya secara diam-diam dan rahasia.
“Karena aku memang belum berkeluarga, pemilik patung buaya itu kunikahi dengan segala senang hati. Kami
menikah diam-diam dan secara rahasia karena calon istriku tersebut tidak memiliki identitas diri yang jelas. Tak punya KTP dan mengaku hidup sebatang kara” lanjut Darwis berkisah.
Menurutnya, Rasiam merupakan wanita yang ‘seks maniak’ yang kemudian hari diketahui dia adalah sosok perempuan
siluman. Tegasnya dari komunitas siluman buaya.

Setelah menyimak penuturan kisah Darwis, cukup lama aku termenung saja. Apalagi setelah dia mengatakan, bahwa
Rasiam sudah menghilang bersama-sama patung buaya itu. Aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru karena sangat trauma atas kejadian menyeramkan yang kualami.
Siapa tahu perempuan siluman buaya yang seks maniak tersebut kembali lagi ke rumah teman ini, ingin melampiaskan nafsu
birahinya yang gagal menguasaiku hari itu.
Seminggu setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa seperti orang linglung. Kepada istri, aku mengatakan bahwa pekerjaan di Medan kurang sesuai dengan bakat dan pendidikanku, sehingga memutuskan untuk berhenti. Pengalaman mistis yang kualami bersama perempuan siluman buaya sengaja kututup rapat-rapat, biarlah hal itu kuanggap
sebagai sepenggal catatan hitam dalam sejarah hidup.
Namun melihat keadaanku begitu kembali ke Pekanbaru seperti mengalami amnesia, istriku kemudian segera
membawaku berobat secara alternatif. Pakar kejiwaan yang menguasai masalah supranatural mengatakan diriku mengalami
traumatis karena pernah mengalami hal-hal yang sifatnya mistis dan magis. Cukup lama
juga diriku diterapi hingga kembali normal seperti semula.

Beberapa bulan kemudian, aku baru mendapat kabar, bahwa temanku Darwis Tanjung tewas dalam kecelakaan lalu lintas
di jalur perlintasan kereta api. Kejadian itu sehari setelah aku berada kembali di
Pekanbaru.
Rumah gedung mewahnya di perumahan Bumi Asri dikabarkan terbakar, ludes menjadi abu. Toko barang antik
almarhum di bilangan Kesawan dan Petisah menjadi rebutan dan sengketa dari para
ahli waris yang tidak jelas. (Berdasarkan penuturan narasumber yang kini berdomisili
di Pekanbaru, Riau kepada penulis)