Kisah misteri - Beberapa tahun terakhir aku menjadi seorang volunteer di salah satu kegiatan sosial. Kebetulan, baru-baru ini aku diutus oleh mereka untuk terbang ke Amerika Serikat buat menghadiri sebuah konferensi.
Sampai di hotel, aku nggak punya firasat apa-apa, apalagi karena hotel tersebut berada di kawasan Disney Land. Saat aku sampai di hotel tersebut siang hari, kebetulan aku belum bisa masuk ke kamar karena mereka bilang kamarku sedang dibersihkan.
Sekitar 15 menit menunggu, aku pun akhirnya dipersilakan buat masuk ke kamarku. Meski nggak merasakan hal aneh, tapi saat aku masuk, keran di kamar mandiku masih menyala. Kupikir itu karena petugasnya lupa mematikan keran tersebut.
Malamnya, setelah aku pulang dari dinner di luar bersama pihak penyelenggara, aku pun memutuskan buat beristirahat di kamar. Sayangnya, istirahatku agak terganggu karena suara berisik dari kamar sebelah. Nah, kebetulan kamarku itu punya connecting door dengan kamar berisik tersebut. Aku sempat melihat cahaya dari bawah pintu dan kupikir mereka lagi merayakan sebuah pesta. Bahkan aku curiga anak-anak dari kamar sebelah tersebut sempat menjahili pintuku dengan memainkan handle pintu dan mengetok-ngetok connecting door tersebut.
Karena merasa terganggu dengan keributan mereka, aku pun memutuskan untuk mengetok connecting door dan memberitahu mereka kalau aku merasa agak terganggu dengan keributan tersebut karena membuatku jadi nggak bisa beristirahat. Untungnya, nggak lama setelah itu, aku pun bisa beristirahat.
Karena penasaran, esok paginya aku bertanya ke resepsionis tentang kamar sebelah itu. Waktu aku mendengar jawabannya, aku shock banget karena petugas resepsionis itu bilang dari kemarin siang kamar tersebut kosong dan nggak ada satu orang pun yang menginap di kamar.
NAGAHOKI
Friday, 29 July 2016
Tuesday, 19 July 2016
BERTEMAN DENGAN MAKHLUK GAIB
Prayogi, salah seorang remaja berusia 12 tahun terkenal sebagai anak yang kerap bertingkah aneh. Bahkan sejak kecil anggota keluarganya sempat dibuat kalang kabut akan ulahnya yang kerap menghilang dari rumah tanpa sebab. Menurut penuturan salah satu kerabatnya Prayoga memiliki indera ke-6 dan mampu berkomunikasi dengan makhluk astral alias Gaib. Bahkan putra bungsu dari pasangan Wildan dan Ratmi itu mengaku mampu melihat dan meneropong masa depan seseorang.
Tak banyak yang dapat menceritakan awal mula cerita misteri nyata yang dialami oleh Prayogi kecuali dirinya dan orang tuanya sendiri. Masih menurut penuturan salah satu kerabatnya sekitar usia 9 bulan Prayoga mengalami demam yang teramat tinggi. Kedua orang tuanya telah berusaha membawa Prayoga berobat ke beberapa bidan hingga dokter spesial anak namun semuanya berakhir nihil.
Hampir setiap menjelang malam sejak mentara diujung barat Prayoga kecil mulai menangis keras tak terhentikan. Bahkan tangisannya akan semakin menjadi bila mana ia tak segera diajak keluar rumah. Iba dan kasihan melihat derita sang buah hati akhirnya Nyai Ratmi memutuskan untuk mendatangi sesepuh di kampung sebelah yang terkenal memiliki kemampuan kanuragan yang super duper ampuh.
Inilah awal dari cerita misteri yang semakin jelas dialami oleh Prayogi. Mbah Dipo seorang praktisi ilmu supranaturan yang didatangi Nyai Ratmi menuturkan jika sang buah hati mengalami gangguan dari makhluk tak kasap mata. Ada dua orang anak lelaki yang senantiasa menggoda serta mengajaknya untuk bermain-main tambah Mbah Dipo. Setelah Nyai Ratmi meminta bantuan serta solusi terbaik untuk bayinya tersebut akhirnya Mbah Dipo memberikan sebuah kalung yang didalamnya disinyalir berupa rajah serta beberapa rempah yang telah mendapatkan jampe-jampe.
Semenjak memakaikan kalung pemberian Mbah Dipo perlahan kondisi Prayogi kecil semakin membaik. Bahkan tak lagi ia mengalami kejang dan panas menggigil seperti beberapa minggu yang lalu. Legana Nyai Ratmi dan suami melihat anak bungsu mereka semakin membaik hingga Prayoga kembali mengalami keanehan di usianya yang menginjak 7 tahun.
Layaknya anak usia 7 tahun yang lagi seneng-senengnnya bermain dengan bocah sejawat Prayogi kerap keluar rumah dan bermain bersama Vicki yang tak lain adalah tetangga dekatnya. Keakraban keduanya sangat terlihat setiap membeli jajanan mereka berusaha saling berbagi dari masing-masing jajanan mereka.
Sebuah peristiwa yang tak dinyana dan tak disangaka-sangka terjadi pada diri Prayoga yang tengah bermain bersama Vicki. Menurut pengakuan Vicki Prayogi hilang ketika bermain petak umpet di kebun belakang rumah sejak sore tadi. Anehnya ketika maghrib menjelang dan ayah Prayogi mencarinya di kebun belakang rumah Prayogi masih asyik bermain dan berlarian tanpa seorang kawan. Bahkan ketika sang ayah menariknya dan mengajaknya pulang Prayogi sempat terlihat melambaikan tangannya dan berpamitan seolah ia sedang bermain bersama seseorang.
Semenjak saat itu Prayogi semakin terlihat aneh dan mengaku jika dia berteman dengan makhluk gaib dan mengatakan jika hanya dia sendiri yang bisa melihatnya. Bahkan belakangan Prayogi juga mengaku bisa melihat atau menerawang kejadian yang akan datang. Hal itu sempat ia buktikan di akhir tahun 2013 dimana usianya masih 10 tahun. Dia sempat mengatakan ke ibunya jika akan terjadi sebuah kecelakaan kereta api. Awalnya Nyai Ratmi tak menghiraukan perkataan dari putranya tersebut namun betapa terkejutnya selang 2 hari dirinya mendengar berita jika telah terjadi kecelakaan kereta api di Bintaro dan memakan banyak korban.
Hingga saat ini Prayogi yang tengah duduk di kelas 5 SD semakin menunjukan keanehannya serta semakin meyakinkan jika dirinya memang benar-benar berkawan dengan makluk gaib. Demikian kisah Prayogi dalam cerita misteri nyata berkawan dengan makhluk gaib semoga dapat menghibur kita semua.
Sunday, 17 July 2016
CINCIN DARI GENDERUWO
Sebagai pegawai pabrik sablon, bagi Tomi dan kawan-kawannya sudah bukan merupakan hal yang aneh kalau tiap hari harus kerja lembur mengerjakan pesanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam dan setelah itu pulang ke rumah yang jaraknya lumayan jauh.
Seperti hari itu. Tomi diminta lembur oleh bosnya karena sedang banyak pekerjaan. Dengan senang hati Tomi mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa tersa hari menjelng tengah malam. Tomi berhasil menyelesaikan pekerjaaanya dan bergegas pulang setelah memasukkan semua pesanan untuk besok ke dalam bungkusan. Dikayuhnya sepeda tua peninggalan orang tuanya dengan pelan.
Sepanjang jalan yang dilewatinya terasa gelap, rupanya listrik di daerah tersebut padam. Dengan pelan sepeda tua tersebut berjalan menembus kegelapan malam. Sebetulnya hati Tomi sudah merasa tidak enak. Jalanan yang gelap ditambah suasana jalan yang sepi membuatnya miris. Tetapi rasa lelah karena seharian bekerja membuat tekadnya untuk pulang dan segera tidur semakin kuat.
Tiba di tikungan, Tomi tanpa sengaja melihat rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Perasaannya menjadi tidak enak. Aneh mengapa hatiku berdebar-debar, gumam Tomi.
Seperti ada yang menyuruh, Tomi malah menghentikan sepedanya. Rasa takut yang mencekamnya membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan kaki yang bertopang pada sandaran sepeda. Tomi mencoba memberanikan dirinya untuk menatap rumah tua yang ada di depannya. Jantungnya semakin berdebar-debar.
Apa aku lebih baik kembali dan tidur di gudang saja ya? tanya hati Tomi penuh rasa bimbang. Dia juga heran mengapa dirinya tidak segera beranjak dari tempat itu. Sebaliknya, kakinya justru melangkah mendekati rumah tua itu. Tomi merasakan ada kekuatan gaib yang menariknya untuk terus mendekat ke rumah itu.
Perasaan hatinya yang semakin kacau menjadi semakin tidak karuan waktu dilihatnya sesosok bayangan tampak berkelebat ke luar dari arah pintu pagar rumah kosong tersebut.
Dengan kaki yang gemetar karena ketakutan melihat bayangan tersebut. Tomi berusaha membalikkan sepedanya untuk berputar kembali.
Belum selesai ia mengangkat roda sepedanya untuk berputar terdengan suara memanggilnya. “Mas…!” suara parau terdengar menyapanya.
Dengan memberanikan diri Tomi yang sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu menatap ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut keluar dari seorang pria paroh baya berpakaian hitam dengan sarung membelit lehernya. Bayangan tersebut bergerak mendekatinya sambil mengarahkan lampu senter menyoroti Tomi beserta sepedanya.
Melihat sosok laki-laki beserta lampu senter yang menyorotinya, hati Tomi merasa lega. Bayangan yang dikiranya hantu tersebut ternyata merupakan manusia.
“Ada apa Pak?” kata Tomi balik bertanya.
Laki-laki bersarung tersebut tersenyum, sementara lampu senter di tangannya tampak digoyang-goyang. “Saya Basori, penjaga rumah tua ini,” laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Tomi. Tangan kanannya yang juga besar-besar memegang stang sepeda Tomi. “Kalau boleh saya ingin numpang sampai pohon beringin di pojok desa. Mau mengambil bekal makanan untuk menjaga di rumah tua ini.”
Tomi menatap heran tanda tak mengerti. “Saya tadi lupa membawa bekal. Ketinggalan di rumah” Basori meneruskan ucapannya yang terpotong.
“Boleh..boleh” Tomi langsung mengiyakan karena merasa gembira ada teman.
Tak lama kemudian Basori membonceng di sepeda Tomi. “Busyet. Berat banget ini orang,” kata Tomi dalam hati sambil tetap mengayuh sepedanya.
Di perjalanan lampu listrik yang padam tetap belum menyala. Tapi dengan adanya lampu senter yang dibawa Basori, jalanan yang gelap menjadi agak terang.
“Sudah, sini saja Mas,” Basori berkata kepada Tomi, ia menepuk bahu Tomi memberi isyarat agar berhenti. Tomi kemudian menghentikan sepeda.
“Rumah saya ada di balik gerumbulan pohon itu,” Basori menunjuk ke arah pepohonan di balik tikungan jalan.
Tomi hanya bisa menatap gerumbulan pohon yang ada.
Basori kemudian memasukkan senternya pada saku jaket Tomi “Senternya buat Mas saja. Buat kenang- kenangan.”
Tomi hanya bisa mengucap terima kasih. Ditatapnya laki-laki paroh baya bernama Basori yang melangkah melewati gerumbulan pohon yang ada. Tampak laki-laki itu menoleh. Namun wajah pria paroh baya itu kini berubah menjadi makhluk tinggi besar penuh bulu yang menutupi seluruh tubuhnya.
Tomi yang melihat hal tersebut hanya bisa berteriak minta tolong sambil mengayuh sepedanya sejauh mungkin. Sesampai di rumah diambilnya senter milik genderuwo yang mengaku bernama Basori tersebut dari sakunya. Senter itu ternyata telah berubah menjadi sebuah batu akik. Tomi sebetulnya merasa takut dan teringat akan genderuwo yang menakut-nakutinya sebelum ini. Tapi selanjutnya ia berpikir tentu batu akik ini bukan sembarangan karena milik genderuwo. Pasti mempunyai khasiat.
Keesokan harinya dipakainya cincin tersebut bekerja. Entah pengaruh cincin yang dipakainya atau bukan. Tumpukan kain yang akan disablonnya menjadi terasa ringan. Pekerjaan yang semestinya harus diselesaikannya dalam beberapa jam mampu diselesaikannya dalam setengah jam. Bahkan yang menakjubkan tumpukan bahan sablon dalam kaleng mampu diangkatnya hanya dengan satu tangan.
“Rupanya cincin ini benar-benar berkhasiat,” dengan bangga Tomi mengelus-elus cincin tersebut.
Ternyata khasiat cincin genderuwo bukan itu saja. Di warung Mbak Ira tempatnya makan siang kalau bekerja, cincin genderuwo itu juga mempunyai khasiat yang lain. Rina anak gadis Mbak Ira yang selama ini selalu cuek kalau digoda para pria, tiba-tiba menjadi genit pada Tomi. Dengan kerling mata yang nakal mengarah ke Tomi gadis itu tampak dengan sibuk meladeni Tomi makan. Selama ini jangankan melayani, menoleh saja ia tidak mau. Berkali-kali Tomi mengelus akiknya . Ia seolah-olah mendapat durian runtuh dengan memiliki cincin genderuwo tersebut. Bayangan tubuh Rina yang bahenol seakan-akan menari di benaknya. Ia sudah membayangkan malam ini akan meniduri tubuh Rina yang montok, daripada meniduri tubuh istrinya yang sudah mulai kendor .
Seminggu sudah Tomi memiliki cincin genderuwo tersebut. Di malam Jumat setelah capek setelah seharian bekerja Tomi terlelap di ruang tamu. Sementara istrinya tidur di kamar sendiri. Tanpa terasa semalam suntuk ia telah tidur dengan nyenyaknya. Paginya setelah bangun dengan wajah sumringah sang istri menghidangkan kopi .
”Mas tadi malam lain lho. Kuat sekali. Aku sampai berkali-kali,” celoteh istri Tomi dengan genitnya.
Mendengar ucapan sang istri, Tomi merasa terkejut. Didesaknya sekali lagi istrinya. Kepalanya serasa berputar-putar manakala istrinya bercerita kalau semalam telah berhubungan badan dengan Tomi dan merasa puas sekali. Tidak biasanya Tomi menjadi begitu perkasa di ranjang.
“Genderuwo keparat!!!!” teriak Tomi setelah mendengar cerita tersebut. Sang istri hanya melongo tanda tak mengerti. Tomi mencaci maki membayangkan apa yang telah dilakukan genderuwo tersebut sewaktu ia tertidur dengan nyenyaknya. Dengan bergegas ia mengayunkan sepedanya ke rumah tua tempat ia bertemu genderuwo seminggu sebelumnya.
Dilemparkannya cincin tersebut ke arah rumah tua tersebut. Cincin yang terlempar itu langsung lenyap masuk kedalam halaman rumah kosong. Ternyata cincin genderuwo itu membawa korban. Si genderuwo pemilik cincin berubah bentuk menjadi Tomi dan menyetubuhi istrinya. Sebagai makhluk halus, genderuwo memang bisa berubah bentuk. Bagaimanapun juga genderuwo adalah setan.***
Friday, 15 July 2016
ISTRIKU SELINGKUH DENGAN JIN TOMANG
“Tidak, tidak ada pria idaman lain dan tidak ada laki-laki lain di dalam hidup saya. Tapi saya tidak nyaman lagi bersamamu, saya tidak senang lagi menjadi istrimu dan aku harus berpisah darimu dan hidup sendiri, entah di mana. Kuasailah rumah ini dan usruslah anak-anak dengan baik, aku akan pergi dan jangan kau cari ke mana dan di mana aku nanti!” desis Sarah, serius.
Karena tak tahu apa salah da apa masalahnya hingga istriku berubah total, aku segera mendatangi seorang psikolog beken Martha Pegagan untuk mencari tahu apa sebab sifat manusia tiba-tiba berubah. Analisa psikolog Martha Pegagan pun bertubi-tubi meluncur kepadaku. Tapi semua analisanya itu tidak masuk sama sekali ke dalam pikiranku. Sebab semua yang dikatakannya, tidak sesuai dengan kenyataan yang kuhadapi di diri Sarah. Sementara itu, Sarah yang kupaksa utnuk datang ke Martha Pegagan, bersikeras menolak. Dia tidak mau sama sekali bersamaku ke psikolog yang praktek di rumah sakit Dwipayana itu. “Tidak, tidak perlu kau bawa aku ke dokter. Apalagi ke seorang psikolog. Buat apa, buat apa? Secara medis maupun secara psikologis aku sehat kok, tidak ada penyakit pada diriku. Tuntutanku hanya satu, aku mau cerai denganmu, aku mau pergi dari rumah dan mencari kehdiupan baru yang iasa membuat hidupku menjadi nyaman. Ya, Cuma satau yang aku tuntut, kenyamanan, ketenangan dan ketentraman hidup. Nah, tiga hal itu tadi, saat ini sudah tidak aku dapatkan lagi darimu, dari rumah ini!” desisnya, pedas.
“Sarah, katakanlah, hal apa yang membuat kau tidak nyaman, tidak tenteram dan tidak tenang. Bila hal itu karena kesalahanku, mari kita bermusyawarah, kita bermufakat bersama. Bila ada hal yang kau yakini arena kesalahanku, aku minta maaf kepadamu. Aku akan merubahnya dan aku akan mengalah untuk mu. Pokoknya, yang penting janganlah kita bercerai. Kasihanilah anak-anak Sarah. Anak-anak masih kecil dan sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu!” pintaku, berlutut kepadanya.
Jangankan mau memenuhi permintaanku, malah Sarah mendorongku hingga tubuhku terjatuh. Dia sama sekali menolak permintaanku bahkan dengan kasar meludahiku. Duh Gusti, batinku, setan apa yang merasuk ke diri istriku ini sehingga dia berubah total seperti ini? “Sarah, kau telah dirasuki oleh setan yang jahat, pastilah kau sedang dalam kendali iblis terkutuk. Sadarlah Sarah, sebagai orang yang beragama, sebutlah nama Allah, istigfar, ingatlah akan Allah, Sarah, ingatlah pada Tuhan dan wajah anak-anak kita! Kasihan anak-anak Sarah?” desakku, menghimbau kepadanya.
Sarah tetap beringas. Bahkan malam itu juga dia berlari pergi keluar rumah dan aku mengejarnya dari belakang. Sarah lalu mencegat taksi dan naik taksi itu ke arah barat. Aku pun mencegat taksi dan membuntuti taksi itu dari belakang. Sementara tiga anakku yang sudah terlelap di kamar mereka, kutinggalkan begitu saja dan aku tidak tahu apakah mereka terbangun nantinya. Bahkan karena terburu-buru membuntuti Sarah, sampai rumahku lupa untuk dikunci, walau sempat kurapatkan daun pintunya.
Taksi yang dikendarai Sarah masuk ke tol kota di pintu Cempaka Putih menuju Cengkareng. Taksiku juga masuk tol yang sama dan terjadi kejar-kejaran di jalan tol dalam kota itu. Tapi Sarah memerintahkan taksi nya untuk lebih cepat menuju bandara Soekarno-Hatta. Taksi itu bahkan masuk wilayah bandara dan berputar-putar lalu keluar dari pintu bandara di Kota Tangerang. Taksi itu lalu ke utara dan menuju ke daerah Pakuhaji, laut utara. Sesampainya di pohon mahoni tua umur ratusan tahun, taksi itu berhenti. Setelah membayar taksi, Sarah keluar sambil berlari kecil menuju sebuah reruntuhan bangunan tua di sebelah pohon mahoni tau itu. Akupun meminta sopir memberhentikan taksi dari kejauhan dan taksi kuminta menunggu beberapa saat. Aku segera membuntuti ke mana istriku pergi.
Arkian, ternyata pada reruntuhan bangunan tua itu terdapat keramat wingit. Ada kuburan yang sangat tua yang tidak terurus lagi oleh ahli warisnya. Keadaan di dalam reruntuhan itu sangat sepi dan sunyi, tidak nampak ada seorang pun di daerah itu. Sementara angin malam menerjang deras dari arah laut utara dengan sasaran pemakaman. Keadaan cuaca dinihari itu begitu dingin dan hujan gerimispun membasahi bumi sekitar. Aku mengintip pelan-pelan dengan menjinjitkan kakiku mendekati arah di mana Sarah masuk. Istriku itu ternyata berlutut dan menangis tersedu di satu batu nisan yang yang diterangi lampu lima watt. Walau lampunya cukup redup tapi aku dapat melihat sistriku itu bersujud seakan menyembah sesuatu di batu kuburan itu. “Sedang apa dia?” tanyaku di dalam batin.
Sarah nampaknya tidak mengetahui bahwa dia sedang dibuntuti. Aku bersembunyi di balik reruntuhan jendela dan mengintip terus ke arahnya. Setiap gerak-geriknya kuawasi dengan seksama, aku sangat penasaran mengapa dia dengan beraninya datang di tengah malam ke daerah itu, sendirian pula. Padahal selama ini Sarah itu sangat penakut, paranoid dan mudah was-was. Jangankan kepada hantu, genderuwo atau wewe gombel, pada tikus saja selama ini dia ketakutan. Tapi kali ini, dia kok menjadi tiba-tiba berani seperti itu. “Ada apa dengan istriku ini?” bisik hatiku, penasaran. Tapi Sarah tidak bergeming, dia terpaku kaku di kuburan itu dan terus menangis hingga pagi.
Beberapa saat kemudian, supir taksi mendekat. Nampaknya pengemudi itu penasaran sekaligus meragukan jangan-jangan aku kabur tak mau bayar ongkos taksinya. Tapi dia kudekati dan kuminta jangan berisik dengan kode kututupkan jari telunjukku di mulut agar dia diam. Kubilang kepada sopir itu supaya dia tidur saja di taksi, sedang soal biaya, gampang, berapa pun ongkosnya, akan saya bayar. Kuminta amper argo taksi itu dimatikan saja, nanti sesampainya di rumahku, akan kubayar ongkos keseluruhan berapapun yang dia minta. Soir tkasi bernama Taufik Hamid itupun, akhirnya mengerti dan dia ngeluyur menuju taksinya yang diparkir di bawah pohon mahoni tua.
Sarah terus terpaku di depan makam. Dengan sabar aku menunggunya hingga selesai melakukan ritual itu. Pada pukul 04.00 menjelang subuh, tiba-tiba dari tengah kuburan keluar asap tebal warna hitam yang menumpuk di tubuh Sarah. Duh Gusti, beberapa saat kemudian, dalam hitungan detik, asap itu berubah wujud seperti manusia yang bertubuh tinggi besar dan hitam. Wajah sosok itu terlihat olehku bertaring panjang, matanya bulat dan kupingnya bercabang dua. Dengan refleks aku mengucapkan astagfirullahalazim dan berkomat kamit mengucap zikir Allahhu Akbar, subhanallah dan semua doa-doa yang bisa kuucap. Jantungku berdetak hebat dan tubuhku merinding karena terguncang keadaan itu. Sarah lalu mencium kaki mahluk itu yang mirip kaki orangutan dan makin keras menangis. Dengan dorongan batin terdesak, impulsif, aku segersa mendekati dan berteriak menyebut nama Allah, Allah, Allahhu Akbar. Aku memohon pertolongan Allah untuk menyelamatkan Sarah dan aku. Alhamdulillah, Allah dengan cepat menolong kami, setidaknya aku di pagi buta itu. Mahluk itu langsung kembali menjadi asap dan masuk ke dalam kuburan. Sementara itu Sarah tidak lagi menangis dan aku menggendongnya menuju taksi. Tubuh Sarah sangat lemas dan lunglai seperti tak berdarah lagi.
Taufik si sopir taksi menolongku mengangkat istriku dan meletakkannya dalam gendonganku di jok belakang. Taksi kuminta dipacu cepat menuju rumahku di Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan kecepatan rata-rata 100 km per-jam, Taufik dengan tangkas mengendalikan taksinya hingga sampai di rumah kurang dari satu jam. Taufik dengan tangka turun membantu dan aku membuka pintu yang kebetulan memang gampang karena tidak terkunci. Sesampainya di dalam, di ruang tamu, aku melihat tiga anakku menangis terguncang di ruang tamu. Mereka terbangun sekiatr pukul 02.00 tadi dan bingung menacri kami berdua. Tapi begitu melihat ibu mereka digendong dalam keadaan lemas, mereka bertiga menjerit. “Kenapa Mama, Pa, kenapa Mama?” tanya Ika, anakku tertua yang berumur sepuluh tahun. Sedangkan Mery, anakku yang berumur tujuh tahun danduduk di kelas dua SD, hanya menangis dan tubuhnya mengigil karena terguncang melihat keadaan ibunya. Sedangkan Dika, yang masih di TK kelas nol kecil, umur empat tahun, menangis keras karena ketakutan.
Sopir taksi, Taufik Hamid nampak perhatian betul akan masalah kami ini. Dia meminta anak tertuaku, Ika untuk mengambil air putih di belakang dan Ika membantunya. Lalu Taufik Hamid menjampi-jampi air itu lalu meminta maaf kepadaku untuk membasuh wajah istriku yang pingsan. Puji Tuhan, dalam hitungan detik setelah Taufik Hamid mengusapkan air jampi-jampi itu, istriku, Sarah, langsung siuman dan seperti orang yang baru terbangun dari tidur dan bermimpi. Diam-diam, Taufik Hamid yang tamatan pesantren tapi gagal jadi kiyai itu, mempunyai ilmu Kanuragan dan mampu melihat sesuatu yang gaib, mahluk haus yang tidak terlihat oleh siapapun. Taufik menyebut, bahwa di kuburan tua Pakuhaji tadi, istriku bertemu dengan jin penghuni pemakaman tua itu dan mereka berpacaran. “Maaf Pak, saya sudah tahu sejak di pemakaman tadi bahwa ibu bertemu dengan bangsa jin yang jadi kekasihnya itu. Jin itu berjenis Jin Tomang, tubuhnya bisa sangat besar dan tinggi. Jin Tomang itu bisa setinggi tugu monas dan tubuhnya sebesar gunung. Tapi Pak, saya tidak mau sok tahu dan lalu ikut campur di dalam pemakaman tadi, karena saya berfikir bahwa bapak pastilah mampu karena bapak orang yang taat beribadah dan rajin berzikir. Zikiran bapak itu sangat alam dan saya yakin bapak selalu dalam perlindungan Allah Azaza Wajalla! Sekarang ini, kita mesti berdua scara bersama-sama menolong ibu keluar dari permasalahan ini,” terang Taufik Hamid kepadaku, berbisik-bisik.
Aku menerima semua usul dan saran Taufik yang berbasic ilmu Al Hikmah itu. Dengan bersama-sama kami melakukan zikir dan berdoa bersama setelah sholat subuh berjemaah. Anak-anak menjaga ibu mereka yang masih terbaring lesuh di ruang depan, sedangkan Ika terus memijit kaki mamanya yang masih terasa dingin dengan balsem. Pukul 06.00 saat matahri mulai mencorong di timur, tiba-tiba Sarah meronta-ronta membantingkandirinya ke dinding. Bantingan dirinya itu begitu kuat sehingga kami menjadi panik. Tapi Taufik Hamid dengan tetang menembakkan tangannya ke arah Sarah dengan mantra-mantra dari mulutnya yang tajam. Beberapa saat kemudian sarah menjadi tenang tapi bebalik menjadi Taufik Hamid yang berjungkir balik. Taufik berteiak keras seperti sedang bertarung dengan suatu kekuatan halus yang tidak terlihat secara kasatmata. Mantra-mantra yang dikeluarkan Taufik Hamid adalah mantra bebahasa Pegagan Lawas yang digali oleh taufik Hamid dari kampung halamannya di Ogan Komering Ilir.
Setelah terbanting-banting, Taufik hamid akhirnya memenangkan pertarungan. Pertarungan itu ternyata melawan jin Tomang yang pagi itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali Taufik Hamid sendiri. Beberapa saat setelah Taufik Hamid menang, tiba-tiba genteng rumah pecah berantakan dan Jin Tomang hangus terbakar. Bekas bakaran itu tersisa di atap rumah kami dan rumah itu membutuhkan perbaikan besar karena berantakan total. “Jin Tomang itu sudah musnah dan ibu akan aman dan insya’ Allah akan selamanya keluarga menjadi tenang!” desis Taufik Hamid kepadaku.
Beberapa hari kemudian, Sarah bersamaku mencabut gugatan cerainya di pengadilan agama, Pulogadung, Jakarta Timur. Sarah kembali hidup normal dan cinta kami pun kembali bersemi. Bahkan, belakangan, kasih sayang Sarah kepadaku semakin besar apalagi terhadap anak-anak. Kami hidup berbahagia hingga tulisan ini diturunkan di majalah. Sementara itu Taufik Hamid yang sudah bersitri dan beranak dua, sudah menjadi bagian keluarga kami dan kami pun terus menerus hidup saling tolong menolong. Bahkan Hamid hingga sekarang masih menjadi sopir taksi dan menyusuri hidup dunianya dengan berdampingan nyaman bersaam hidup sorgawinya sebagai seorang pakar ilmu Al Hikmah. Taufik Hamid mengaku bahwa dia menuju seorang sufi dan bila Allah merestuinya, dia akan segera menjadi seorang ahli ilmu tasawuf. Walau hanya sorgawi, tapi sebagai seorang ayah dari dua anak dan suami dari seorang istri, Taufik harus tetap menjalani pekerjkaan sebagai pengendara taksi untuk biaya kebutuhan dunia orang-orang yang dicntainya.
Sementara itu, Sarah menceritakan bahwa selama ini dia rajin berziarah ke makam-makam aulia, para makam wali Allah di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten bersama jemaah pengajiannya. Memang Sarah selalu minta ijin padaku untuk berziarah ke mana saja bersama timnya, sekalipun lewat telpon bila aku berada di luar kota. Aku mendukung aktifitas itu sebagai aktifitas ibadah, di mana mereka mendoakan para wali dan minta berkah Allah melalui wali-wali yang keramat.
Tapi sayang, di antara sekian makam yang didatangi, ternyata ada satu makam yang ternyata bukan makam wali Allah. Makam yang didatanginya terakhir ternyata makam orang biasa yang ternyata semasa hidupnya adalah seorang pelaut asal Iran yang terdampar di laut utara Pulau Jawa. Karena makam itu dari abad 16 lalu dibangun dengan permanen, maka warga meyakini bahwa makam itu adalah makam wali Allah. Maka itu, jin jahat masih bisa bersemayam di situ dan saat istriku datang ke sana, dia jatuh cinta dan memilih istriku menjadi kekasih selingkuhannya. Sedangkan makam wali Allah asli, tidak akan dihuni oleh jin jahat. Jin yang ada memang banyak di makam wali tapi semuanya jin muslim yang terus berzikir kepada Allah dan mendokan pemakaman aulia yang dijaganya. Jin jahat dan kafir, kata Taufik Hamid, diharamkan oleh Allah untuk menghuni pemakaman para aulia dan wali-wali Allah.
Saat ini Sarah, istriku banyak di rumah. Namun pengajian malam jumat yang biasa dilakukan, tetap dijalani dan aku agak menjadi trauma untuk menginjinkannya ke makam-makam keramat. Taufik Hamid menasehatkan kepada istriku, bahwa mendoakan wali-wali llah tidak mesti harus datang ke makamnya. Doakan saja dari rumah dengan setulus dan sepenuh hati, insya Allah doa itu akan sampai kepada para wali Allah yang dituju. Sebut saja semua nama wali yang akan didoakan dan Allah SWT maha mengetahui dan maklum adanya. “Sama juga seperti kita mengirim doa untuk Rasulullah Muhamad SAW dan keturunannya, yang kita sebut di setiap kali berdoa dan insya Allah bila Tuhan mengijinkan, maka doa itu samapi kepada Baginda junjungan kita dan refleksinya lambat atau cepat akan kita rasakan!” pesan Taufik hamid kepada Sarah, istriku tercinta.**
Thursday, 14 July 2016
SILUMAN BUAYA
Cerita Misteri - Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Lelaki itu semakin hari semakin menderita setelah ditinggal anak perempuannya. Anaknya yang baru berusia lima tahun itu merenggut ajal di pinggir sungai Cipunagara.
Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.
Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.
Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.
Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.
Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.
“Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!” Bisik salah seorang kepadaku.
“Memang kejadiannya kapan?” Tanyaku.
“Kemarin sore, menjelang maghrib,” jawabnya.
“Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?” Tanyaku kepada ketua RT.
“Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya,” papar ketua RT.
Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.
Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.
Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.
Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.
Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, “Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?”
“Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?” Tanyaku.
“Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis,” ucapnya.
“Dimana?” Tanyaku penasaran.
“Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!” Jawabnya.
“Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam,” ucapku.
Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.
Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.
Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.
Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.
Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.
Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.
Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.
Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.
“Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan,” Ucap Abah sambil tersenyum.
Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.
“Tetapi anak itu bukan di alam manusia!”Demikian tegas Abah.
Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.
“Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” terang Abah.
“Apakah bisa diambil kembali, Abah?” Tanyaku.
“Bisa!” Jawab Abah, singkat.
“Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!” Ujar Abah memperingatkan Dirta.
“Baiklah, Abah!” Ucap Dirta.
Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, “Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?” Tanyanya.
“Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!” Jawab beberapa warga serempak menunjukku.
“Pak Ulis siap jadi saksi?” Tanya Abah.
“Insya Allah siap, Bah!” Jawabku, singkat.
“Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?” Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.
Dirta mengangguk, “Ya, Bah!” Tegasnya.
Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?
Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.
Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah. “Jangan pula kalian menengok ke belakang!” Pesan Abah.
Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.
Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.
Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.
Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.
“Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada,” bisik Abah kepadaku.
Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?
Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.
“Sampurasun, Gusti Punggawa!” Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.
“Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?” Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah
“Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?” Tanya Abah.
“Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih,” jawabnya.
“Ada masalah apa punggawa?” Tanya Abah.
“Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja,” ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.
Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.
Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.
Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.
Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.
“Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?” Tanya sang raja.
“Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.
“Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,” ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.
“Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena,” ujar Abah menunjuk kepadaku. “Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja.” Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.
Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.
“Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan.”
“Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!” Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.
Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. “Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.
Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!” Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.
Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.
“Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?” Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.
“Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini,” kata salah seorang patih.
“Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?” Ucap raja dengan suara rendah.
“Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh,” Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.
“Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini,” kataku melengkapi kata-kata Abah.
“Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta.” Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.
Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.
“Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?” Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.
“Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal.” Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.
“Apakah itu milikmu, Dirta?” Tanya sang raja.
“Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!” Jawab Dirta, singkat.
Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.
Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.
Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.
“Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.
Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi.” Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.
“Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?” Tanyaku, penasaran.
“Mudah-mudahan!” Ujar Abah, datar.
Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.
“Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!” Pesannya.
Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.
Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.
Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.
Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.
Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.
Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.
Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.
Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.
“Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!” Bisik salah seorang kepadaku.
“Memang kejadiannya kapan?” Tanyaku.
“Kemarin sore, menjelang maghrib,” jawabnya.
“Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?” Tanyaku kepada ketua RT.
“Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya,” papar ketua RT.
Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.
Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.
Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.
Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.
Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, “Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?”
“Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?” Tanyaku.
“Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis,” ucapnya.
“Dimana?” Tanyaku penasaran.
“Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!” Jawabnya.
“Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam,” ucapku.
Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.
Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.
Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.
Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.
Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.
Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.
Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.
Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.
“Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan,” Ucap Abah sambil tersenyum.
Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.
“Tetapi anak itu bukan di alam manusia!”Demikian tegas Abah.
Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.
“Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” terang Abah.
“Apakah bisa diambil kembali, Abah?” Tanyaku.
“Bisa!” Jawab Abah, singkat.
“Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!” Ujar Abah memperingatkan Dirta.
“Baiklah, Abah!” Ucap Dirta.
Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, “Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?” Tanyanya.
“Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!” Jawab beberapa warga serempak menunjukku.
“Pak Ulis siap jadi saksi?” Tanya Abah.
“Insya Allah siap, Bah!” Jawabku, singkat.
“Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?” Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.
Dirta mengangguk, “Ya, Bah!” Tegasnya.
Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?
Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.
Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah. “Jangan pula kalian menengok ke belakang!” Pesan Abah.
Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.
Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.
Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.
Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.
“Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada,” bisik Abah kepadaku.
Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?
Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.
“Sampurasun, Gusti Punggawa!” Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.
“Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?” Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah
“Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?” Tanya Abah.
“Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih,” jawabnya.
“Ada masalah apa punggawa?” Tanya Abah.
“Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja,” ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.
Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.
Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.
Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.
Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.
“Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?” Tanya sang raja.
“Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.
“Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,” ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.
“Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena,” ujar Abah menunjuk kepadaku. “Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja.” Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.
Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.
“Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan.”
“Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!” Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.
Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. “Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.
Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!” Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.
Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.
“Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?” Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.
“Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini,” kata salah seorang patih.
“Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?” Ucap raja dengan suara rendah.
“Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh,” Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.
“Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini,” kataku melengkapi kata-kata Abah.
“Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta.” Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.
Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.
“Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?” Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.
“Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal.” Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.
“Apakah itu milikmu, Dirta?” Tanya sang raja.
“Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!” Jawab Dirta, singkat.
Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.
Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.
Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.
“Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.
Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi.” Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.
“Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?” Tanyaku, penasaran.
“Mudah-mudahan!” Ujar Abah, datar.
Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.
“Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!” Pesannya.
Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.
Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.
Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.
LELEMBUT GUNUNG KAWI
Cerita Misteri - Gunung Kawi yang terletak di sebelah barat Kota Malang di Jawa Timur selama ini terkenal dengan mitos pesugihannya. Makam keramat Eyang Jugo ini menjadi tempat persinggahan para peziarah yang datang dari berbagai kota di penjuru tanah air. Bahkan dari luar negeri banyak yang berziarah dan ngalap berkah di makam ulama yang konon merupakan pengikut Pangeran Diponegoro tersebut.
Waktu malam Jumat Legi merupakan malam yang menjadi puncak keramaian para peziarah yang datang di Gunung Kawi. Para peziarah sejak sore memadati kompleks pemakaman Eyang Jugo nampak silih berganti berdatangan dan berpindah tempat dari lokasi makam kemudian ke lokasi air keramat yang ada di belakang lokasi makam. Kemudian para peziarah tersebut juga hilir mudik di bawah pohon dewandaru yang merupakan pohon keramat di lokasi tersebut.
Demikian pula halnya dengan Murjiono dengan teman-temannya yang datang dari Surabaya. Mereka bertiga Yudi, Haryono serta Murjiono merupakan tiga sahabat yang berusaha dalam jual beli computer dan spare partnya. Haryono dan Yudi tiap malam Jumat Legi selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke Gunung Kawi. Lain dengan Murjiono, kedatangannya ke Gunung Kawi ini merupakan pertama kalinya. Lain dengan kedua temannya yang memang datang dengan niatan untuk berziarah, Murjiono datang dengan niat untuk refresing serta mencari hiburan. Selama ini ia selalu mendengar tentang Gunung Kawi selain terkenal mitos gaibnya tapi juga penuh dengan pendatang yang kebanyakan amoi-amoi cantik. Ini merupakan kesempatan untuk menikmati kehangatan Gunung Kawi begitu celotehnya waktu diajak oleh kedua temannya untuk berangkat.
Karena kesal menunggu kedua temannya yang masih harus antri untuk bisa datang di depan makam, Murjiono memutuskan untuk menunggu di luar makam. Ia kemudian berjalan menuju lokasi ciamsi yang terletak di depan bekas tempat peribadatan yang pernah terbakar. Sifat mata keranjangnya mulai timbul manakala melihat seorang gadis keturunan yang sibuk melakukan ciamsi untuk mengetahui peruntungan nasibnya.
Tanpa sadar ia pun ikut-ikutan melakukan ciamsi.
“Nomor 13,” ucap sang pemandu waktu melihat batang bambu Murjiono keluar.
Sang pemandu dari ritual ciamsi tersebut kemudian memberikan kertas bertuliskan ramalan tersebut dengan kening sedikit berkerut.
“Hati-hati, Mas. Dan perbanyak doa agar terhindar dari musibah,” ucapnya seraya memberikan kertas tersebut kepada Murjiono.
Sekilas Murjiono membaca kertas ciamsi tersebut. Waktu melihat kata-kata ramalan tersebut mulutnya tersenyum sinis. “Ada-ada saja.”
Kertas tulisan tersebut kemudian dibuangnya tanpa menghiraukan pandangan prihatin dari sang pemandu.
“Gara-gara ciamsi tadi aku kehilangan gadis yang aku buru,”omelnya pelan. Matanya berkeliaran mencari gadis yang dimaksud. Tak dihiraukannya kertas ciamsi yang bertuliskan “Hati-hati dalam melangkah. Petaka datang membayang. Perbanyak doa agar balak menjauh.”
Karena merasa kesal kehilangan buruannya Murijono kemudian kembali ke kompleks makam. Perjalanan yang jauh dari Surabaya membuatnya merasa mengantuk.
“Aku beristirahat dulu di bawah pohon itu saja,” ia kemudian melangkah ke arah pendopo di samping makam tempat pohon dewandaru berada.
“Dasar kurang pekerjaan orang-orang ini,” gumannya waktu dilihatnya orang-orang yang duduk di bawah pohon tersebut. “Apa mungkin dengan kejatuhan ranting atau daun pohon ini terus rejeki akan lancar,” ia kembali mengomel melihat para peziarah yang khusuk di bawah pohon tersebut.
Di Gunung Kawi ada semacam kepercayaan mereka yang berziarah lalu bisa membawa buah, ranting ataupun daun yang terjatuh dari pohon peninggalan Eyang Jugo tersebut maka keberuntungannya akan berubah. Seperti halnya yang dialami seorang konglomerat, yang berubah menjadi kaya karena berhasil mendapatkan buah dewandaru.
Dengan sinis, Murjiono menggoyang-goyang pohon tersebut. “Lho jatuh semua daunnya,“ kata dia sambil tangannya menunjuk ke arah daun yang berguguran karena pohon tersebut diguncang-guncang dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba ulahnya berhenti manakala melihat pandangan mata marah dari mereka yang berziarah di bawah lokasi pohon tersebut.
“Wah bisa dipukuli orang banyak aku,” kekehnya tanpa menghiraukan pandangan marah dari mereka yang menatapnya. Ia kemudian duduk di serambi pendopo.
Setelah berapa lama ia merasa mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya tersebut, ia merasa dibangunkan oleh seseorang. Pundaknya diguncang-guncang. Spontan Murjiono membuka matanya, mulutnya tersenyum simpul waktu dilihatnya yang memegang pundaknya tersebut adalah amoi cantik yang ingin diajaknya kenalan waktu ciamsi tadi.
“Bangun, Mas,” tegur gadis itu pelan.
Belum sempat Murjiono menjawab gadis tadi menggamit tangannya. “Antarkan aku jalan-jalan,” ucapnya lagi.
Murjiono bergegas bangkit pandangan matanya terus tertuju pada gadis berkulit putih dan bertubuh montok yang ada di hadapannya.
Tanpa sadar ia mengiyakan gadis tersebut dan kemudian mengikutinya. Mereka berjalan menembus keramaian malam. Yang dilihatnya sekarang adalah bangunan-bangunan megah, entah kompleks pertokoan atau perbelanjaan yang penuh dengan para pengunjung yang hilir mudik. Namun yang mengherankan semua penghuni atau mereka yang ada, memakai pakaian Jawa kuno. Sementara di sepanjang jalan raya yang membentang lurus tampak mobil maupun kendaraan dengan berbagai merk berjalan melintas kesana kemari. Baik pengemudi maupun mereka yang berbelanja dan melintas memakai pakaian tradisonal. Yang perempuan berkebaya. Ada juga yang memakai pakaian cina kuno mirip seperti gadis di sampingnya yang mengaku bernama Ling Ling.
“Berada dimana aku?” bisiknya kepada gadis tersebut .
“Di Gunung Kawi,” jawab sang gadis dengan manjanya.
Murjiono seolah terhipnotis dengan kecantikan gadis tersebut. Ia tidak memikirkan hal-hal yang dirasanya aneh tersebut. Dalam benaknya, kota yang besar dan segala fasilitas layaknya Jakarta tersebut memang sudah ada di Gunung Kawi.
.“Ke kafe yuk,” ajak gadis tersebut ke sebuah tempat penuh dengan lampu warna-warni serta suara musik yang hingar bingar.
Ia kemudian melangkah bersama Ling Ling arah kafe yang dimaksud. Di dalam kafe tersebut ia kemudian mengikuti gerakan Ling-ling yang mulai bergoyang mengikuti irama musik yang ada. Lama mereka bergoyang sambil sesekali berpelukan.
Namun tiba-tiba terdengar suara dengusan marah disampingnya. “Dia adalah manusia, bukan dari golongan kita!”
Seorang berbadan tinggi besar berpakaian prajurit dengan membawa tombak yang terhunus kelihatan menunjuk ke arah Murjiono. Namun Murjiono hanya diam terpaku. Ia baru menjerit dan melepaskan pegangan tangannya waktu dilihatnya tubuh mulus Ling Ling yang dipeluknya berubah menjadi bersisik seperti kulit ikan. Matanya melotot seperti mata ikan koki.
Namun ia kembali terdiam manakala orang bertinggi besar yang meneriakinya tadi menyuruh anak buah yang di belakangnya untuk meringkus Murjiono.
Murjiono tak berkutik, manakala ia diseret oleh ketiga orang tersebut. Jalan raya yang tadinya penuh dengan orang-orang hilir mudik, kini penuh dengan berbagai makhluk yang berpenampilan aneh. Ada yang bermata satu, ada juga yang bertanduk. Bahkan ada perempuan berkepala manusia tapi bertubuh kuda. Makhluk-makhluk yang berkeliaran tersebut semakin aneh, sebab ada yang naik mobil. Bahkan ada berjualan di kakilima dengan fissik mereka yang aneh.
Murjiono ketakutan melihat hal tersebut. Ia kemudian dibawa menghadap ke arah sebuah bangunan besar yang menyerupai istana. Lalu ia dihadapkan kepada seseorang yang berpakaian mirip raja, namun berbentuk aneh. Kepalanya bertanduk dua, sementara mulutnya penuh dengan taring runcing.
Ia kemudian diseret, setelah orang yang dipanggil raja tersebut memutuskan hukuman. Murjiono di bawa ke penjara. Namun ia kembali menjerit-jerit ketakutan manakala melihat pemandangan aneh dari penjara tersebut. Tampak anggota tubuh manusia yang bergelantungan karena dipotong tangannya, kakinya, bahkan kepalanya. Tubuh yang terpotong-potong itu bergoyang-goyang ketika terkena angin.
Murjiono semakin ketakutan manakala melihat sang algojo yang berjalan menghampirinya sambil membawa golok. Bersiap-siap memotong-motong anggota tubuhnya. Selanjutnya Murjiono tidak ingat apa-apa lagi.
Tahu-tahu didengarnya suara seseorang. “Beruntunglah ia masih bisa ditolong,” ucap orang tua yang duduk di sampingnya.
“Dimana aku?” teriaknya waktu dilihatnya Yudi dan Haryono tampak duduk di sebelahnya.
Setelah berapa lama, orang tua tersebut menerangkan kepada Murjiono bahwa tingkah laku Murjiono yang iseng dengan menggoyang-goyang pohon dewandaru ternyata telah mengundang para lelembut yang ada di kawasan Gunung Kawi merasa terusik. Ia kemudian terbawa ke alam mereka. Ia dibawa jauh sampai ke puncak Gunung Kawi yang masih berupa hutan lebat dan merupakan pusat lelembut di Gunung Kawi. Beruntung tubuhnya yang tergolek lemah berhasil ditemukan pencari kayu. Dengan bantuan orang pintar nyawa Murjiono berhasil diselamatkan dari ancaman lelembut Gunung Kawi.
Wednesday, 13 July 2016
BIRAHI PEREMPUAN SETAN
Cerita Misteri - Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk
Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara
manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya.
Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal
dengan sebutan siluman buaya.
Akhir Nopember tahun 2008, aku dihubungi seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di ibukota Sumatera Utara tersebut. Aku yang sudah cukup lama menganggur setelah di PHK di sebuah pengeboran minyak milik asing di daerah Riau daratan cukup tertarik dengan tawaran teman itu, meskipun untuk sementara harus meninggalkan keluarga di kota Pekanbaru.
Aku dan Darwis Tanjung, demikian nama teman tersebut, dulu sama-sama kuliah di Medan pada sebuah perguruan
tinggi swasta. Begitu menyandang gelar sarjana ekonomi, aku merantau ke daerah Riau. Diterima bekerja di sana. Sementara
Darwis Tanjung lebih senang berwiraswasta, meneruskan usaha orang tuanya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera.
“Untuk sementara kau tinggal saja bersama kami,” ajak Darwis ketika menjemputku di Bandara Polonia Medan.
“Bukan ingin menyombongkan diri, rumahku cukup besar di kawasan elit Perumahan Bumi Asri,” susulnya kemudian.
Di rumahnya yang cukup mewah itu, aku diperkenalkannya dengan Rasiam, perempuan cantik, berkulit sawo matang
dan kedua bola mata agak sipit tersebut menyambut uluran tanganku dengan senyum.
Hari pertama aku berada di Medan, Darwis nampaknya tidak ingin buang-buang waktu. Dia langsung mengajakku ke toko
barang antiknya di bilangan Kesawan dan Petisah. Berkenalan dengan petugas dan pelayan toko di sana. Kepada mereka,
Darwis menyatakan bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran merangkap wakil pemilik usahanya.
Pagi itu ketika sarapan, Darwis memberitahukan bahwa untuk selama beberapa hari dia tidak berada di rumah,
karena sore nanti dia ikut rombongan dari kantor Dinas Purbakala ke Jakarta guna membahas kasus-kasus pencurian bendabenda kuno peninggalan sejarah dengan instansi terkait.
“Selama aku tidak berada di tempat, kau tangani saja semua urusanku di toko-toko Kesawan dan Petisah tersebut!”pesannya
ketika aku mengantarkannya ke bandara Polonia, “Namun kalau ada hal-hal yang rumit, jangan segan-segan menghubungiku
melalui handphone!”
Malam pertama tinggal berduaan dengan Rasiam sungguh menggelisahkan. Apalagi selama ini sejak aku tinggal bersama
mereka, aku dan istri teman ini sangat jarang berkomunikasi. Rasiam merupakan tipe wanita pendiam dan terkesan agak misterius. Saking misteriusnya, seharian dia suka berkurung dalam kamar saja kendati suaminya sering mengajaknya ngobrol bersama-samaku pada waktu-waktu senggang.
Usai makan malam yang disediakan oleh petugas katering, aku mengisi waktu duduk di ruang tamu dengan membaca koran sore. Malam mulai larut ketika merasakan mataku berat, mengantuk. Setelah menutup jendela dan pintu serta menguncinya, aku menyeret kakiku melangkah masuk kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar tuan rumah.
Baru saja tubuh kubaringkan di tempat tidur, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang mengeluh dan mengaduh-aduh.
Aku segera bangkit untuk memastikan dari mana datangnya suara tersebut. Lalu menduga bersumber dari kamar sebelah,
kamar tidur pasangan suami istri tersebut.
Sejenak aku tercenung. Maju mundur niatku untuk datang menemui istri teman itu ke kamarnya guna menanyakan apa yang
dialaminya. Kiranya kurang elok mendatangi seorang perempuan yang sudah bersuami seorang diri dalam kamar tidurnya. Tapi karena suara mengeluh dan mengaduh terdengar semakin keras, aku menjadi tidak tega juga. Lalu segera menghambur
masuk ke kamarnya. Ternyata perempuan ini memang membutuhkan pertolongan, karena di pembaringan tubuhnya kulihat
menggelinjang gelinjang menahan kesakitan.
Aku sudah bersiap-siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Langsung kuangkat,
ternyata datang dari Darwis di Jakarta. “Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya
ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi
kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur,” kata Darwis dari
ujung telepon itu.
Aku masih ingin menanyakan sesuatu namun hubungan pembicaraan singkat tersebut telah terputus. Meskipun masih menyimpan pertanyaan dalam hati, aku patuh saja melakukannya lalu bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno dan antik tersebut. Di dalamnya nampak beberapa jenis benda-benda berbagai bentuk berjejer merapat ke dinding tembok. Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu kelihatan sebuah patung berbentuk buaya sepanjang lebih kurang satu meter sedang dalam posisi tiarap di lantai dan rahang ternganga lebar. Sebagaimana permintaan
Darwis, aku segera menyiram patung buaya tersebut dengan air yang tersedia dalam drum ukuran kecil di dekatnya. Ternyata bukan air sembarangan, karena aromanya berbau khas wewangian.
Aku mulai curiga teman ini sudah mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik, apalagi ketika air mulai membasahi tubuh
patung buaya tadi, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan yang paling aneh, bersamaan dengan itu Rasiam tahu-tahu sudah berdiri di dekatku. Memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali segar bugar dan wajah yang sumringah. Artinya, aku tidak merasa perlu lagi untuk mendatangkan paramedis untuk menyembuhkannya.
“Terima kasih, Bang,” ujarnya sambil berlalu. Aku cuma bengong, terima kasih untuk apa? Lagi pula baru itu kudengar dia
berkata-kata padaku.
Paginya istri teman ini nampak semakin seksi dengan pakaian daster ringkas yang dikenakannya. Tipis, nyaris dia tanpa busana. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup mengasyikkan di depan kaca TV. Saat itu Rasiam benar-benar mengalami perobahan drastis dalam penampilan, tingkah dan perilakunya. Yang semula pendiam dan agak terkesan angkuh menjadi seorang wanita yang senang ngobrol dan rendah hati. Bahkan kuanggap terlalu over acting mengumbar tubuhnya di hadapan pria yang bukan muhrimnya.
Kemudian obrolan beralih seputar hubungannya dengan Darwis, yang menurutnya tidak serasi. Dia mengatakan
hidupnya bersama pria itu kurang berbahagia karena tidak pernah menikmati hubungan seks yang sempurna. Kata demi
kata dan kalimat demi kalimatnya terdengar sendu dan memprihatinkan. Ibarat orang yang sudah kalah sebelum bertempur. Aku menjadi trenyuh menyimaknya, karena kasus suami istri seperti ini memang sering terjadi. Bagi wanita kemewahan materi bukan segala-galanya, kalau tidak diimbangi dengan kepuasan batin dalam berhubungan badan.
“Bang…..” pelan Rasiam memanggil.
“Hmmm…..ada apa?” spontan lamunanku buyar.
“Mau menolong saya?”
“Menolong bagaimana?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang tiba-tiba kuyu dan lesu.
“Anu, Bang….”
“Anu apa?”
“Abang kan sudah lama berteman dengan suamiku?”
“Ya, kenapa?”
“Jadi kalau abang saya ajak tidur, dia tidak akan marah, bukan?”
“Gila kamu, tentu saja dia marah besar, meskipun dia teman baikku!” jawabku agak emosional. “Dalam ajaran agama dan kode etik sosial hal itu sangat terlarang, dan akan menjahanamkan manusia ke lubang
neraka!” susulku sedikit mengutip ceramah ceramah agama yang sering aku dengar.
Perempuan cantik di depanku menyeringai.
“Tapi saya bukan manusia,” ujarnya kemudian masih nyengir. Bersamaan dengan itu aura mistis menghalangi pandanganku.
Aku masih terperangah ketika muncul kekuatan gaib yang menyeretku melangkah membuntutinya masuk ke kamar.
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu aku sudah menggeletak berbaring di sebelah Rasiam yang sudah dalam keadaan telanjang bulat. Layaknya sebagai seekor singa liar yang tengah kelaparan, perempuan itu
‘menyerang’ sambil merobek-robek seluruh pakaianku hingga total bugil. Lalu kedua tangannya bergerak cepat gentayangan kian kemari bersamaan dengan desah berahinya yang tersengal-sengal.
Tak lama kemudian terasa jantungku nyaris copot dihantui ketakutan ketika bayangan anak-anak dan istriku muncul
dalam fantasi halusinasi. Mereka berteriakteriak berteriakteriak berusaha mencegah diriku terhindar
dari perbuatan terlaknat ini. Spontan aku melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Dalam
waktu bersamaan gairah seksualku menurun ke titik nadir, alat vitalku menjadi loyo dan melempem. Begitu tersadar secara utuh,
aku cuma mampu terpana. Sadar, bahwa sebelumnya aku telah dikuasai energi gaib dari luar yang menyebabkan diriku
kehilangan akal sehat. Lupa Tuhan, lupa dosa, dan lupa pada keluarga. Dalam hitungan detik kemudian aku menyaksikan penampakan yang aneh dan menyeramkan. Kulihat perempuan cantik ini bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan
kepalanya berubah wujud menjadi kepala mirip dengan bentuk kepala seekor buaya dengan rahang terbuka lebar.
Pada bagian wajahnya bersisik yang berwarna hijau kehitam-hitaman tersebut
tidak terlihat lagi profil Rasiam sebagai wanita cantik, kecuali mulai batas leher ke bawah masih nampak sebagai organ tubuh
perempuan telanjang. Kini taring-taring giginya yang runcing dan tajam serta berkilat-kilat terdengar
berbunyi, berdetak-detak, layaknya ingin mengunyah-ngunyah organ tubuhku yang saat itu masih dalam keadaan bugil.
Aku coba menjauh, namun makhluk misteri yang berwujud setengah manusia dan setengah hewan tersebut lebih cepat
beraksi. Kedua tangannya yang masih berbentuk manusia segera menjangkau ke depan, dan melalui kekuatan yang diluar
dugaanku, melemparkan tubuh telanjangku hingga melayang-layang di udara yang kemudian meluncur tercampak ke luar
kamar melalui jendela yang tengah terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Begitu siuman dan tersadar, yang pertama kali kulihat adalah wajah Darwis Tanjung. Temanku ini menatapku dengan
wajah prihatin.
“Maaf, karena selama ini aku ingin selalu menutup-nutupi masalah pribadiku ke kamu, Andi…….sehingga kau nyaris saja menjadi korban!” ujarnya dengan nada penyesalan.
Selanjutnya Darwis berkisah, bahwa beberapa bulan yang lalu dia pernah membeli sebuah patung buaya kuno dan
terkesan antik yang dimiliki oleh seorang warga desa dekat kota Sibolga Tapanuli Tengah. Konon patung buaya tersebut
ditemukan si warga di pinggir pantai laut dan menjualnya dengan harga yang pantas pada Darwis yang kebetulan sedang mencari barang barang antik di daerah itu. Lalu memboyongnya ke Medan.
Beberapa orang kolektor benda-benda kuno ingin membelinya dengan harga bervariasi hingga sampai milyar. Bahkan
seorang turis dari mancanegara ingin menawar hingga 10 milyar rupiah. Dan Darwis sudah bersiap-siap menjualnya
dengan harga tertinggi ketika malamnya dia bermimpi didatangi seorang pria tua mengenakan sorban dan jubah berwarna
merah tua.
Orang tua tersebut melarang Darwis menjualnya, dan menyuruh agar patung buaya itu pada waktu-waktu tertentu
disiram dengan air kembang tujuh rupa. Setelah beberapa kali melakukan arahan pria tua dalam mimpi tersebut, hari itu seorang perempuan cantik datang bertamu ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku pemilik patung buaya tersebut, dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Sebaliknya kalau ingin memilikinya, si perempuan cantik yang mengaku bernama Rasiam tersebut minta agar Darwis menikahinya secara diam-diam dan rahasia.
“Karena aku memang belum berkeluarga, pemilik patung buaya itu kunikahi dengan segala senang hati. Kami
menikah diam-diam dan secara rahasia karena calon istriku tersebut tidak memiliki identitas diri yang jelas. Tak punya KTP dan mengaku hidup sebatang kara” lanjut Darwis berkisah.
Menurutnya, Rasiam merupakan wanita yang ‘seks maniak’ yang kemudian hari diketahui dia adalah sosok perempuan
siluman. Tegasnya dari komunitas siluman buaya.
Setelah menyimak penuturan kisah Darwis, cukup lama aku termenung saja. Apalagi setelah dia mengatakan, bahwa
Rasiam sudah menghilang bersama-sama patung buaya itu. Aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru karena sangat trauma atas kejadian menyeramkan yang kualami.
Siapa tahu perempuan siluman buaya yang seks maniak tersebut kembali lagi ke rumah teman ini, ingin melampiaskan nafsu
birahinya yang gagal menguasaiku hari itu.
Seminggu setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa seperti orang linglung. Kepada istri, aku mengatakan bahwa pekerjaan di Medan kurang sesuai dengan bakat dan pendidikanku, sehingga memutuskan untuk berhenti. Pengalaman mistis yang kualami bersama perempuan siluman buaya sengaja kututup rapat-rapat, biarlah hal itu kuanggap
sebagai sepenggal catatan hitam dalam sejarah hidup.
Namun melihat keadaanku begitu kembali ke Pekanbaru seperti mengalami amnesia, istriku kemudian segera
membawaku berobat secara alternatif. Pakar kejiwaan yang menguasai masalah supranatural mengatakan diriku mengalami
traumatis karena pernah mengalami hal-hal yang sifatnya mistis dan magis. Cukup lama
juga diriku diterapi hingga kembali normal seperti semula.
Beberapa bulan kemudian, aku baru mendapat kabar, bahwa temanku Darwis Tanjung tewas dalam kecelakaan lalu lintas
di jalur perlintasan kereta api. Kejadian itu sehari setelah aku berada kembali di
Pekanbaru.
Rumah gedung mewahnya di perumahan Bumi Asri dikabarkan terbakar, ludes menjadi abu. Toko barang antik
almarhum di bilangan Kesawan dan Petisah menjadi rebutan dan sengketa dari para
ahli waris yang tidak jelas. (Berdasarkan penuturan narasumber yang kini berdomisili
di Pekanbaru, Riau kepada penulis)
AJAB PENJUAL NASI GORENG YANG MELAKUKAN PERSUGIHAN
Cerita Misteri - Supaya nasi goreng dagangannya laris, pemilik pesugihan aneh ini harus (maaf) mengentuti semua barang dagangannya sebelum dia jual. Menjelang ajal, perut si pelaku pesugihan besar seperti perut wanita hamil, dan dia terus mengeluarkan kotoran. Anehnya, ajal menjemputnya persis di saat menjelang sahur di hari pertama bulan Ramadhan…
Kisah ini merupakan sebuah kejadian nyata yang menimpa keluarga pedagang
nasi goreng terkenal di kotaku. Untuk melindungi privacy keluarga pelaku peristiwa, maka kami sengaja menyamarkan identitas mereka. Sudah hampir sebulan Wak Dirman terbaring lemah di tempat tidurnya. Tubuhnya kurus kering. Kedua kaki dan tangannya tinggal tulang terbungkus kulit, tapi perutnya membesar seperti wanita hamil sembilan bulan. Secara fisik Wak
Dirman seperti korban busung lapar.
Tidak seperti lazimnya orang sakit, Wak Dirman tidak dapat berbaring. Dia hanya bisa
duduk dengan disandari bantal di belakang punggungnya. Hal ini dilakukan karena
setiap berbaring nafasnya sesak, seolah-olah ada bongkahan batu besar yang menghimpit
dadanya.
Tuntunan kalimah Syahadat dan lafadzlafadz Ilaiyah yang dibisikkan istri, anak dan
kerabatnya sama sekali tidak dihiraukannya. Dari bibirnya hanya terdengar suara rintihan
kesakitan. Keluarganya hanya bisa menangis melihat penderitaan orang yang dicintainya
yang begitu memilukan. Sedangkan istrinya, Wak Atik, terpekur di ujung tempat tidur
sambil mengusap lembut kaki Wak Dirman, suaminya.
Upaya pengobatan sudah dilakukan. Hasil diagnosa dokter menyebutkan bahwa Wak Dirman mengalami penyumbatan usus. Memang, sudah sepuluh hari dia tidak bisa
buang air besar, bahkan buang angin juga tidak bisa. Mungkin karena itulah lamakelamaan perutnya membesar.
Dokter sudah berupaya dengan memberikan resep oabat-obatan pencahar perut. Namun sepertinya kotoran di usus Wak Dirman mampet dan menumpuk hingga membuat perutnya kian besar dan nafasnya sesak.
Tetangga yang menyaksikan penderitaan Wak Dirman hanya bisa mengusap dada dan
banyak mengucapkan Istighfar. Di antara mereka bahkan bertanya-tanya: Dosa apa
sebenarnya yang pernah diperbuat Wak Dirman semasa mudanya sehingga dia
mengalami penyakit itu? Maklum saja, setahu mereka, sosok Wak Dirman adalah seorang pedagang warung nasi goreng yang cukup berhasil. Dan selama ini Wak Dirman terkenal sebagai seorang yang sangat dermawan.
Dari hasil penjualan warung nasi gorengnya Wak dirman memiliki rumah yang megah, sawah yang tersebar di di beberapa tempat, serta beberapa mobil angkutan di samping mobil pribadinya. Di masa tuanya Wak Dirman cukup kaya untuk ukuran orang kampung.
Tapi para tetangganya tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Wak Dirman pernah melakukan perjanjian gaib dengan penghuni goa keramat di wilayah Jawa Timur. Hanya sahabatnya saja yang tahu rahasia ini.
Wak Jafar, demikian nama sang sahabat. Dari penuturan Wak Jafar inilah terungkap perjalanan hidup Wak Dirman di masa mudanya.
“Dirman muda adalah seorang yang taat beribadah dan rajin bekerja. Segala upaya telah dilakukan untuk mengangkat ekonomi keluarganya yang miskin. Dirman yang menikahi Atikah terpaksa bergantiganti pekerjaan mulai dari buruh bangunan, buruh bongkar muat di pelabuhan, hingga
penarik becak pernah dijalaninya,” tutur Wak Jafar mulai bercerita.
Hingga memiliki tiga orang anak, kehidupan Dirman belum berubah juga. Upah bekerjanya habis untuk kebutuhan anak dan istrinya. Tak jarang keluarga kecil itu harus makan nasi dengan lauk ikan asin atau kerupuk saja.
Kemalangan hidup makin dirasakan Dirman saat anak ketiganya yang bernama
Agus terserang penyakit Kanker Mata. Awalnya, Agus yang berumur empat tahun
ini bermain-main dengan temannya. Tanpa sengaja mata Agus terkena pelor peluru
plastik dari senapan angin temannya. Karena tiada uang, Dirman hanya membelikan Agus
obat tetes mata saja. Tapi hal ini berakibat fatal, mata Agus menjadi merah dan bengkak.
Sebagai sahabat, Jafar muda manyarankan Dirman membawa anaknya ke dokter mata. ”Dirman, ayolah kita bawa Agus ke dokter mata. Kulihat anak itu setiap hari menangis menahankan matanya yang semakin hari semakin membesar. Aku takut nanti anak itu menjadi buta,” demikian kata
Wak Jafar kala itu.
“Jafar, aku sebenarnya kasihan melihat Agus, tapi kau tahukan dari mana aku punya
uang. Untuk makan saja kami sering ngutang di warung dan akhir bulan setelah gajian
baru dibayar,” keluh Dirman Karena kasihan Jafar dan istrinya membawa Agus ke dokter. Hasil diagnosa dokter menyimpulkan, mata Agus harus dioperasi dan retina mata kanannya harus
dibuang untuk mencegah ses-sel kanker menyebar ke retina mata kirinya.
Keadaan ini membuat Dirman dan istrinya shock. “Nah, pikiran Dirman yang kalut membawanya berkenalan dengan dunia hitam. Lewat temannya sesama buruh, Dirman diberitahu lokasi pesugihan di salah satu gunung di Jawa Timur,” cerita Wak Jafar di hadapan Penulis.
Dirman benar-benar sudah gelap mata. Yang ada dalam pikirannya hanya mendapatkan uang banyak untuk berobat anaknya dan merubah kehidupan mereka yang miskin.
Saat rencana ini diberitahukan pada sahabatnya, Jafar menasehati Dirman.,
“Ingat Man, bersekutu dengan siluman pada akhirnya akan membawa kesengsaraan.“
“Biarlah aku tetap meneruskan keinginanku apapun resikonya. Daripada aku terus-terusan menderita kemiskinan seperti ini. Hutang untuk berobat Agus juga kian hari kian menumpuk, kasihan anak dan istriku terus menderita. Kalau aku berhasil, aku kan bisa mengoperasikan mata Agus,”kilah Dirman
Setelah menitipkan anak dan istrinya pada Jafar, Dirman berangkat ke Jawa Timur. Jafar yang mengantar kepergian Dirman ke Pelabuhan Belawan hanya dapat membekalinya dengan sedikit uang untuk makan. Sedangkan pada istrinya, Dirman mengatakan dikontrak sebagai buruh
bangunan di salah satu perusahaan di Jawa Timur.
Begitulah! Setelah dua minggu kepergiannya, kejadian tragis menimpa keluarga Dirman. Anaknya Agus, tiba-tiba saja mengalami panas tinggi hingga kejangkejang. Jafar serta istrinya, juga Atik istri
Dirman, segera membawa Agus ke rumah sakit. Namun, nyawa anak ini tidak tertolong lagi. Menurut dokter, mata Agus infeksi, sel-sel kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Inilah yang menyebabkan kematian Agus.
Dalam pandangan masyarakat awam yang didukung oleh analisa medis, kematian Agus memang dikarenakan sakit kanker. Tidak demikian dalam pendangan alam gaib. Kematian Agus adalah keberhasilan Dirman bersekutu dengan penghuni gaib gunung di Jawa Timur itu. Tanpa setahu siapapun, Agus adalah tumbal Dirman untuk penghuni alam gaib pesugihan yang dipujanya.
Satu bulan kemudian, Dirman pulang ke kampungnya. Ketika diberitahu Atik bahwa anaknya, Agus, meninggal, Dirman pura-pura menangis. Padahal saat di dalam hati dia tersenyum puas dengan hasil kerja pesugihannya.
Malamnya usai makan, Dirman menyerahkan segepok uang pada istrinya.
”Bu, ini aku ada sedikit uang dari hasil kerja di Jawa sana. Aku mau kita berubah dan mulai usaha baru, aku sudah capai jadi buruh bongkar muat,” kata Dirman berbohong.
“Astaga! Banyak sekali uang ini, mau dibuat usaha apa, Pak?” Tanya Atik
“Ketika di Jawa sana, aku melihat seorang pedagang nasi goreng yang cukup berhasil. Aku juga sempat bekerja dan belajar meracik bumbu padanya. Aku mau kita mencoba usaha tersebut,” jelas Dirman.
“Tapi apa kamu yakin kita mampu berjualan, karena selama ini kan kamu hanya buruh bongkar muat, Pak?“ Ragu Atik
“Bu, kamu harus membantu aku. Kita cari tempat berjualan di persimpangan yang banyak dilalui kendaraan. Untuk menarik pelanggan harga nasi goreng yang kita jual lebih murah dari pedagang lain. Aku yakin kok, kita akan berhasil.”
Setelah mendaptat tempat di perempatan jalan, Dirman dan Atik mulai menggelar dagangannya. Satu persatu pembeli mulai berdatangan. Dalam beberapa bulan saja warung nasi goreng Dirman maju pesat.
Bagi pelanggan, nasi goreng Dirman memang sangat istimewa cita rasanya. Bahkan, setelah terkenal, Dirman mendapat julukan “Wak Jorok”. Enath siapa yang memulai panggilan ini. Yang jelas Dirman lebih popular dengan sebutan ini. Atau juga, banyak pelanggan memanggilnya dengan nama Wak Jorok karena setiap menggoreng nasi, Dirman selalu membiarkan nasi bertebaran di sekeliling penggorengan. Tempat berjualannya juga kurang bersih. Sampah-sampah kulit telur atau kulit timun kerap berserakan.
Tapi anehnya, walaupun warungnya kurang bersih dan terlihat jorok, pembeli berduyun-duyun mampir di warung Dirman. Dan setiap hari dagangannya laku keras.
“Kenyataan ini memang sempat mengherankan saya. Namun saya tidak berani menanyakan langsung kepada Dirman, sebab saya takut membutnya tersinggung,” cerita Wak Jafar lagi.
Seiring dengan perkembangan kehidupan Dirman, Wak Jafar juga melihat ada perubahan yang mencolok pada sahabatnya itu. Walaupun Dirman sudah menjadi pedagang yang sukses, tapi penampilan fisiknya tidak berubah.
Saat berdagang Dirman kerap berpakaian kumal dengan kaos oblong dan celana yang berwarna hitam. Entah apa maksud Dirman berpakaian seperti itu.
Sampai pada suatu hari, Dirman menceritakan pada Jafar mengapa dia kerap berpakaian kumal, “Aku harus berpakaian kumal karena itulah syarat dari pesugihanku. Siluman yang mendiami tubuhku berwujud makhluk tinggi besar, tubuhnya berbulu dan sangat bau. Lidahnya senantiasa menjulur meneteskan air liur yang berbau amis. Nasi goreng yang sering kutebarkan di sekitar
penggorengan juga merupakan permintaan makhluk itu. Dia akan memakan remah-remah nasi goreng itu.”
Dirman juga bercerita bahwa untuk menarik pelanggan, sebelum menggelar dagangannya, semua bahan-bahan jualan itu harus dia kentuti. Dibantu makhluk sesembahannya, aroma udara kentut itu akan menyebar dan memanggil orang untuk antri membeli dagangannya.
Mencuci beras untuk dimasak juga cukup satu kali saja, karena diyakini membuat rasa nasinya pulen dan enak.
Dirman menceritakan hal ini dengan harapan Jafar mau mengikuti jejaknya bersekutu dengan siluman. Tapi Jafar tetap pada pendiriannya. Bahwa bersekutu dengan iblis hanya akan
membawa kesengsaraan. Neraka jahanam sudah menanti bila mati kelak.
“Terus terang saja, aku nggak mikirin mati, lagipula siapa yang akan kenal aku di akhirat? Mumpung kita masih hidup, dimanfaatkan saja untuk mencari kekayaan. Kalau kita kaya orang-orang juga akan hormat pada kita,“ dalih Dirman.
Begitulah, bertahun-tahun kemudian keadaan keluarga Dirman semakin kaya.
Namun kehidupan ekonomi anak-anaknya tergolong pas-pasan. Bahkan satu anak
Dirman menderita penyakit gila karena keinginannya menjadi prajurit TNI tidak
kesampaian. Entahlah, apakah ini akibat pesugihannya ataupun karena hukuman
Allah?
Di akhir hayat Dirman, warung nasi gorengnya yang terkenal itu kehilangan pamor bagi pelanggannya. Pertambahan umur telah membuat tenaga Dirman makin berkurang, anak yang diharapkan menjadi penerus usahanya sudah menjadi gila pula.
Selain itu berdirinya restoran siap saji di persimpangan dekat warung Dirman juga telah mematikan usaha nasi gorengnya. Pelanggan lebih memilih warung siap saji itu.
Memikirkan warung nasi gorengnya yang mati suri membuat kesehatan Dirman makin
memburuk, hingga dia terbaring lemah di tempat tidur dengan perut membusung
dan nafas sesak, seperti keadaan yang diceritakan di atas. Keadaan Dirman yang tak kunjung sembuh membuat keluarganya kehabisan akal. Sahabatnya, Wak Jafar menyarankan agar Dirman dibawa berobat ke orang pintar.
Siang menjelang awal Ramadhan itu Pak Uwo, dukun terkenal dari Deli Tua dibawa Wak Jafar untuk mengobati Dirman. Ketika melihat kondisi Dirman, Pak Uwo menghela nafas berat.
“Carikan saya daun kelor, sirih bertemu uarat 10 lembar dan kain putih kira-kira setengah meter. Ambilkan air putih taruh dalam baskom!” pinta Pak Uwo
Pak Uwo lalu membaca doa-doa di hadapan Dirman. Setelah itu daun kelor dan sirih bertemu urat direndam pada air itu hingga malam hari. Tepat tengah malam Pak Uwo memerciki daun kelor yang sudah direndam air doadoa ke tubuh Wak Dirman, terutama ke perutnya yang membusung. Pusar Wak Dirman dan saluran pembuangan anus ditutup daun sirih bertemu urat.
Aneh, seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan perpusaran angin di tubuh Wak Dirman, tidak berapa lama Wak Dirman merasa perutnya mulas. Setelah itu dia buang angin (kentut) yang mengeluarkan bau yang sangat busuk. Melihat Wak Dirman buang angin, Pak Uwo meminta kain putih. Lalu Pak Uwo memiringkan tubuh Wak Dirman. Kain putih itupun dibalutkan ke tangan Pak Uwo sambil membaca doa-doa. Pak Uwo seperti mengambil sesuatu dari anus Wak Dirman.
Semua mata sanak saudara tertuju pada tangan Pak Uwo. Karena Pak Uwo seperti bertarung dengan kekuatan yang tak kasat mata. Setelah mengeluarkan tenaga yang cukup hebat, Pak Uwo berhasil mengambil sebuah benda dari anus Wak Dirman dan membungkusnya dengan kain putih.
“Pak Uwo, apakah kami bisa melihat benda yang diambil dari anus suami saya?“
tanya Wak Atik, istri Wak Dirman.
“Kalau memang Ibu tidak keberatan, saya akan perlihatkan, tapi setelah itu benda ini harus dibuang ke laut biar tidak disalahgunakan oleh orang lain,” jelas Pak Uwo.
Setelah membaca doa-doa, Pak Uwo membuka telapak tangannya yang terbungkus oleh kain putih. Saat dibentangkan terdapat sebuah benda dari logam berwarna kuning. Bentuknya seperti
kapsul besar tapi memancarkan sinar warna keemasan.
“Ternyata masih ada orang yang memakai susuk peluru emas. Susuk ini sering digunakan oleh pedagang dari Pulau Jawa,” jelas Pak Uwo.
Sesudah itu Wak Dirman minta dibawa ke kamar mandi. Belum sampai kamar
mandi, Wak Dirman sudah mengeluarkan kotoran yang sangat banyak dan berwarna
kehitam-hitaman dan bau yang menyengat hidung. Usai buang air besar, Wak Dirman
dimandikan Pak Uwo dengan dibantu anak dan kerabatnya. Lalu dibaringkan di
ruang tengah, dan ditunggui oleh sanak saudaranya. Pak Uwo sendiri melakukan ritual melarung susuk peluru emas itu ke laut yang jaraknya tidak begitu jauh dari
rumah Wak Dirman.
Keesokan harinya, pas hari pertama puasa, terdengar berita tentang kematian
Wak Dirman. Para tetangga, kerabat maupun pelanggan Wak Dirman turut melayat dan
mengantarkannya hingga ke pekuburan. Menurut berita yang tersiar, tiga bulan
kemudian, rumah Wak Dirman yang megah itu musnah dilalap api, tak ada satupun
barang yang dapat diselamatkan, bahkan mobil yang terparkir di garasi juga musnah
tanpa meninggalkan bekas.
Memang tidak ada korban jiwa, karena malam kejadian Wak Atik sedang berada
di rumah anaknya. Hasil penyelidikan menyatakan kebakaran terjadi akibat arus
pendek listrik. Entahlah, apakah memang begitu adanya atau karena ada kekuatan
lain.
Kisah ini merupakan sebuah kejadian nyata yang menimpa keluarga pedagang
nasi goreng terkenal di kotaku. Untuk melindungi privacy keluarga pelaku peristiwa, maka kami sengaja menyamarkan identitas mereka. Sudah hampir sebulan Wak Dirman terbaring lemah di tempat tidurnya. Tubuhnya kurus kering. Kedua kaki dan tangannya tinggal tulang terbungkus kulit, tapi perutnya membesar seperti wanita hamil sembilan bulan. Secara fisik Wak
Dirman seperti korban busung lapar.
Tidak seperti lazimnya orang sakit, Wak Dirman tidak dapat berbaring. Dia hanya bisa
duduk dengan disandari bantal di belakang punggungnya. Hal ini dilakukan karena
setiap berbaring nafasnya sesak, seolah-olah ada bongkahan batu besar yang menghimpit
dadanya.
Tuntunan kalimah Syahadat dan lafadzlafadz Ilaiyah yang dibisikkan istri, anak dan
kerabatnya sama sekali tidak dihiraukannya. Dari bibirnya hanya terdengar suara rintihan
kesakitan. Keluarganya hanya bisa menangis melihat penderitaan orang yang dicintainya
yang begitu memilukan. Sedangkan istrinya, Wak Atik, terpekur di ujung tempat tidur
sambil mengusap lembut kaki Wak Dirman, suaminya.
Upaya pengobatan sudah dilakukan. Hasil diagnosa dokter menyebutkan bahwa Wak Dirman mengalami penyumbatan usus. Memang, sudah sepuluh hari dia tidak bisa
buang air besar, bahkan buang angin juga tidak bisa. Mungkin karena itulah lamakelamaan perutnya membesar.
Dokter sudah berupaya dengan memberikan resep oabat-obatan pencahar perut. Namun sepertinya kotoran di usus Wak Dirman mampet dan menumpuk hingga membuat perutnya kian besar dan nafasnya sesak.
Tetangga yang menyaksikan penderitaan Wak Dirman hanya bisa mengusap dada dan
banyak mengucapkan Istighfar. Di antara mereka bahkan bertanya-tanya: Dosa apa
sebenarnya yang pernah diperbuat Wak Dirman semasa mudanya sehingga dia
mengalami penyakit itu? Maklum saja, setahu mereka, sosok Wak Dirman adalah seorang pedagang warung nasi goreng yang cukup berhasil. Dan selama ini Wak Dirman terkenal sebagai seorang yang sangat dermawan.
Dari hasil penjualan warung nasi gorengnya Wak dirman memiliki rumah yang megah, sawah yang tersebar di di beberapa tempat, serta beberapa mobil angkutan di samping mobil pribadinya. Di masa tuanya Wak Dirman cukup kaya untuk ukuran orang kampung.
Tapi para tetangganya tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Wak Dirman pernah melakukan perjanjian gaib dengan penghuni goa keramat di wilayah Jawa Timur. Hanya sahabatnya saja yang tahu rahasia ini.
Wak Jafar, demikian nama sang sahabat. Dari penuturan Wak Jafar inilah terungkap perjalanan hidup Wak Dirman di masa mudanya.
“Dirman muda adalah seorang yang taat beribadah dan rajin bekerja. Segala upaya telah dilakukan untuk mengangkat ekonomi keluarganya yang miskin. Dirman yang menikahi Atikah terpaksa bergantiganti pekerjaan mulai dari buruh bangunan, buruh bongkar muat di pelabuhan, hingga
penarik becak pernah dijalaninya,” tutur Wak Jafar mulai bercerita.
Hingga memiliki tiga orang anak, kehidupan Dirman belum berubah juga. Upah bekerjanya habis untuk kebutuhan anak dan istrinya. Tak jarang keluarga kecil itu harus makan nasi dengan lauk ikan asin atau kerupuk saja.
Kemalangan hidup makin dirasakan Dirman saat anak ketiganya yang bernama
Agus terserang penyakit Kanker Mata. Awalnya, Agus yang berumur empat tahun
ini bermain-main dengan temannya. Tanpa sengaja mata Agus terkena pelor peluru
plastik dari senapan angin temannya. Karena tiada uang, Dirman hanya membelikan Agus
obat tetes mata saja. Tapi hal ini berakibat fatal, mata Agus menjadi merah dan bengkak.
Sebagai sahabat, Jafar muda manyarankan Dirman membawa anaknya ke dokter mata. ”Dirman, ayolah kita bawa Agus ke dokter mata. Kulihat anak itu setiap hari menangis menahankan matanya yang semakin hari semakin membesar. Aku takut nanti anak itu menjadi buta,” demikian kata
Wak Jafar kala itu.
“Jafar, aku sebenarnya kasihan melihat Agus, tapi kau tahukan dari mana aku punya
uang. Untuk makan saja kami sering ngutang di warung dan akhir bulan setelah gajian
baru dibayar,” keluh Dirman Karena kasihan Jafar dan istrinya membawa Agus ke dokter. Hasil diagnosa dokter menyimpulkan, mata Agus harus dioperasi dan retina mata kanannya harus
dibuang untuk mencegah ses-sel kanker menyebar ke retina mata kirinya.
Keadaan ini membuat Dirman dan istrinya shock. “Nah, pikiran Dirman yang kalut membawanya berkenalan dengan dunia hitam. Lewat temannya sesama buruh, Dirman diberitahu lokasi pesugihan di salah satu gunung di Jawa Timur,” cerita Wak Jafar di hadapan Penulis.
Dirman benar-benar sudah gelap mata. Yang ada dalam pikirannya hanya mendapatkan uang banyak untuk berobat anaknya dan merubah kehidupan mereka yang miskin.
Saat rencana ini diberitahukan pada sahabatnya, Jafar menasehati Dirman.,
“Ingat Man, bersekutu dengan siluman pada akhirnya akan membawa kesengsaraan.“
“Biarlah aku tetap meneruskan keinginanku apapun resikonya. Daripada aku terus-terusan menderita kemiskinan seperti ini. Hutang untuk berobat Agus juga kian hari kian menumpuk, kasihan anak dan istriku terus menderita. Kalau aku berhasil, aku kan bisa mengoperasikan mata Agus,”kilah Dirman
Setelah menitipkan anak dan istrinya pada Jafar, Dirman berangkat ke Jawa Timur. Jafar yang mengantar kepergian Dirman ke Pelabuhan Belawan hanya dapat membekalinya dengan sedikit uang untuk makan. Sedangkan pada istrinya, Dirman mengatakan dikontrak sebagai buruh
bangunan di salah satu perusahaan di Jawa Timur.
Begitulah! Setelah dua minggu kepergiannya, kejadian tragis menimpa keluarga Dirman. Anaknya Agus, tiba-tiba saja mengalami panas tinggi hingga kejangkejang. Jafar serta istrinya, juga Atik istri
Dirman, segera membawa Agus ke rumah sakit. Namun, nyawa anak ini tidak tertolong lagi. Menurut dokter, mata Agus infeksi, sel-sel kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Inilah yang menyebabkan kematian Agus.
Dalam pandangan masyarakat awam yang didukung oleh analisa medis, kematian Agus memang dikarenakan sakit kanker. Tidak demikian dalam pendangan alam gaib. Kematian Agus adalah keberhasilan Dirman bersekutu dengan penghuni gaib gunung di Jawa Timur itu. Tanpa setahu siapapun, Agus adalah tumbal Dirman untuk penghuni alam gaib pesugihan yang dipujanya.
Satu bulan kemudian, Dirman pulang ke kampungnya. Ketika diberitahu Atik bahwa anaknya, Agus, meninggal, Dirman pura-pura menangis. Padahal saat di dalam hati dia tersenyum puas dengan hasil kerja pesugihannya.
Malamnya usai makan, Dirman menyerahkan segepok uang pada istrinya.
”Bu, ini aku ada sedikit uang dari hasil kerja di Jawa sana. Aku mau kita berubah dan mulai usaha baru, aku sudah capai jadi buruh bongkar muat,” kata Dirman berbohong.
“Astaga! Banyak sekali uang ini, mau dibuat usaha apa, Pak?” Tanya Atik
“Ketika di Jawa sana, aku melihat seorang pedagang nasi goreng yang cukup berhasil. Aku juga sempat bekerja dan belajar meracik bumbu padanya. Aku mau kita mencoba usaha tersebut,” jelas Dirman.
“Tapi apa kamu yakin kita mampu berjualan, karena selama ini kan kamu hanya buruh bongkar muat, Pak?“ Ragu Atik
“Bu, kamu harus membantu aku. Kita cari tempat berjualan di persimpangan yang banyak dilalui kendaraan. Untuk menarik pelanggan harga nasi goreng yang kita jual lebih murah dari pedagang lain. Aku yakin kok, kita akan berhasil.”
Setelah mendaptat tempat di perempatan jalan, Dirman dan Atik mulai menggelar dagangannya. Satu persatu pembeli mulai berdatangan. Dalam beberapa bulan saja warung nasi goreng Dirman maju pesat.
Bagi pelanggan, nasi goreng Dirman memang sangat istimewa cita rasanya. Bahkan, setelah terkenal, Dirman mendapat julukan “Wak Jorok”. Enath siapa yang memulai panggilan ini. Yang jelas Dirman lebih popular dengan sebutan ini. Atau juga, banyak pelanggan memanggilnya dengan nama Wak Jorok karena setiap menggoreng nasi, Dirman selalu membiarkan nasi bertebaran di sekeliling penggorengan. Tempat berjualannya juga kurang bersih. Sampah-sampah kulit telur atau kulit timun kerap berserakan.
Tapi anehnya, walaupun warungnya kurang bersih dan terlihat jorok, pembeli berduyun-duyun mampir di warung Dirman. Dan setiap hari dagangannya laku keras.
“Kenyataan ini memang sempat mengherankan saya. Namun saya tidak berani menanyakan langsung kepada Dirman, sebab saya takut membutnya tersinggung,” cerita Wak Jafar lagi.
Seiring dengan perkembangan kehidupan Dirman, Wak Jafar juga melihat ada perubahan yang mencolok pada sahabatnya itu. Walaupun Dirman sudah menjadi pedagang yang sukses, tapi penampilan fisiknya tidak berubah.
Saat berdagang Dirman kerap berpakaian kumal dengan kaos oblong dan celana yang berwarna hitam. Entah apa maksud Dirman berpakaian seperti itu.
Sampai pada suatu hari, Dirman menceritakan pada Jafar mengapa dia kerap berpakaian kumal, “Aku harus berpakaian kumal karena itulah syarat dari pesugihanku. Siluman yang mendiami tubuhku berwujud makhluk tinggi besar, tubuhnya berbulu dan sangat bau. Lidahnya senantiasa menjulur meneteskan air liur yang berbau amis. Nasi goreng yang sering kutebarkan di sekitar
penggorengan juga merupakan permintaan makhluk itu. Dia akan memakan remah-remah nasi goreng itu.”
Dirman juga bercerita bahwa untuk menarik pelanggan, sebelum menggelar dagangannya, semua bahan-bahan jualan itu harus dia kentuti. Dibantu makhluk sesembahannya, aroma udara kentut itu akan menyebar dan memanggil orang untuk antri membeli dagangannya.
Mencuci beras untuk dimasak juga cukup satu kali saja, karena diyakini membuat rasa nasinya pulen dan enak.
Dirman menceritakan hal ini dengan harapan Jafar mau mengikuti jejaknya bersekutu dengan siluman. Tapi Jafar tetap pada pendiriannya. Bahwa bersekutu dengan iblis hanya akan
membawa kesengsaraan. Neraka jahanam sudah menanti bila mati kelak.
“Terus terang saja, aku nggak mikirin mati, lagipula siapa yang akan kenal aku di akhirat? Mumpung kita masih hidup, dimanfaatkan saja untuk mencari kekayaan. Kalau kita kaya orang-orang juga akan hormat pada kita,“ dalih Dirman.
Begitulah, bertahun-tahun kemudian keadaan keluarga Dirman semakin kaya.
Namun kehidupan ekonomi anak-anaknya tergolong pas-pasan. Bahkan satu anak
Dirman menderita penyakit gila karena keinginannya menjadi prajurit TNI tidak
kesampaian. Entahlah, apakah ini akibat pesugihannya ataupun karena hukuman
Allah?
Di akhir hayat Dirman, warung nasi gorengnya yang terkenal itu kehilangan pamor bagi pelanggannya. Pertambahan umur telah membuat tenaga Dirman makin berkurang, anak yang diharapkan menjadi penerus usahanya sudah menjadi gila pula.
Selain itu berdirinya restoran siap saji di persimpangan dekat warung Dirman juga telah mematikan usaha nasi gorengnya. Pelanggan lebih memilih warung siap saji itu.
Memikirkan warung nasi gorengnya yang mati suri membuat kesehatan Dirman makin
memburuk, hingga dia terbaring lemah di tempat tidur dengan perut membusung
dan nafas sesak, seperti keadaan yang diceritakan di atas. Keadaan Dirman yang tak kunjung sembuh membuat keluarganya kehabisan akal. Sahabatnya, Wak Jafar menyarankan agar Dirman dibawa berobat ke orang pintar.
Siang menjelang awal Ramadhan itu Pak Uwo, dukun terkenal dari Deli Tua dibawa Wak Jafar untuk mengobati Dirman. Ketika melihat kondisi Dirman, Pak Uwo menghela nafas berat.
“Carikan saya daun kelor, sirih bertemu uarat 10 lembar dan kain putih kira-kira setengah meter. Ambilkan air putih taruh dalam baskom!” pinta Pak Uwo
Pak Uwo lalu membaca doa-doa di hadapan Dirman. Setelah itu daun kelor dan sirih bertemu urat direndam pada air itu hingga malam hari. Tepat tengah malam Pak Uwo memerciki daun kelor yang sudah direndam air doadoa ke tubuh Wak Dirman, terutama ke perutnya yang membusung. Pusar Wak Dirman dan saluran pembuangan anus ditutup daun sirih bertemu urat.
Aneh, seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan perpusaran angin di tubuh Wak Dirman, tidak berapa lama Wak Dirman merasa perutnya mulas. Setelah itu dia buang angin (kentut) yang mengeluarkan bau yang sangat busuk. Melihat Wak Dirman buang angin, Pak Uwo meminta kain putih. Lalu Pak Uwo memiringkan tubuh Wak Dirman. Kain putih itupun dibalutkan ke tangan Pak Uwo sambil membaca doa-doa. Pak Uwo seperti mengambil sesuatu dari anus Wak Dirman.
Semua mata sanak saudara tertuju pada tangan Pak Uwo. Karena Pak Uwo seperti bertarung dengan kekuatan yang tak kasat mata. Setelah mengeluarkan tenaga yang cukup hebat, Pak Uwo berhasil mengambil sebuah benda dari anus Wak Dirman dan membungkusnya dengan kain putih.
“Pak Uwo, apakah kami bisa melihat benda yang diambil dari anus suami saya?“
tanya Wak Atik, istri Wak Dirman.
“Kalau memang Ibu tidak keberatan, saya akan perlihatkan, tapi setelah itu benda ini harus dibuang ke laut biar tidak disalahgunakan oleh orang lain,” jelas Pak Uwo.
Setelah membaca doa-doa, Pak Uwo membuka telapak tangannya yang terbungkus oleh kain putih. Saat dibentangkan terdapat sebuah benda dari logam berwarna kuning. Bentuknya seperti
kapsul besar tapi memancarkan sinar warna keemasan.
“Ternyata masih ada orang yang memakai susuk peluru emas. Susuk ini sering digunakan oleh pedagang dari Pulau Jawa,” jelas Pak Uwo.
Sesudah itu Wak Dirman minta dibawa ke kamar mandi. Belum sampai kamar
mandi, Wak Dirman sudah mengeluarkan kotoran yang sangat banyak dan berwarna
kehitam-hitaman dan bau yang menyengat hidung. Usai buang air besar, Wak Dirman
dimandikan Pak Uwo dengan dibantu anak dan kerabatnya. Lalu dibaringkan di
ruang tengah, dan ditunggui oleh sanak saudaranya. Pak Uwo sendiri melakukan ritual melarung susuk peluru emas itu ke laut yang jaraknya tidak begitu jauh dari
rumah Wak Dirman.
Keesokan harinya, pas hari pertama puasa, terdengar berita tentang kematian
Wak Dirman. Para tetangga, kerabat maupun pelanggan Wak Dirman turut melayat dan
mengantarkannya hingga ke pekuburan. Menurut berita yang tersiar, tiga bulan
kemudian, rumah Wak Dirman yang megah itu musnah dilalap api, tak ada satupun
barang yang dapat diselamatkan, bahkan mobil yang terparkir di garasi juga musnah
tanpa meninggalkan bekas.
Memang tidak ada korban jiwa, karena malam kejadian Wak Atik sedang berada
di rumah anaknya. Hasil penyelidikan menyatakan kebakaran terjadi akibat arus
pendek listrik. Entahlah, apakah memang begitu adanya atau karena ada kekuatan
lain.
Tuesday, 12 July 2016
MISTERI MANARIK UANG GAIB
Cerita Misteri - Sore itu penulis kedatangan tiga orang tamu, orang pertama bukan orang asing karena ia adalah saudara sepupu penulis. Sementara dua orang laki-laki yang datang bersamanya penulis merasa belum kenal. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, kami ngobrol di teras rumah.
“Oh iya mas, perkenalkan ini temanku, Pak Nanang, beliau sehari-hari mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Kalau yang itu Pak Didin, kontraktor.” Kata Roman, adik sepupu penulis, memperkenalkan teman-temannya. Kami pun bersalaman sambil mengucapkan nama masing-masing.
“Lama juga kamu tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar istri dan anak-anak?” Kataku memulai pembicaraan.
“Baik-baik saja mas, hanya kantong saja yang tidak pernah baik,” jawab Roman setengah bergurau.
“Lho, kamu baru saja diangkat jadi supervisor kan? Itu mobil dinasmu saja baru. Masa kantong gak bertambah tebal, takut diminta ya?” Kataku membalas gurauannya.
“Ngomong-ngomong, tumben malam- malam berkunjung tanpa telpon dulu, pake bawa pengawal lagi. Ada apa nich?” Tanyaku kemudian.
Roman melirik teman-temannya dulu sebelum menjawab pertanyaanku. ”Iya mas, aku dan temen-temen ada perlu,
Aku melihat uang yang jumlahnya bukan kepalang, sekamar penuh. Tapi rupanya itu hanya ilusi, permainan sihir yang membutakan mau pinjam uang. Ini Pak Nanang bawa sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Untuk lebih jelasnya biar Pak Nanang yang
mata dan hatiku. Nyatanya hingga aku sengsara pun uang itu tak bisa digunakan sama sekali…
menjelaskan.
Aku melirik ke arah Pak Nanang yang mulai berbicara. ”Begini mas, sebenarnya kami ke sini bukan untuk meminjam uang, tapi mau mengajak kerjasama. Tapi kalau mas tidak mau bekerja sama, ya alternatif terakhir kami memang mau pinjam uang saja.”
Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan pembuka Pak Nanang. “Bisa dijelaskan kerjasama apa pak?” Tanyaku penasaran. Mulailah Pak Nanang menceritakan pengalaman beliau dan kelompoknya.
Kurang lebih tiga bulan lalu, Pak Nanang dikenalkan oleh salah seorang temannya ke mbah Anu. Mbah Anu ini memiliki keahlian untuk menyedot uang dengan cara gaib. Uang yang diambil adalah uang para pejabat yang disimpan di satu tempat. Para pejabat ini tidak mau menyimpan uangnya di bank karena jumlahnya sangat besar sehingga takut ditelusuri asal-usulnya oleh pihak berwenang.
Sebagai seorang akademisi, Pak Nanang awalnya tidak percaya akan cerita tersebut. Namun ceritanya menjadi lain ketika pada suatu waktu Pak Nanang diajak oleh mbah Anu ke satu tempat di pinggiran Tangerang. Di satu desa terpencil ternyata ada sebuah rumah yang lumayan megah. Sekeliling rumah tersebut dibentengi oleh pagar tembok setinggi kira-kira 2 meter ditambah kawat berduri di atasnya. Di depan gerbang pintu masuk nampak beberapa orang berjaga-jaga.
Dengan tenang Mbah Anu berjalan menemui para penjaga tersebut, dan meminta ijin untuk melongok ke dalam rumah. Seperti yang sudah kenal, para penjaga mempersilahkan Mbah Anu dan Pak Nanang masuk halaman rumah, tapi hanya sampai batas tertentu saja, sebatas bisa melongok ke dalam melalui celah kaca yang terbuka sedikit. Ketika melongok ke dalam rumah, alangkah terkejutnya Pak Nanang karena yang dia lihat, di seluruh ruangan penuh dengan uang ratusan ribu rupiah yang bertumpuk dengan rapi. Uang sebanyak itu berapa milyar atau trilyun? Demikian batin Pak Nanang saat itu.
Dalam perjalanan pulang Mbah Anu bercerita bahwa uang itu milik seorang Jendral. Beberapa kali ada yang mencoba mencuri, tapi semuanya ditemukan telah menjadi mayat dengan mata mendelik seperti ketakutan. Rupanya pengamanan rumah itu diserahkan pada mahluk gaib yang akan membunuh siapa pun yang nekat mencoba mengambil uang tersebut tanpa seijin pemiliknya.
Mbah Anu sanggup meminta uang tersebut kepada para penjaga gaib dengan cara menyogoknya, yaitu memberikan
Sesajen yang mereka sukai. Mbah Anu minta tolong Pak Nanang untuk mencari uang guna membeli sesejen yang dibutuhkan. Berbagai macam buhur yang harganya selangit minta disiapkan. Mbah Anu meyakinkan Pak Nanang untuk tidak ragu dengan harga sesajen yang jumlahnya mencapai 150 juta rupiah karena hasil yang didapat bisa berpuluh bahkan beratus lipat. Karena telah melihat dengan mata kepala sendiri mengenai keberadaan uang itu, Pak Nanang menjadi percaya dan tertarik dengan ajakan Mbah Anu.
Singkat cerita, Pak Nanang berhasil mengajak 6 orang temannya, termasuk Roman, adik sepupu penulis untuk mengadakan ritual pengambilan uang gaib. Mereka kemudian urunan untuk membeli persyaratan yang dibutuhkan. Setelah persyaratan siap semuanya, berangkatlah mereka, 6 orang kelompok Pak Nanang dengan Mbah Anu ditambah 4 orang muridnya, menuju sebuah hotel berbintang di daerah Bandung Utara. Menurut Mbah Anu proses ritual membutuhkan tempat yang luas dan tenang, sehingga hotel berbintang dengan suite roomnya menjadi pilihan yang pas. Bila ritual dilakukan di rumah salah seorang kelompok tersebut, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak baik terhadap penghuni rumah yang lain, demikian kata Mbah Anu. Setelah sampai ruangan hotel, ke empat murid Mbah Anu menata sesaji di tengah ruangan. Tempat tidur, meja, kursi semua dipinggirkan.
“Sekarang mari kita mulai, semua orang harap duduk mengelilingi sesaji. Nanti lampu akan dipadamkan. Pada saat lampu padam tidak boleh ada yang bersuara sedikit pun.” Titah Mbah Anu.
“Nanti kalau ada suara yang jatuh semua harap diam, tidak boleh ada yang bergerak, apalagi mengambil barang yang jatuh tersebut!” Kata Mbah Anu melanjutkan instruksinya.
Dengan rapih mereka duduk mengelilingi sesaji. Dengan isyarat, Mbah Anu menyuruh salah seorang muridnya untuk memadamkan lampu. Suasana kamar menjadi hening dan mencekam. Cahaya yang ada hanya sinar remang-remang, berasal dari pedupaan yang berisi bara api. Mbah Anu mulai membakar madat Turki yang harganya mencapai 25 juta rupiah. Seketika suasana ruangan menjadi semerbak oleh harumnya madat. Suasana menjadi tambah mendirikan bulu roma ketika Mbah Anu membacakan mantra- mantra dan membuka botol minyak wangi Elizabeth Arden serta membakar apel jin Arab.
Sekitar setengah jam mantra dibacakan, tiba-tiba bruuakkk!!! Terdengar suara benda jatuh menimpa sesajen yang ada.
Semua terlonjak kaget. Semua mata dalam ruangan itu tertuju ke arah benda yang jatuh. Dalam keremangan tampaklah sebuah kardus bekas mie instan. Di dalam kardus itu tampak tumpukan uang ratusan ribu rupiah, lengkap dengan bundelnya, sekardus penuh.
Melihat tumpukan uang dalam kardus tersebut, spontan ke enam orang berdiri dan menuju ke tengah ruang, ingin melihat dengan lebih dekat dan lebih jelas lagi. Pada saat salah seorang hampir sampai dan tangannya mau menggapai kardus tersebut, tiba-tiba sesaji beterbangan seperti ada yang melempar. Kelapa muda menghantam perut Roman, bunga setaman menerpa muka beberapa orang. Botol-botol bekas minyak dan buhur juga ikut terbang ada yang menghantam kening, ada yang kena perut, kaki dan bagian tubuh lainnya. Mbah Anu bahkan terhantam pedupaan yang masih berisi bara yang menyala.
Melihat itu, Mbah Anu buru-buru berdiri dan menyalakan lampu ruangan. Keadaan yang semula kacau menjadi tenang kembali, namun sekarang ruangan itu seperti kapal pecah. Semua barang, termasuk uang dalam kardus bertebaran di sana-sini.
“Sudah, diam semua, sekarang bereskan semua barang yang berantakan, tapi ingat, bila kejadian ini tidak ingin terulang lagi jangan ada seorang pun yang berani menyentuh uang itu!” Bentak Mbah Anu dengan suara menggelegar. Maka mulailah mereka membereskan ruangan itu, sementara Mbah Anu mengumpulkan bundel-bundel uang yang tercecer dan memasukannya kembali ke dalam kardus.
Setelah semua beres, mereka duduk kembali mengelilingi kardus tersebut. “Itulah akibatnya kalau kalian tidak mengikuti perintahku. Masih untung diantara kita tidak ada yang terluka parah.” Kata Mbah Anu sambil menepis-nepis bajunya yang terkena bara api.
“Maaf mbah, tadi saya penasaran saja ingin mendekat, soalnya yang lain juga pada mendekat.” Kata Roman sambil mengusap perutnya yang terkena hantaman kelapa muda.
“Iya, tadi siapa sich yang mulai bergerak dulu? Saya juga jadi ikutan,” kata Pak Nanang sambil mengelus-ngelus benjol di jidatnya terkena hantaman botol minyak wangi elizabeth arden.
Mbah Anu melerai pertengkaran diantara mereka. ”Sudah, sekarang jangan ada yang saling menyalakan. Yang penting sekarang kita telah berhasil mendapatkan uang itu.” Kata Mbah Anu sambil menunjuk kardus yang penuh uang.
“Betul Mbah, sekarang bagaimana? Kita bisa membagi uang itu?” Tanya Pak Nanang dengan mata berbinar.
“Belum, sekarang mari kita hitung saja dulu ada berapa uang yang berhasil kita dapatkan.” Kata Mbah Anu sambil mengambil kardus lalu meletakkannya di dekat tempat dia duduk.
Mbah Anu kemudian mengambil satu gepok uang, lalu menunjukkannya pada semua. Uang itu seperti uang baru karena masih ada pita bundelannya. Di bundelan berwarna kuning kecoklatan yang mengikat uang tersebut tertera tulisan Bank Rakyat Indonesia, Rp 10.000.000,00.
“Lihat ini betul-betul uang asli, masih ada ikatannya.” Kata Mbah Anu sambil memberikan uang itu ke Pak Nanang.
Pak Nanang menerima uang itu, lalu mengamatinya. Kemudian uang tersebut berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain, sampai kembali lagi ke tangan Mbah Anu. Mbah Anu kemudian melepaskan bundelan/pita yang mengikat uang tersebut satu persatu. Sementara uangnya ia masukkan kembali ke dalam dus. Setelah dihitung ternyata bundelan uang tersebut berjumlah 132 buah. Semua sumringah karena berarti total uang di dalam kardus itu sebesar 1,32 Milyar rupiah.
Setelah selesai menghitung, Mbah Anu berkata. “Uang ini belum bisa kita pakai. Sebenarnya kalau kalian tadi bersabar, minimal kita akan diberikan 3 kardus. Tapi karena baru satu kardus yang dikirim kalian keburu ribut, mahluk gaib yang tidak mau disogok oleh kita, menjadi tahu dan marah, akibatnya telah kita rasakan tadi. Tadi telah kita hitung bersama jumlah bundelannya yang berarti uang di dalam kardus itu berjumlah satu milayar tiga ratus dua puluh juta rupiah. Kita harus menghitung uang jumlah ini karena di antara kalian berenam, ada tiga orang yang hatinya berniat kurang baik.
Uang itu sampai Jumat depan belum boleh dipakai, masih harus dirituali lagi. Romanlah yang akan membawa dan menjaga uang ini sampai Jumat depan. Kita tenang saja dulu supaya semua betul-betul aman. Kalau kita gunakan uang tersebut sekarang maka paling tidak akan ada satu orang keluarga di antara kalian yang akan diminta sebagai tumbal. Jadi mari kita sabar sebentar, Roman tidak akan mungkin menggunakan uang itu karena kita tahu betul jumlahnya dan kalaupun Roman nekat menggunakan uang tersebut, walaupun hanya selembar, taruhannya adalah nyawa.” Akhirnya pulanglah mereka ke rumah masing-masing dengan harapan besar karena uang sudah mereka pegang. Jumat minggu depannya, mereka kembali melaksanakan ritual di tempat semula. Bedanya kali ini mereka hanya berjumlah tujuh orang karena Mbah Anu datang sendiri tanpa didampingi muridnya.
Sama seperti ritual pertama, kali ini pun mereka menghabiskan dana yang cukup banyak yaitu sebesar 25 juta rupiah sebagai syarat untuk membeli sesaji. Setelah ritual selesai dijalankan, kali ini mereka mendapat tambahan tiga kardus uang lagi sehingga total menjadi 4 kardus yang mereka dapatkan.Tapi alangkah kecewanya mereka karena seperti ritual pertama, kali ini pun uang- uang tersebut belum boleh dipakai. Mbah Anu mengatakan bahwa ghaib yang dimintai bantuannya tetap minta tebusan nyawa karena tiga orang diantara mereka punya hati dan niat jelek. Mbah Anu akhirnya meminta tiga orang yang dianggap berhati jelek untuk mundur dari kelompok tersebut.
Setelah berdebat cukup lama, ketiga orang yang disuruh mundur tersebut bersedia, dengan catatan uang urunan mereka dikembalikan seutuhnya. Akhirnya, Roman, Pak Nanang dan Pak Didin terpaksa mengumpulkan uang dari kantong mereka, karena uang yang di dalam kardus belum boleh dipakai.
Menurut Mbah Anu mereka hanya membutuhkan satu kali ritual lagi supaya uang itu betul-betul bersih dan aman untuk digunakan. Kali ini ritual harus dijalani di sebuah hutan di daerah Jawa Barat.
“Begitulah mas ceritanya.” Kata Pak Nanang sambil menghisap rokoknya dalam- dalam. “Maksud kami datang ke sini mau mengajak kerjasama mas untuk mendanai kebutuhan ritual terakhir, nanti kalau sudah selesai kami kembalikan 5 kali lipatnya.”
Mendengar uraian Pak Nanang tersebut, aku tersenyum. ”Memang berapa uang yang dibutuhkan?” Tanyaku pada Roman.
“Perkiraan kami lumayan besar mas, sekitar 50 jutaan karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 hari sehingga butuh sewa kendaraan, bensin, sewa hotel, makan dan yang terbesar tentu saja biaya sesajen karena harus membeli elizabeth arden lagi,” Jawab Roman.
Pak Didin yang dari tadi diam kemudian menimpali. ”Iya mas, kami sudah kehabisan uang untuk ritual yang lalu dan biaya lain- lain. Kalau perlu pengembaliannya nanti saya tambahin mas, dari jatah saya. Kalau tidak diteruskan juga sayang kan mas, tinggal sekali ritual lagi,” katanya dengan serius.
“Kenapa tidak pinjam ke Bank saja, jaminan kan ada sertifikat, pengembalian juga nanti lebih murah,” kataku memberi usulan.
“Susah mas, prosedurnya itu yang memakan waktu lama mana istri saya juga belum tentu mau menandatangani pinjaman,” jawab Pak Nanang merespon usulku.
Penulis terdiam mendengar jawaban Pak Nanang. Dalam hati, sebenarnya penulis tidak mau bekerjasama apalagi
meminjamkan uang untuk hal yang belum pasti seperti itu. Soalnya bukan apa-apa, berdasarkan pengalaman, sudah berpuluh orang yang tertipu dengan praktek semacam itu. Ujung-ujungnya paranormal menghilang entah ke mana, uang ikut amblas.
“Begini, saya minta maaf sebelumnya. Untuk saat ini saya tidak memiliki uang sebesar itu, kalau 50 ribu sih ada,” kata penulis mencoba berdiplomasi sambil mencairkan suasana.
Roman langsung bereaksi. ”Tolonglah mas, ini kami sudah terlanjur keluar uang terlalu banyak. Bahkan sebagian uang saya pakai adalah uang perusahaan yang harus dikembalikan akhir bulan ini. Kalau sampai ritual terakhir ini tidak dijalankan, bisa-bisa saya dipecat mas. Tolonglah mas,” katanya dengan nada memelas.
Kasihan juga mendengar rengekannya, lalu dengan harapan supaya mereka cepat pergi penulis mencoba memberi harapan. “Begini saja, ritual kan masih seminggu lagi, besok saya akan coba pinjam di koperasi. Kalau uangnya ada, nanti saya pinjamkan atas nama saya dengan jaminan sertifikat tersebut.”
Mendengar itu mereka bertiga nampak seperti lega. ”Trimakasih mas, kalau begitu sertifikatnya disimpan di sini saja, biar besok gampang kalau diperlukan,” kata Pak Nanang.
“Tidak usah pak, sertifikatnya dibawa saja dulu. Nanti kalau diperlukan saya kabari melalui Roman,” jawab penulis.
Akhirnya setelah ngobrol agak panjang, mereka pun berpamitan. Sebelum pulang penulis menitipkan uang untuk anak-anak Roman. “Man, ini untuk jajan anak-anak. Awas harus sampai ke anak-anak, jangan untuk keperluan ritual-ritualan. Kalau perlu ya ambilah sebagian, untuk beli pulsa!” Pesan penulis pada Roman.
“Trimakasih mas, pasti saya sampaikan buat anak-anak, soalnya takut kualat,” kata Roman sambil menerima uang titipanku.
Esok harinya penulis menelpon Roman dan meminta maaf padanya dengan mengatakan bahwa uang di koperasi lagi kosong jadi tidak bisa memberikan pinjaman. Ditelpon, Roman tetap merengek- rengek minta bantuan. Dengan tegas penulis tetap menolaknya, dengan mengatakan bahwa kasus seperti itu banyak terjadi, tapi penulis belum pernah menemui orang yang bisa menikmati hasilnya. Walaupun uang atau benda tersebut sudah berwujud, biasanya sang paranormal selalu mengatakan belum bisa dipakai dengan alasan bermacam-macam.
Yang terjadi adalah ritual terus menerus dan itu artinya memerlukan biaya yang terus menerus pula. Penulis bahkan kenal
Seorang ibu yang mobilnya digadaikan dan akhirnya diceraikan oleh suaminya karena inovanya hilang, hasilnya nol, sang paranormal berikut kelompoknya raib entah ke mana.
Penjelasanku membuat Roman penasaran sehingga dia minta untuk bertemu. Sore harinya kami bertemu di rumah Roman, sekalian ingin melihat kardus yang katanya berisi uang itu.
“Mari mas kita ke kamar belakang saja, di sana saya menyimpan kardus-kardus itu.” Kata Roman begitu aku sampai di rumahnya. Kami berdua menuju ke kamar belakang, setelah pintu dibuka, nampak keadaan kamar tersebut gelap gulita.
“Mbah Anu melarang menyalakan lampu kamar ini selama kardus disimpan di sini mas,” kata Roman.
“Kenapa?” Tanya penulis penasaran. “Tidak tahu ya mas, yang jelas sejak kardus-kardus itu disimpan di sini, beberapa kali istriku mendengar suara-suara aneh dari kamar ini. Lalu si Alfin, anakku yang paling kecil sering sekali mengatakan melihat orang tinggi besar berdiri di depan pintu kamar,” terang Roman.
“Lalu bagaimana aku bisa melihat kardus-kardus itu, lha wong kamarnya saja gelap begitu?” Tanyaku padanya.
“Gampang mas, nanti saya ambilkan saja satu atau dua kardus,” kata Roman sambil masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan menenteng kardus yang dibungkus oleh selembar kain putih. Katanya kardus itu dibungkus oleh Mbah Anu dan tidak boleh ada yang membukanya kalau tidak mau ada resiko. Karena penasaran ingin melihat isinya, kemudian penulis bertanya,
“Kamu mengijinkan tidak kalau aku membuka bungkusan kardus itu dan melihat isinya?.”
Roman buru-buru menjawab, ”Jangan mas, nanti kalau ada sesuatu yang terjadi saya bisa repot. Nanti saya ambilkan bundelannya saja mas, saya simpan di dalam tas.”
Karena tidak diperbolehkan membuka isi bungkusan tersebut terpaksa penulis menurut. Setelah Roman mengembalikan kardus ke tempatnya semula, kami kemudian berpindah tempat ke ruang depan. Roman kemudian menunjukkan setumpuk bundelan (pita kertas yang biasa digunakan untuk mengikat uang di bank). Lak-lakan itu memang nampak asli, lengkap dengan tulisan serta logo Bank Rakyat Indonesia dan jumlah uang dengan nominal 10 juta rupiah.
“Total lak-lakan ini ada 530 mas, tinggal dihitung saja, kalikan 10 juta, itu jumlah uang seluruhnya. Karena itulah kami sangat bersemangat untuk menuntaskan ritual terkahir ini. Tolong bantu pinjamannya ya
mas,” kata Roman menerangkan sambil tetap berusaha merayuku.
Sambil tersenyum penulis berkata, ”Kamu kenal dengan Bu Dewi kan?”
“Bu Dewi yang sudah diceraikan suaminya itu mas?”
“Iya, kamu tahu kenapa dia diceraikan?” “Katanya sih karena Bu Dewi punya banyak hutang tanpa sepengetahuan suaminya.”
“Betul,” kata penulis tegas. Lalu penulis ceritakan semua yang dialami bu Dewi. Sebenarnya Bu
Dewi itu banyak utang karena tertarik dengan penarikan uang ghaib. Dia dibawa oleh temannya ke satu tempat dan di rumah itu dia ditunjukkan uang sekamar penuh. Sekamar penuh Man, bukan hanya 4 kardus. Kata pemilik rumah yang ternyata dukun itu, dia baru bisa diperbolehkan menggunakan uang kalau ada yang sanggup menyediakan persyaratan yang harganya selangit.
Melihat uang sebanyak itu siapa yang tidak tertarik? Akhirnya Bu Dewi membiayai seluruh proses ritual bahkan sampai menggadaikan innovanya. Namun berkali- kali ritual, berkali-kali pula alasan yang dikemukakan sang dukun yang mengatakan bahwa uang itu belum bisa digunakan. Saking jengkelnya, Bu Dewi kemudian mengajak temannya yang seorang tentara untuk menemui sang dukun.
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku bahwa sebenarnya memang uang itu tidak ada, waktu Bu Dewi melihat kamar itu penuh uang, itu hanya halusinasi Bu Dewi saja yang memang sengaja dibuat oleh sang dukun.
Bu Dewi sangat marah dan terpukul mendengar pengakuan sang dukun, padahal dia sudah berhutang kesana kemari untuk biaya ritual. Saking marahnya, Bu Dewi meminta temannya menghadiahkan timah panas di kaki sang dukun. Sang dukun diam saja, ketakutan dan kesakitan merasakan tembakan di kakinya. Aku mendengar ceritera itu langsung dari sang tentara temannya Bu Dewi itu. Namanya Pak Granat, dia sangat akrab denganku karena beberapa kali aku pernah minta bantuannya. Mendengar cerita itu, Roman terdiam. Sejenak kemudian dia berkata, “Baiklah mas, ini ritual terakhir yang akan saya ikuti, kalau sampai dalam ritual kali ini pun kami belum bisa menggunakan uang tersebut, aku akan berhenti. Kalau Pak Nanang dan Pak Didin aku tidak tahu.”
Penulis sangat gembira mendengar
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku…
keputusan Roman, “Syukurlah kalau begitu, kamu percaya saja sama mas mu ini, harta dan kekayaan yang sifatnya ghaib itu tidak mungkin didapatkan secara gratisan, pasti meminta tumbal. Jadi jangan pernah mau melakukan itu karena itu perbuatan yang dilaknat Allah.”
Seminggu kemudian penulis mendapat kabar dari Roman yang mengatakan bahwa Pak Nanang berhasil mendapatkan pinjaman uang untuk ritual. Setelah selesai mereka malah mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak, tapi tetap saja belum boleh digunakan karena harus dirituali lagi. Kali ini Mbah Anu meminta ritual dilaksanakan di pulau terpencil di salah satu kepulauan seribu.
Bisa terbayang berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sesuai dengan komitmennya kepada penulis, Roman mundur dari kelompok tersebut. Sekarang dia terpaksa mencicil uang kantor yang terlanjur dipakai karena Pak Nanang dan kelompoknya belum bisa mengembalikan uang itu. Roman hanya dijanjikan kalau ritual tersebut selesai semua uangnya akan dikembalikan utuh. Sampai penulis pindah domisili ke Yogya, sekitar setahun setelah Roman CS mengadakan ritual, penulis tidak pernah lagi mendengar kabar tentang keberhasilan penarikan uang tersebut. Istri Romanlah yang membuat penulis yakin bahwa ritual belum selesai karena tiap bulan dia menerima gaji dari suaminya dalam jumlah pas-pasan. Artinya gaji Roman sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan farmasi besar terus dipotong untuk membayar utang-utangnya. Kalau ritual tersebut berhasil, bukankah Roman akan menerima uangnya kembali dan dia bisa mengembalikan uang kantor secepatnya sehingga tidak perlu mencicil lagi ke perusahaan?
“Oh iya mas, perkenalkan ini temanku, Pak Nanang, beliau sehari-hari mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Kalau yang itu Pak Didin, kontraktor.” Kata Roman, adik sepupu penulis, memperkenalkan teman-temannya. Kami pun bersalaman sambil mengucapkan nama masing-masing.
“Lama juga kamu tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar istri dan anak-anak?” Kataku memulai pembicaraan.
“Baik-baik saja mas, hanya kantong saja yang tidak pernah baik,” jawab Roman setengah bergurau.
“Lho, kamu baru saja diangkat jadi supervisor kan? Itu mobil dinasmu saja baru. Masa kantong gak bertambah tebal, takut diminta ya?” Kataku membalas gurauannya.
“Ngomong-ngomong, tumben malam- malam berkunjung tanpa telpon dulu, pake bawa pengawal lagi. Ada apa nich?” Tanyaku kemudian.
Roman melirik teman-temannya dulu sebelum menjawab pertanyaanku. ”Iya mas, aku dan temen-temen ada perlu,
Aku melihat uang yang jumlahnya bukan kepalang, sekamar penuh. Tapi rupanya itu hanya ilusi, permainan sihir yang membutakan mau pinjam uang. Ini Pak Nanang bawa sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Untuk lebih jelasnya biar Pak Nanang yang
mata dan hatiku. Nyatanya hingga aku sengsara pun uang itu tak bisa digunakan sama sekali…
menjelaskan.
Aku melirik ke arah Pak Nanang yang mulai berbicara. ”Begini mas, sebenarnya kami ke sini bukan untuk meminjam uang, tapi mau mengajak kerjasama. Tapi kalau mas tidak mau bekerja sama, ya alternatif terakhir kami memang mau pinjam uang saja.”
Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan pembuka Pak Nanang. “Bisa dijelaskan kerjasama apa pak?” Tanyaku penasaran. Mulailah Pak Nanang menceritakan pengalaman beliau dan kelompoknya.
Kurang lebih tiga bulan lalu, Pak Nanang dikenalkan oleh salah seorang temannya ke mbah Anu. Mbah Anu ini memiliki keahlian untuk menyedot uang dengan cara gaib. Uang yang diambil adalah uang para pejabat yang disimpan di satu tempat. Para pejabat ini tidak mau menyimpan uangnya di bank karena jumlahnya sangat besar sehingga takut ditelusuri asal-usulnya oleh pihak berwenang.
Sebagai seorang akademisi, Pak Nanang awalnya tidak percaya akan cerita tersebut. Namun ceritanya menjadi lain ketika pada suatu waktu Pak Nanang diajak oleh mbah Anu ke satu tempat di pinggiran Tangerang. Di satu desa terpencil ternyata ada sebuah rumah yang lumayan megah. Sekeliling rumah tersebut dibentengi oleh pagar tembok setinggi kira-kira 2 meter ditambah kawat berduri di atasnya. Di depan gerbang pintu masuk nampak beberapa orang berjaga-jaga.
Dengan tenang Mbah Anu berjalan menemui para penjaga tersebut, dan meminta ijin untuk melongok ke dalam rumah. Seperti yang sudah kenal, para penjaga mempersilahkan Mbah Anu dan Pak Nanang masuk halaman rumah, tapi hanya sampai batas tertentu saja, sebatas bisa melongok ke dalam melalui celah kaca yang terbuka sedikit. Ketika melongok ke dalam rumah, alangkah terkejutnya Pak Nanang karena yang dia lihat, di seluruh ruangan penuh dengan uang ratusan ribu rupiah yang bertumpuk dengan rapi. Uang sebanyak itu berapa milyar atau trilyun? Demikian batin Pak Nanang saat itu.
Dalam perjalanan pulang Mbah Anu bercerita bahwa uang itu milik seorang Jendral. Beberapa kali ada yang mencoba mencuri, tapi semuanya ditemukan telah menjadi mayat dengan mata mendelik seperti ketakutan. Rupanya pengamanan rumah itu diserahkan pada mahluk gaib yang akan membunuh siapa pun yang nekat mencoba mengambil uang tersebut tanpa seijin pemiliknya.
Mbah Anu sanggup meminta uang tersebut kepada para penjaga gaib dengan cara menyogoknya, yaitu memberikan
Sesajen yang mereka sukai. Mbah Anu minta tolong Pak Nanang untuk mencari uang guna membeli sesejen yang dibutuhkan. Berbagai macam buhur yang harganya selangit minta disiapkan. Mbah Anu meyakinkan Pak Nanang untuk tidak ragu dengan harga sesajen yang jumlahnya mencapai 150 juta rupiah karena hasil yang didapat bisa berpuluh bahkan beratus lipat. Karena telah melihat dengan mata kepala sendiri mengenai keberadaan uang itu, Pak Nanang menjadi percaya dan tertarik dengan ajakan Mbah Anu.
Singkat cerita, Pak Nanang berhasil mengajak 6 orang temannya, termasuk Roman, adik sepupu penulis untuk mengadakan ritual pengambilan uang gaib. Mereka kemudian urunan untuk membeli persyaratan yang dibutuhkan. Setelah persyaratan siap semuanya, berangkatlah mereka, 6 orang kelompok Pak Nanang dengan Mbah Anu ditambah 4 orang muridnya, menuju sebuah hotel berbintang di daerah Bandung Utara. Menurut Mbah Anu proses ritual membutuhkan tempat yang luas dan tenang, sehingga hotel berbintang dengan suite roomnya menjadi pilihan yang pas. Bila ritual dilakukan di rumah salah seorang kelompok tersebut, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak baik terhadap penghuni rumah yang lain, demikian kata Mbah Anu. Setelah sampai ruangan hotel, ke empat murid Mbah Anu menata sesaji di tengah ruangan. Tempat tidur, meja, kursi semua dipinggirkan.
“Sekarang mari kita mulai, semua orang harap duduk mengelilingi sesaji. Nanti lampu akan dipadamkan. Pada saat lampu padam tidak boleh ada yang bersuara sedikit pun.” Titah Mbah Anu.
“Nanti kalau ada suara yang jatuh semua harap diam, tidak boleh ada yang bergerak, apalagi mengambil barang yang jatuh tersebut!” Kata Mbah Anu melanjutkan instruksinya.
Dengan rapih mereka duduk mengelilingi sesaji. Dengan isyarat, Mbah Anu menyuruh salah seorang muridnya untuk memadamkan lampu. Suasana kamar menjadi hening dan mencekam. Cahaya yang ada hanya sinar remang-remang, berasal dari pedupaan yang berisi bara api. Mbah Anu mulai membakar madat Turki yang harganya mencapai 25 juta rupiah. Seketika suasana ruangan menjadi semerbak oleh harumnya madat. Suasana menjadi tambah mendirikan bulu roma ketika Mbah Anu membacakan mantra- mantra dan membuka botol minyak wangi Elizabeth Arden serta membakar apel jin Arab.
Sekitar setengah jam mantra dibacakan, tiba-tiba bruuakkk!!! Terdengar suara benda jatuh menimpa sesajen yang ada.
Semua terlonjak kaget. Semua mata dalam ruangan itu tertuju ke arah benda yang jatuh. Dalam keremangan tampaklah sebuah kardus bekas mie instan. Di dalam kardus itu tampak tumpukan uang ratusan ribu rupiah, lengkap dengan bundelnya, sekardus penuh.
Melihat tumpukan uang dalam kardus tersebut, spontan ke enam orang berdiri dan menuju ke tengah ruang, ingin melihat dengan lebih dekat dan lebih jelas lagi. Pada saat salah seorang hampir sampai dan tangannya mau menggapai kardus tersebut, tiba-tiba sesaji beterbangan seperti ada yang melempar. Kelapa muda menghantam perut Roman, bunga setaman menerpa muka beberapa orang. Botol-botol bekas minyak dan buhur juga ikut terbang ada yang menghantam kening, ada yang kena perut, kaki dan bagian tubuh lainnya. Mbah Anu bahkan terhantam pedupaan yang masih berisi bara yang menyala.
Melihat itu, Mbah Anu buru-buru berdiri dan menyalakan lampu ruangan. Keadaan yang semula kacau menjadi tenang kembali, namun sekarang ruangan itu seperti kapal pecah. Semua barang, termasuk uang dalam kardus bertebaran di sana-sini.
“Sudah, diam semua, sekarang bereskan semua barang yang berantakan, tapi ingat, bila kejadian ini tidak ingin terulang lagi jangan ada seorang pun yang berani menyentuh uang itu!” Bentak Mbah Anu dengan suara menggelegar. Maka mulailah mereka membereskan ruangan itu, sementara Mbah Anu mengumpulkan bundel-bundel uang yang tercecer dan memasukannya kembali ke dalam kardus.
Setelah semua beres, mereka duduk kembali mengelilingi kardus tersebut. “Itulah akibatnya kalau kalian tidak mengikuti perintahku. Masih untung diantara kita tidak ada yang terluka parah.” Kata Mbah Anu sambil menepis-nepis bajunya yang terkena bara api.
“Maaf mbah, tadi saya penasaran saja ingin mendekat, soalnya yang lain juga pada mendekat.” Kata Roman sambil mengusap perutnya yang terkena hantaman kelapa muda.
“Iya, tadi siapa sich yang mulai bergerak dulu? Saya juga jadi ikutan,” kata Pak Nanang sambil mengelus-ngelus benjol di jidatnya terkena hantaman botol minyak wangi elizabeth arden.
Mbah Anu melerai pertengkaran diantara mereka. ”Sudah, sekarang jangan ada yang saling menyalakan. Yang penting sekarang kita telah berhasil mendapatkan uang itu.” Kata Mbah Anu sambil menunjuk kardus yang penuh uang.
“Betul Mbah, sekarang bagaimana? Kita bisa membagi uang itu?” Tanya Pak Nanang dengan mata berbinar.
“Belum, sekarang mari kita hitung saja dulu ada berapa uang yang berhasil kita dapatkan.” Kata Mbah Anu sambil mengambil kardus lalu meletakkannya di dekat tempat dia duduk.
Mbah Anu kemudian mengambil satu gepok uang, lalu menunjukkannya pada semua. Uang itu seperti uang baru karena masih ada pita bundelannya. Di bundelan berwarna kuning kecoklatan yang mengikat uang tersebut tertera tulisan Bank Rakyat Indonesia, Rp 10.000.000,00.
“Lihat ini betul-betul uang asli, masih ada ikatannya.” Kata Mbah Anu sambil memberikan uang itu ke Pak Nanang.
Pak Nanang menerima uang itu, lalu mengamatinya. Kemudian uang tersebut berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain, sampai kembali lagi ke tangan Mbah Anu. Mbah Anu kemudian melepaskan bundelan/pita yang mengikat uang tersebut satu persatu. Sementara uangnya ia masukkan kembali ke dalam dus. Setelah dihitung ternyata bundelan uang tersebut berjumlah 132 buah. Semua sumringah karena berarti total uang di dalam kardus itu sebesar 1,32 Milyar rupiah.
Setelah selesai menghitung, Mbah Anu berkata. “Uang ini belum bisa kita pakai. Sebenarnya kalau kalian tadi bersabar, minimal kita akan diberikan 3 kardus. Tapi karena baru satu kardus yang dikirim kalian keburu ribut, mahluk gaib yang tidak mau disogok oleh kita, menjadi tahu dan marah, akibatnya telah kita rasakan tadi. Tadi telah kita hitung bersama jumlah bundelannya yang berarti uang di dalam kardus itu berjumlah satu milayar tiga ratus dua puluh juta rupiah. Kita harus menghitung uang jumlah ini karena di antara kalian berenam, ada tiga orang yang hatinya berniat kurang baik.
Uang itu sampai Jumat depan belum boleh dipakai, masih harus dirituali lagi. Romanlah yang akan membawa dan menjaga uang ini sampai Jumat depan. Kita tenang saja dulu supaya semua betul-betul aman. Kalau kita gunakan uang tersebut sekarang maka paling tidak akan ada satu orang keluarga di antara kalian yang akan diminta sebagai tumbal. Jadi mari kita sabar sebentar, Roman tidak akan mungkin menggunakan uang itu karena kita tahu betul jumlahnya dan kalaupun Roman nekat menggunakan uang tersebut, walaupun hanya selembar, taruhannya adalah nyawa.” Akhirnya pulanglah mereka ke rumah masing-masing dengan harapan besar karena uang sudah mereka pegang. Jumat minggu depannya, mereka kembali melaksanakan ritual di tempat semula. Bedanya kali ini mereka hanya berjumlah tujuh orang karena Mbah Anu datang sendiri tanpa didampingi muridnya.
Sama seperti ritual pertama, kali ini pun mereka menghabiskan dana yang cukup banyak yaitu sebesar 25 juta rupiah sebagai syarat untuk membeli sesaji. Setelah ritual selesai dijalankan, kali ini mereka mendapat tambahan tiga kardus uang lagi sehingga total menjadi 4 kardus yang mereka dapatkan.Tapi alangkah kecewanya mereka karena seperti ritual pertama, kali ini pun uang- uang tersebut belum boleh dipakai. Mbah Anu mengatakan bahwa ghaib yang dimintai bantuannya tetap minta tebusan nyawa karena tiga orang diantara mereka punya hati dan niat jelek. Mbah Anu akhirnya meminta tiga orang yang dianggap berhati jelek untuk mundur dari kelompok tersebut.
Setelah berdebat cukup lama, ketiga orang yang disuruh mundur tersebut bersedia, dengan catatan uang urunan mereka dikembalikan seutuhnya. Akhirnya, Roman, Pak Nanang dan Pak Didin terpaksa mengumpulkan uang dari kantong mereka, karena uang yang di dalam kardus belum boleh dipakai.
Menurut Mbah Anu mereka hanya membutuhkan satu kali ritual lagi supaya uang itu betul-betul bersih dan aman untuk digunakan. Kali ini ritual harus dijalani di sebuah hutan di daerah Jawa Barat.
“Begitulah mas ceritanya.” Kata Pak Nanang sambil menghisap rokoknya dalam- dalam. “Maksud kami datang ke sini mau mengajak kerjasama mas untuk mendanai kebutuhan ritual terakhir, nanti kalau sudah selesai kami kembalikan 5 kali lipatnya.”
Mendengar uraian Pak Nanang tersebut, aku tersenyum. ”Memang berapa uang yang dibutuhkan?” Tanyaku pada Roman.
“Perkiraan kami lumayan besar mas, sekitar 50 jutaan karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 hari sehingga butuh sewa kendaraan, bensin, sewa hotel, makan dan yang terbesar tentu saja biaya sesajen karena harus membeli elizabeth arden lagi,” Jawab Roman.
Pak Didin yang dari tadi diam kemudian menimpali. ”Iya mas, kami sudah kehabisan uang untuk ritual yang lalu dan biaya lain- lain. Kalau perlu pengembaliannya nanti saya tambahin mas, dari jatah saya. Kalau tidak diteruskan juga sayang kan mas, tinggal sekali ritual lagi,” katanya dengan serius.
“Kenapa tidak pinjam ke Bank saja, jaminan kan ada sertifikat, pengembalian juga nanti lebih murah,” kataku memberi usulan.
“Susah mas, prosedurnya itu yang memakan waktu lama mana istri saya juga belum tentu mau menandatangani pinjaman,” jawab Pak Nanang merespon usulku.
Penulis terdiam mendengar jawaban Pak Nanang. Dalam hati, sebenarnya penulis tidak mau bekerjasama apalagi
meminjamkan uang untuk hal yang belum pasti seperti itu. Soalnya bukan apa-apa, berdasarkan pengalaman, sudah berpuluh orang yang tertipu dengan praktek semacam itu. Ujung-ujungnya paranormal menghilang entah ke mana, uang ikut amblas.
“Begini, saya minta maaf sebelumnya. Untuk saat ini saya tidak memiliki uang sebesar itu, kalau 50 ribu sih ada,” kata penulis mencoba berdiplomasi sambil mencairkan suasana.
Roman langsung bereaksi. ”Tolonglah mas, ini kami sudah terlanjur keluar uang terlalu banyak. Bahkan sebagian uang saya pakai adalah uang perusahaan yang harus dikembalikan akhir bulan ini. Kalau sampai ritual terakhir ini tidak dijalankan, bisa-bisa saya dipecat mas. Tolonglah mas,” katanya dengan nada memelas.
Kasihan juga mendengar rengekannya, lalu dengan harapan supaya mereka cepat pergi penulis mencoba memberi harapan. “Begini saja, ritual kan masih seminggu lagi, besok saya akan coba pinjam di koperasi. Kalau uangnya ada, nanti saya pinjamkan atas nama saya dengan jaminan sertifikat tersebut.”
Mendengar itu mereka bertiga nampak seperti lega. ”Trimakasih mas, kalau begitu sertifikatnya disimpan di sini saja, biar besok gampang kalau diperlukan,” kata Pak Nanang.
“Tidak usah pak, sertifikatnya dibawa saja dulu. Nanti kalau diperlukan saya kabari melalui Roman,” jawab penulis.
Akhirnya setelah ngobrol agak panjang, mereka pun berpamitan. Sebelum pulang penulis menitipkan uang untuk anak-anak Roman. “Man, ini untuk jajan anak-anak. Awas harus sampai ke anak-anak, jangan untuk keperluan ritual-ritualan. Kalau perlu ya ambilah sebagian, untuk beli pulsa!” Pesan penulis pada Roman.
“Trimakasih mas, pasti saya sampaikan buat anak-anak, soalnya takut kualat,” kata Roman sambil menerima uang titipanku.
Esok harinya penulis menelpon Roman dan meminta maaf padanya dengan mengatakan bahwa uang di koperasi lagi kosong jadi tidak bisa memberikan pinjaman. Ditelpon, Roman tetap merengek- rengek minta bantuan. Dengan tegas penulis tetap menolaknya, dengan mengatakan bahwa kasus seperti itu banyak terjadi, tapi penulis belum pernah menemui orang yang bisa menikmati hasilnya. Walaupun uang atau benda tersebut sudah berwujud, biasanya sang paranormal selalu mengatakan belum bisa dipakai dengan alasan bermacam-macam.
Yang terjadi adalah ritual terus menerus dan itu artinya memerlukan biaya yang terus menerus pula. Penulis bahkan kenal
Seorang ibu yang mobilnya digadaikan dan akhirnya diceraikan oleh suaminya karena inovanya hilang, hasilnya nol, sang paranormal berikut kelompoknya raib entah ke mana.
Penjelasanku membuat Roman penasaran sehingga dia minta untuk bertemu. Sore harinya kami bertemu di rumah Roman, sekalian ingin melihat kardus yang katanya berisi uang itu.
“Mari mas kita ke kamar belakang saja, di sana saya menyimpan kardus-kardus itu.” Kata Roman begitu aku sampai di rumahnya. Kami berdua menuju ke kamar belakang, setelah pintu dibuka, nampak keadaan kamar tersebut gelap gulita.
“Mbah Anu melarang menyalakan lampu kamar ini selama kardus disimpan di sini mas,” kata Roman.
“Kenapa?” Tanya penulis penasaran. “Tidak tahu ya mas, yang jelas sejak kardus-kardus itu disimpan di sini, beberapa kali istriku mendengar suara-suara aneh dari kamar ini. Lalu si Alfin, anakku yang paling kecil sering sekali mengatakan melihat orang tinggi besar berdiri di depan pintu kamar,” terang Roman.
“Lalu bagaimana aku bisa melihat kardus-kardus itu, lha wong kamarnya saja gelap begitu?” Tanyaku padanya.
“Gampang mas, nanti saya ambilkan saja satu atau dua kardus,” kata Roman sambil masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan menenteng kardus yang dibungkus oleh selembar kain putih. Katanya kardus itu dibungkus oleh Mbah Anu dan tidak boleh ada yang membukanya kalau tidak mau ada resiko. Karena penasaran ingin melihat isinya, kemudian penulis bertanya,
“Kamu mengijinkan tidak kalau aku membuka bungkusan kardus itu dan melihat isinya?.”
Roman buru-buru menjawab, ”Jangan mas, nanti kalau ada sesuatu yang terjadi saya bisa repot. Nanti saya ambilkan bundelannya saja mas, saya simpan di dalam tas.”
Karena tidak diperbolehkan membuka isi bungkusan tersebut terpaksa penulis menurut. Setelah Roman mengembalikan kardus ke tempatnya semula, kami kemudian berpindah tempat ke ruang depan. Roman kemudian menunjukkan setumpuk bundelan (pita kertas yang biasa digunakan untuk mengikat uang di bank). Lak-lakan itu memang nampak asli, lengkap dengan tulisan serta logo Bank Rakyat Indonesia dan jumlah uang dengan nominal 10 juta rupiah.
“Total lak-lakan ini ada 530 mas, tinggal dihitung saja, kalikan 10 juta, itu jumlah uang seluruhnya. Karena itulah kami sangat bersemangat untuk menuntaskan ritual terkahir ini. Tolong bantu pinjamannya ya
mas,” kata Roman menerangkan sambil tetap berusaha merayuku.
Sambil tersenyum penulis berkata, ”Kamu kenal dengan Bu Dewi kan?”
“Bu Dewi yang sudah diceraikan suaminya itu mas?”
“Iya, kamu tahu kenapa dia diceraikan?” “Katanya sih karena Bu Dewi punya banyak hutang tanpa sepengetahuan suaminya.”
“Betul,” kata penulis tegas. Lalu penulis ceritakan semua yang dialami bu Dewi. Sebenarnya Bu
Dewi itu banyak utang karena tertarik dengan penarikan uang ghaib. Dia dibawa oleh temannya ke satu tempat dan di rumah itu dia ditunjukkan uang sekamar penuh. Sekamar penuh Man, bukan hanya 4 kardus. Kata pemilik rumah yang ternyata dukun itu, dia baru bisa diperbolehkan menggunakan uang kalau ada yang sanggup menyediakan persyaratan yang harganya selangit.
Melihat uang sebanyak itu siapa yang tidak tertarik? Akhirnya Bu Dewi membiayai seluruh proses ritual bahkan sampai menggadaikan innovanya. Namun berkali- kali ritual, berkali-kali pula alasan yang dikemukakan sang dukun yang mengatakan bahwa uang itu belum bisa digunakan. Saking jengkelnya, Bu Dewi kemudian mengajak temannya yang seorang tentara untuk menemui sang dukun.
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku bahwa sebenarnya memang uang itu tidak ada, waktu Bu Dewi melihat kamar itu penuh uang, itu hanya halusinasi Bu Dewi saja yang memang sengaja dibuat oleh sang dukun.
Bu Dewi sangat marah dan terpukul mendengar pengakuan sang dukun, padahal dia sudah berhutang kesana kemari untuk biaya ritual. Saking marahnya, Bu Dewi meminta temannya menghadiahkan timah panas di kaki sang dukun. Sang dukun diam saja, ketakutan dan kesakitan merasakan tembakan di kakinya. Aku mendengar ceritera itu langsung dari sang tentara temannya Bu Dewi itu. Namanya Pak Granat, dia sangat akrab denganku karena beberapa kali aku pernah minta bantuannya. Mendengar cerita itu, Roman terdiam. Sejenak kemudian dia berkata, “Baiklah mas, ini ritual terakhir yang akan saya ikuti, kalau sampai dalam ritual kali ini pun kami belum bisa menggunakan uang tersebut, aku akan berhenti. Kalau Pak Nanang dan Pak Didin aku tidak tahu.”
Penulis sangat gembira mendengar
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku…
keputusan Roman, “Syukurlah kalau begitu, kamu percaya saja sama mas mu ini, harta dan kekayaan yang sifatnya ghaib itu tidak mungkin didapatkan secara gratisan, pasti meminta tumbal. Jadi jangan pernah mau melakukan itu karena itu perbuatan yang dilaknat Allah.”
Seminggu kemudian penulis mendapat kabar dari Roman yang mengatakan bahwa Pak Nanang berhasil mendapatkan pinjaman uang untuk ritual. Setelah selesai mereka malah mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak, tapi tetap saja belum boleh digunakan karena harus dirituali lagi. Kali ini Mbah Anu meminta ritual dilaksanakan di pulau terpencil di salah satu kepulauan seribu.
Bisa terbayang berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sesuai dengan komitmennya kepada penulis, Roman mundur dari kelompok tersebut. Sekarang dia terpaksa mencicil uang kantor yang terlanjur dipakai karena Pak Nanang dan kelompoknya belum bisa mengembalikan uang itu. Roman hanya dijanjikan kalau ritual tersebut selesai semua uangnya akan dikembalikan utuh. Sampai penulis pindah domisili ke Yogya, sekitar setahun setelah Roman CS mengadakan ritual, penulis tidak pernah lagi mendengar kabar tentang keberhasilan penarikan uang tersebut. Istri Romanlah yang membuat penulis yakin bahwa ritual belum selesai karena tiap bulan dia menerima gaji dari suaminya dalam jumlah pas-pasan. Artinya gaji Roman sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan farmasi besar terus dipotong untuk membayar utang-utangnya. Kalau ritual tersebut berhasil, bukankah Roman akan menerima uangnya kembali dan dia bisa mengembalikan uang kantor secepatnya sehingga tidak perlu mencicil lagi ke perusahaan?
Subscribe to:
Comments (Atom)
