Cerita Misteri - Sore itu penulis kedatangan tiga orang tamu, orang pertama bukan orang asing karena ia adalah saudara sepupu penulis. Sementara dua orang laki-laki yang datang bersamanya penulis merasa belum kenal. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, kami ngobrol di teras rumah.
“Oh iya mas, perkenalkan ini temanku, Pak Nanang, beliau sehari-hari mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Kalau yang itu Pak Didin, kontraktor.” Kata Roman, adik sepupu penulis, memperkenalkan teman-temannya. Kami pun bersalaman sambil mengucapkan nama masing-masing.
“Lama juga kamu tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar istri dan anak-anak?” Kataku memulai pembicaraan.
“Baik-baik saja mas, hanya kantong saja yang tidak pernah baik,” jawab Roman setengah bergurau.
“Lho, kamu baru saja diangkat jadi supervisor kan? Itu mobil dinasmu saja baru. Masa kantong gak bertambah tebal, takut diminta ya?” Kataku membalas gurauannya.
“Ngomong-ngomong, tumben malam- malam berkunjung tanpa telpon dulu, pake bawa pengawal lagi. Ada apa nich?” Tanyaku kemudian.
Roman melirik teman-temannya dulu sebelum menjawab pertanyaanku. ”Iya mas, aku dan temen-temen ada perlu,
Aku melihat uang yang jumlahnya bukan kepalang, sekamar penuh. Tapi rupanya itu hanya ilusi, permainan sihir yang membutakan mau pinjam uang. Ini Pak Nanang bawa sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Untuk lebih jelasnya biar Pak Nanang yang
mata dan hatiku. Nyatanya hingga aku sengsara pun uang itu tak bisa digunakan sama sekali…
menjelaskan.
Aku melirik ke arah Pak Nanang yang mulai berbicara. ”Begini mas, sebenarnya kami ke sini bukan untuk meminjam uang, tapi mau mengajak kerjasama. Tapi kalau mas tidak mau bekerja sama, ya alternatif terakhir kami memang mau pinjam uang saja.”
Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan pembuka Pak Nanang. “Bisa dijelaskan kerjasama apa pak?” Tanyaku penasaran. Mulailah Pak Nanang menceritakan pengalaman beliau dan kelompoknya.
Kurang lebih tiga bulan lalu, Pak Nanang dikenalkan oleh salah seorang temannya ke mbah Anu. Mbah Anu ini memiliki keahlian untuk menyedot uang dengan cara gaib. Uang yang diambil adalah uang para pejabat yang disimpan di satu tempat. Para pejabat ini tidak mau menyimpan uangnya di bank karena jumlahnya sangat besar sehingga takut ditelusuri asal-usulnya oleh pihak berwenang.
Sebagai seorang akademisi, Pak Nanang awalnya tidak percaya akan cerita tersebut. Namun ceritanya menjadi lain ketika pada suatu waktu Pak Nanang diajak oleh mbah Anu ke satu tempat di pinggiran Tangerang. Di satu desa terpencil ternyata ada sebuah rumah yang lumayan megah. Sekeliling rumah tersebut dibentengi oleh pagar tembok setinggi kira-kira 2 meter ditambah kawat berduri di atasnya. Di depan gerbang pintu masuk nampak beberapa orang berjaga-jaga.
Dengan tenang Mbah Anu berjalan menemui para penjaga tersebut, dan meminta ijin untuk melongok ke dalam rumah. Seperti yang sudah kenal, para penjaga mempersilahkan Mbah Anu dan Pak Nanang masuk halaman rumah, tapi hanya sampai batas tertentu saja, sebatas bisa melongok ke dalam melalui celah kaca yang terbuka sedikit. Ketika melongok ke dalam rumah, alangkah terkejutnya Pak Nanang karena yang dia lihat, di seluruh ruangan penuh dengan uang ratusan ribu rupiah yang bertumpuk dengan rapi. Uang sebanyak itu berapa milyar atau trilyun? Demikian batin Pak Nanang saat itu.
Dalam perjalanan pulang Mbah Anu bercerita bahwa uang itu milik seorang Jendral. Beberapa kali ada yang mencoba mencuri, tapi semuanya ditemukan telah menjadi mayat dengan mata mendelik seperti ketakutan. Rupanya pengamanan rumah itu diserahkan pada mahluk gaib yang akan membunuh siapa pun yang nekat mencoba mengambil uang tersebut tanpa seijin pemiliknya.
Mbah Anu sanggup meminta uang tersebut kepada para penjaga gaib dengan cara menyogoknya, yaitu memberikan
Sesajen yang mereka sukai. Mbah Anu minta tolong Pak Nanang untuk mencari uang guna membeli sesejen yang dibutuhkan. Berbagai macam buhur yang harganya selangit minta disiapkan. Mbah Anu meyakinkan Pak Nanang untuk tidak ragu dengan harga sesajen yang jumlahnya mencapai 150 juta rupiah karena hasil yang didapat bisa berpuluh bahkan beratus lipat. Karena telah melihat dengan mata kepala sendiri mengenai keberadaan uang itu, Pak Nanang menjadi percaya dan tertarik dengan ajakan Mbah Anu.
Singkat cerita, Pak Nanang berhasil mengajak 6 orang temannya, termasuk Roman, adik sepupu penulis untuk mengadakan ritual pengambilan uang gaib. Mereka kemudian urunan untuk membeli persyaratan yang dibutuhkan. Setelah persyaratan siap semuanya, berangkatlah mereka, 6 orang kelompok Pak Nanang dengan Mbah Anu ditambah 4 orang muridnya, menuju sebuah hotel berbintang di daerah Bandung Utara. Menurut Mbah Anu proses ritual membutuhkan tempat yang luas dan tenang, sehingga hotel berbintang dengan suite roomnya menjadi pilihan yang pas. Bila ritual dilakukan di rumah salah seorang kelompok tersebut, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak baik terhadap penghuni rumah yang lain, demikian kata Mbah Anu. Setelah sampai ruangan hotel, ke empat murid Mbah Anu menata sesaji di tengah ruangan. Tempat tidur, meja, kursi semua dipinggirkan.
“Sekarang mari kita mulai, semua orang harap duduk mengelilingi sesaji. Nanti lampu akan dipadamkan. Pada saat lampu padam tidak boleh ada yang bersuara sedikit pun.” Titah Mbah Anu.
“Nanti kalau ada suara yang jatuh semua harap diam, tidak boleh ada yang bergerak, apalagi mengambil barang yang jatuh tersebut!” Kata Mbah Anu melanjutkan instruksinya.
Dengan rapih mereka duduk mengelilingi sesaji. Dengan isyarat, Mbah Anu menyuruh salah seorang muridnya untuk memadamkan lampu. Suasana kamar menjadi hening dan mencekam. Cahaya yang ada hanya sinar remang-remang, berasal dari pedupaan yang berisi bara api. Mbah Anu mulai membakar madat Turki yang harganya mencapai 25 juta rupiah. Seketika suasana ruangan menjadi semerbak oleh harumnya madat. Suasana menjadi tambah mendirikan bulu roma ketika Mbah Anu membacakan mantra- mantra dan membuka botol minyak wangi Elizabeth Arden serta membakar apel jin Arab.
Sekitar setengah jam mantra dibacakan, tiba-tiba bruuakkk!!! Terdengar suara benda jatuh menimpa sesajen yang ada.
Semua terlonjak kaget. Semua mata dalam ruangan itu tertuju ke arah benda yang jatuh. Dalam keremangan tampaklah sebuah kardus bekas mie instan. Di dalam kardus itu tampak tumpukan uang ratusan ribu rupiah, lengkap dengan bundelnya, sekardus penuh.
Melihat tumpukan uang dalam kardus tersebut, spontan ke enam orang berdiri dan menuju ke tengah ruang, ingin melihat dengan lebih dekat dan lebih jelas lagi. Pada saat salah seorang hampir sampai dan tangannya mau menggapai kardus tersebut, tiba-tiba sesaji beterbangan seperti ada yang melempar. Kelapa muda menghantam perut Roman, bunga setaman menerpa muka beberapa orang. Botol-botol bekas minyak dan buhur juga ikut terbang ada yang menghantam kening, ada yang kena perut, kaki dan bagian tubuh lainnya. Mbah Anu bahkan terhantam pedupaan yang masih berisi bara yang menyala.
Melihat itu, Mbah Anu buru-buru berdiri dan menyalakan lampu ruangan. Keadaan yang semula kacau menjadi tenang kembali, namun sekarang ruangan itu seperti kapal pecah. Semua barang, termasuk uang dalam kardus bertebaran di sana-sini.
“Sudah, diam semua, sekarang bereskan semua barang yang berantakan, tapi ingat, bila kejadian ini tidak ingin terulang lagi jangan ada seorang pun yang berani menyentuh uang itu!” Bentak Mbah Anu dengan suara menggelegar. Maka mulailah mereka membereskan ruangan itu, sementara Mbah Anu mengumpulkan bundel-bundel uang yang tercecer dan memasukannya kembali ke dalam kardus.
Setelah semua beres, mereka duduk kembali mengelilingi kardus tersebut. “Itulah akibatnya kalau kalian tidak mengikuti perintahku. Masih untung diantara kita tidak ada yang terluka parah.” Kata Mbah Anu sambil menepis-nepis bajunya yang terkena bara api.
“Maaf mbah, tadi saya penasaran saja ingin mendekat, soalnya yang lain juga pada mendekat.” Kata Roman sambil mengusap perutnya yang terkena hantaman kelapa muda.
“Iya, tadi siapa sich yang mulai bergerak dulu? Saya juga jadi ikutan,” kata Pak Nanang sambil mengelus-ngelus benjol di jidatnya terkena hantaman botol minyak wangi elizabeth arden.
Mbah Anu melerai pertengkaran diantara mereka. ”Sudah, sekarang jangan ada yang saling menyalakan. Yang penting sekarang kita telah berhasil mendapatkan uang itu.” Kata Mbah Anu sambil menunjuk kardus yang penuh uang.
“Betul Mbah, sekarang bagaimana? Kita bisa membagi uang itu?” Tanya Pak Nanang dengan mata berbinar.
“Belum, sekarang mari kita hitung saja dulu ada berapa uang yang berhasil kita dapatkan.” Kata Mbah Anu sambil mengambil kardus lalu meletakkannya di dekat tempat dia duduk.
Mbah Anu kemudian mengambil satu gepok uang, lalu menunjukkannya pada semua. Uang itu seperti uang baru karena masih ada pita bundelannya. Di bundelan berwarna kuning kecoklatan yang mengikat uang tersebut tertera tulisan Bank Rakyat Indonesia, Rp 10.000.000,00.
“Lihat ini betul-betul uang asli, masih ada ikatannya.” Kata Mbah Anu sambil memberikan uang itu ke Pak Nanang.
Pak Nanang menerima uang itu, lalu mengamatinya. Kemudian uang tersebut berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain, sampai kembali lagi ke tangan Mbah Anu. Mbah Anu kemudian melepaskan bundelan/pita yang mengikat uang tersebut satu persatu. Sementara uangnya ia masukkan kembali ke dalam dus. Setelah dihitung ternyata bundelan uang tersebut berjumlah 132 buah. Semua sumringah karena berarti total uang di dalam kardus itu sebesar 1,32 Milyar rupiah.
Setelah selesai menghitung, Mbah Anu berkata. “Uang ini belum bisa kita pakai. Sebenarnya kalau kalian tadi bersabar, minimal kita akan diberikan 3 kardus. Tapi karena baru satu kardus yang dikirim kalian keburu ribut, mahluk gaib yang tidak mau disogok oleh kita, menjadi tahu dan marah, akibatnya telah kita rasakan tadi. Tadi telah kita hitung bersama jumlah bundelannya yang berarti uang di dalam kardus itu berjumlah satu milayar tiga ratus dua puluh juta rupiah. Kita harus menghitung uang jumlah ini karena di antara kalian berenam, ada tiga orang yang hatinya berniat kurang baik.
Uang itu sampai Jumat depan belum boleh dipakai, masih harus dirituali lagi. Romanlah yang akan membawa dan menjaga uang ini sampai Jumat depan. Kita tenang saja dulu supaya semua betul-betul aman. Kalau kita gunakan uang tersebut sekarang maka paling tidak akan ada satu orang keluarga di antara kalian yang akan diminta sebagai tumbal. Jadi mari kita sabar sebentar, Roman tidak akan mungkin menggunakan uang itu karena kita tahu betul jumlahnya dan kalaupun Roman nekat menggunakan uang tersebut, walaupun hanya selembar, taruhannya adalah nyawa.” Akhirnya pulanglah mereka ke rumah masing-masing dengan harapan besar karena uang sudah mereka pegang. Jumat minggu depannya, mereka kembali melaksanakan ritual di tempat semula. Bedanya kali ini mereka hanya berjumlah tujuh orang karena Mbah Anu datang sendiri tanpa didampingi muridnya.
Sama seperti ritual pertama, kali ini pun mereka menghabiskan dana yang cukup banyak yaitu sebesar 25 juta rupiah sebagai syarat untuk membeli sesaji. Setelah ritual selesai dijalankan, kali ini mereka mendapat tambahan tiga kardus uang lagi sehingga total menjadi 4 kardus yang mereka dapatkan.Tapi alangkah kecewanya mereka karena seperti ritual pertama, kali ini pun uang- uang tersebut belum boleh dipakai. Mbah Anu mengatakan bahwa ghaib yang dimintai bantuannya tetap minta tebusan nyawa karena tiga orang diantara mereka punya hati dan niat jelek. Mbah Anu akhirnya meminta tiga orang yang dianggap berhati jelek untuk mundur dari kelompok tersebut.
Setelah berdebat cukup lama, ketiga orang yang disuruh mundur tersebut bersedia, dengan catatan uang urunan mereka dikembalikan seutuhnya. Akhirnya, Roman, Pak Nanang dan Pak Didin terpaksa mengumpulkan uang dari kantong mereka, karena uang yang di dalam kardus belum boleh dipakai.
Menurut Mbah Anu mereka hanya membutuhkan satu kali ritual lagi supaya uang itu betul-betul bersih dan aman untuk digunakan. Kali ini ritual harus dijalani di sebuah hutan di daerah Jawa Barat.
“Begitulah mas ceritanya.” Kata Pak Nanang sambil menghisap rokoknya dalam- dalam. “Maksud kami datang ke sini mau mengajak kerjasama mas untuk mendanai kebutuhan ritual terakhir, nanti kalau sudah selesai kami kembalikan 5 kali lipatnya.”
Mendengar uraian Pak Nanang tersebut, aku tersenyum. ”Memang berapa uang yang dibutuhkan?” Tanyaku pada Roman.
“Perkiraan kami lumayan besar mas, sekitar 50 jutaan karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 hari sehingga butuh sewa kendaraan, bensin, sewa hotel, makan dan yang terbesar tentu saja biaya sesajen karena harus membeli elizabeth arden lagi,” Jawab Roman.
Pak Didin yang dari tadi diam kemudian menimpali. ”Iya mas, kami sudah kehabisan uang untuk ritual yang lalu dan biaya lain- lain. Kalau perlu pengembaliannya nanti saya tambahin mas, dari jatah saya. Kalau tidak diteruskan juga sayang kan mas, tinggal sekali ritual lagi,” katanya dengan serius.
“Kenapa tidak pinjam ke Bank saja, jaminan kan ada sertifikat, pengembalian juga nanti lebih murah,” kataku memberi usulan.
“Susah mas, prosedurnya itu yang memakan waktu lama mana istri saya juga belum tentu mau menandatangani pinjaman,” jawab Pak Nanang merespon usulku.
Penulis terdiam mendengar jawaban Pak Nanang. Dalam hati, sebenarnya penulis tidak mau bekerjasama apalagi
meminjamkan uang untuk hal yang belum pasti seperti itu. Soalnya bukan apa-apa, berdasarkan pengalaman, sudah berpuluh orang yang tertipu dengan praktek semacam itu. Ujung-ujungnya paranormal menghilang entah ke mana, uang ikut amblas.
“Begini, saya minta maaf sebelumnya. Untuk saat ini saya tidak memiliki uang sebesar itu, kalau 50 ribu sih ada,” kata penulis mencoba berdiplomasi sambil mencairkan suasana.
Roman langsung bereaksi. ”Tolonglah mas, ini kami sudah terlanjur keluar uang terlalu banyak. Bahkan sebagian uang saya pakai adalah uang perusahaan yang harus dikembalikan akhir bulan ini. Kalau sampai ritual terakhir ini tidak dijalankan, bisa-bisa saya dipecat mas. Tolonglah mas,” katanya dengan nada memelas.
Kasihan juga mendengar rengekannya, lalu dengan harapan supaya mereka cepat pergi penulis mencoba memberi harapan. “Begini saja, ritual kan masih seminggu lagi, besok saya akan coba pinjam di koperasi. Kalau uangnya ada, nanti saya pinjamkan atas nama saya dengan jaminan sertifikat tersebut.”
Mendengar itu mereka bertiga nampak seperti lega. ”Trimakasih mas, kalau begitu sertifikatnya disimpan di sini saja, biar besok gampang kalau diperlukan,” kata Pak Nanang.
“Tidak usah pak, sertifikatnya dibawa saja dulu. Nanti kalau diperlukan saya kabari melalui Roman,” jawab penulis.
Akhirnya setelah ngobrol agak panjang, mereka pun berpamitan. Sebelum pulang penulis menitipkan uang untuk anak-anak Roman. “Man, ini untuk jajan anak-anak. Awas harus sampai ke anak-anak, jangan untuk keperluan ritual-ritualan. Kalau perlu ya ambilah sebagian, untuk beli pulsa!” Pesan penulis pada Roman.
“Trimakasih mas, pasti saya sampaikan buat anak-anak, soalnya takut kualat,” kata Roman sambil menerima uang titipanku.
Esok harinya penulis menelpon Roman dan meminta maaf padanya dengan mengatakan bahwa uang di koperasi lagi kosong jadi tidak bisa memberikan pinjaman. Ditelpon, Roman tetap merengek- rengek minta bantuan. Dengan tegas penulis tetap menolaknya, dengan mengatakan bahwa kasus seperti itu banyak terjadi, tapi penulis belum pernah menemui orang yang bisa menikmati hasilnya. Walaupun uang atau benda tersebut sudah berwujud, biasanya sang paranormal selalu mengatakan belum bisa dipakai dengan alasan bermacam-macam.
Yang terjadi adalah ritual terus menerus dan itu artinya memerlukan biaya yang terus menerus pula. Penulis bahkan kenal
Seorang ibu yang mobilnya digadaikan dan akhirnya diceraikan oleh suaminya karena inovanya hilang, hasilnya nol, sang paranormal berikut kelompoknya raib entah ke mana.
Penjelasanku membuat Roman penasaran sehingga dia minta untuk bertemu. Sore harinya kami bertemu di rumah Roman, sekalian ingin melihat kardus yang katanya berisi uang itu.
“Mari mas kita ke kamar belakang saja, di sana saya menyimpan kardus-kardus itu.” Kata Roman begitu aku sampai di rumahnya. Kami berdua menuju ke kamar belakang, setelah pintu dibuka, nampak keadaan kamar tersebut gelap gulita.
“Mbah Anu melarang menyalakan lampu kamar ini selama kardus disimpan di sini mas,” kata Roman.
“Kenapa?” Tanya penulis penasaran. “Tidak tahu ya mas, yang jelas sejak kardus-kardus itu disimpan di sini, beberapa kali istriku mendengar suara-suara aneh dari kamar ini. Lalu si Alfin, anakku yang paling kecil sering sekali mengatakan melihat orang tinggi besar berdiri di depan pintu kamar,” terang Roman.
“Lalu bagaimana aku bisa melihat kardus-kardus itu, lha wong kamarnya saja gelap begitu?” Tanyaku padanya.
“Gampang mas, nanti saya ambilkan saja satu atau dua kardus,” kata Roman sambil masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan menenteng kardus yang dibungkus oleh selembar kain putih. Katanya kardus itu dibungkus oleh Mbah Anu dan tidak boleh ada yang membukanya kalau tidak mau ada resiko. Karena penasaran ingin melihat isinya, kemudian penulis bertanya,
“Kamu mengijinkan tidak kalau aku membuka bungkusan kardus itu dan melihat isinya?.”
Roman buru-buru menjawab, ”Jangan mas, nanti kalau ada sesuatu yang terjadi saya bisa repot. Nanti saya ambilkan bundelannya saja mas, saya simpan di dalam tas.”
Karena tidak diperbolehkan membuka isi bungkusan tersebut terpaksa penulis menurut. Setelah Roman mengembalikan kardus ke tempatnya semula, kami kemudian berpindah tempat ke ruang depan. Roman kemudian menunjukkan setumpuk bundelan (pita kertas yang biasa digunakan untuk mengikat uang di bank). Lak-lakan itu memang nampak asli, lengkap dengan tulisan serta logo Bank Rakyat Indonesia dan jumlah uang dengan nominal 10 juta rupiah.
“Total lak-lakan ini ada 530 mas, tinggal dihitung saja, kalikan 10 juta, itu jumlah uang seluruhnya. Karena itulah kami sangat bersemangat untuk menuntaskan ritual terkahir ini. Tolong bantu pinjamannya ya
mas,” kata Roman menerangkan sambil tetap berusaha merayuku.
Sambil tersenyum penulis berkata, ”Kamu kenal dengan Bu Dewi kan?”
“Bu Dewi yang sudah diceraikan suaminya itu mas?”
“Iya, kamu tahu kenapa dia diceraikan?” “Katanya sih karena Bu Dewi punya banyak hutang tanpa sepengetahuan suaminya.”
“Betul,” kata penulis tegas. Lalu penulis ceritakan semua yang dialami bu Dewi. Sebenarnya Bu
Dewi itu banyak utang karena tertarik dengan penarikan uang ghaib. Dia dibawa oleh temannya ke satu tempat dan di rumah itu dia ditunjukkan uang sekamar penuh. Sekamar penuh Man, bukan hanya 4 kardus. Kata pemilik rumah yang ternyata dukun itu, dia baru bisa diperbolehkan menggunakan uang kalau ada yang sanggup menyediakan persyaratan yang harganya selangit.
Melihat uang sebanyak itu siapa yang tidak tertarik? Akhirnya Bu Dewi membiayai seluruh proses ritual bahkan sampai menggadaikan innovanya. Namun berkali- kali ritual, berkali-kali pula alasan yang dikemukakan sang dukun yang mengatakan bahwa uang itu belum bisa digunakan. Saking jengkelnya, Bu Dewi kemudian mengajak temannya yang seorang tentara untuk menemui sang dukun.
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku bahwa sebenarnya memang uang itu tidak ada, waktu Bu Dewi melihat kamar itu penuh uang, itu hanya halusinasi Bu Dewi saja yang memang sengaja dibuat oleh sang dukun.
Bu Dewi sangat marah dan terpukul mendengar pengakuan sang dukun, padahal dia sudah berhutang kesana kemari untuk biaya ritual. Saking marahnya, Bu Dewi meminta temannya menghadiahkan timah panas di kaki sang dukun. Sang dukun diam saja, ketakutan dan kesakitan merasakan tembakan di kakinya. Aku mendengar ceritera itu langsung dari sang tentara temannya Bu Dewi itu. Namanya Pak Granat, dia sangat akrab denganku karena beberapa kali aku pernah minta bantuannya. Mendengar cerita itu, Roman terdiam. Sejenak kemudian dia berkata, “Baiklah mas, ini ritual terakhir yang akan saya ikuti, kalau sampai dalam ritual kali ini pun kami belum bisa menggunakan uang tersebut, aku akan berhenti. Kalau Pak Nanang dan Pak Didin aku tidak tahu.”
Penulis sangat gembira mendengar
Oleh tentara itu sang dukun dipaksa membuka kamar tempat di mana pertama kali Bu Dewi melihat uang tersebut. Apa yang terjadi? Kosong Man, di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada satu ranjang reot. Setelah dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, barulah dukun itu mengaku…
keputusan Roman, “Syukurlah kalau begitu, kamu percaya saja sama mas mu ini, harta dan kekayaan yang sifatnya ghaib itu tidak mungkin didapatkan secara gratisan, pasti meminta tumbal. Jadi jangan pernah mau melakukan itu karena itu perbuatan yang dilaknat Allah.”
Seminggu kemudian penulis mendapat kabar dari Roman yang mengatakan bahwa Pak Nanang berhasil mendapatkan pinjaman uang untuk ritual. Setelah selesai mereka malah mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak, tapi tetap saja belum boleh digunakan karena harus dirituali lagi. Kali ini Mbah Anu meminta ritual dilaksanakan di pulau terpencil di salah satu kepulauan seribu.
Bisa terbayang berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sesuai dengan komitmennya kepada penulis, Roman mundur dari kelompok tersebut. Sekarang dia terpaksa mencicil uang kantor yang terlanjur dipakai karena Pak Nanang dan kelompoknya belum bisa mengembalikan uang itu. Roman hanya dijanjikan kalau ritual tersebut selesai semua uangnya akan dikembalikan utuh. Sampai penulis pindah domisili ke Yogya, sekitar setahun setelah Roman CS mengadakan ritual, penulis tidak pernah lagi mendengar kabar tentang keberhasilan penarikan uang tersebut. Istri Romanlah yang membuat penulis yakin bahwa ritual belum selesai karena tiap bulan dia menerima gaji dari suaminya dalam jumlah pas-pasan. Artinya gaji Roman sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan farmasi besar terus dipotong untuk membayar utang-utangnya. Kalau ritual tersebut berhasil, bukankah Roman akan menerima uangnya kembali dan dia bisa mengembalikan uang kantor secepatnya sehingga tidak perlu mencicil lagi ke perusahaan?
No comments:
Post a Comment